Sabtu, 25 Juli 2015

Hujan Bulan Desember

Hujan bulan desember kembali menderu, mengepakkan sayap basah di sepanjang jalanan kota Banda Aceh. Antrian kendaraan dengan klakson yang bersahutan menjadi menu wajib bagi para pengendara beroda. Sesekali terlihat anak kuliahan duduk di haltle dengan mendekap buku di dada, sambil menanti salah satu labi-labi menjemput atau sebagian yang lain justru memilih berjalan kaki. Dan aku termasuk dari golongan yang berjalan kaki saat ini, sebab selain menghemat uang jajan, juga menyegarkan pendengaran dari suara bising tombol yang terdengar dari kendaraan yang berlalu lalang, tiiiittttt…tiiiittttt, poopppp..poooppp. Ah,  sesekali ikut berjalan sehat, kenapa tidak. Lagian jarak antara kost ke kampus hanya 10 menit bila berjalan kaki.

Tiba-tiba, mataku menangkap sosok anak perempuan yang duduk manis di salah satu toko kelontong depan mesjid Fathun Qarib[1]. Saat ingin mendatanginya, azan pun berkumandang. Ini adalah panggilan Rabbku, Tuhan seru sekalian alam. Kuacuhkan pikiran tentang  anak perempuan itu beberapa saat, dan bersegera mendirikan shalat zuhur berjama’ah. 15 menit berlalu, kembali kuarahkan pandang ke seberang jalan, anak itu masih di situ, mungkin orangtua belum datang menjemput. Tak perlu lama, aku sudah di depannya. Aneh, aku tak menemukan gelagat ingin menghindar sama sekali, dia masih tetap di tempat semula tanpa merasa kalau di depannya ada orang lain yang sedang memperhatikannya. Apakah anak ini buta? Pertanyaan tak terkontrol muncul di kepalaku, tanpa menanya lebih dulu, ku goyangkan tangan kananku di depan matanya, dia melihat, tapi anak matanya seolah tak menimbulkan reaksi.

“Assalamu’alaikum, adik manis. Apa kakak boleh gabung?” tanyaku pelan, namun pasti. Kulihat dia sedikit bergeser ke kanan, terlihat wajahnya agak menegang, sangking kagetnya. “Wa’alaikum salam, kakak siapa?” dia justru berbalik tanya. “Pangil kakak, Tunis!” kutuntun tangan mungilnya memegang wajahku, berniat tuk cairkan beku di dirinya. “Kakak berjenggot ya? Wah, pasti kakak ganteng. Kenalkan, kak, saya Muara!” tangan itu pun berpindah di hadapan, dia menyalamiku, layaknya guru besar yang sudah lama tak jumpa. Entah kenapa, melihat kepolosannya, aku kembali teringat dengan adik perempuanku yang telah tiada 10 tahun lalu, tangannya terlepas tepat ketika tsunami menghantam tubuh kami seketika. Dia hanyut terbawa air pekat, sedang aku tersangkut di atas ranting pohong. Bahkan hingga kini, aku tidak menemukan jasadnya, kupercaya, Allah telah memilihkan adikku sebagai salah satu calon bidadari surga kelak. Amien.

“Kakak melamun yah? Kok kakak nangis?” kurasakan lagi, tangan kecil itu memegang wajahku, dia mengusap air mata yang menetes seperti seorang ibu yang menenangkan bayi kecilnya. “Ah, kakak sangat senang kenal dengan Maura, lucu, baik, cantik lagi.” Aku sengaja tak menanggapi pertanyaan itu, sebab tak ingin suasana hujan mendukung sensasi untuk bergalau ria. Kulihat dia tersipu, rona merah muda terpampang jelas di kedua lesung pipinya. Sangat mirip dengan Dindaku. “Pulang kemana dik? Ini ada payung, Maura boleh bawa pulang sementara waktu.” Dia tak berkutik, lagi, tak memberi respon. Lama kami terdiam, hingga akirnya dia bersuara. 


“Maura tinggal di Lingke kak, tapi Maura gak bisa melihat jalan, Maura buta.” Setitik airmata menetes di kerudung putihnya. “Tadi, mamak nelpon, katanya gak bisa jemput Maura, sore ini, mamak ada rapat mendadak di kantor.” Kembali hening. “Ya sudah, jangan nangis, kakak akan mengantarkan Maura pulang ke rumah.” Kutinggalkan dia sesaat, agak menjauh, kurogoh Hp tet tot peninggalan Cina dan menghubungi salah satu kontak di dalamnya. “Akh Ryan, ada di kost gak? Ane di dekat kost ente nih, bisa ketemu tidak? Ok, ok, ane ke sana sekarang.” Tut…tut…tut… obrolan terputus. Setelah permisi ke Maura kecil, segera kutemui Ryan dan memintanya meminjamkan motor barang 15 menit. Beruntung dia tidak ada kuliah siang ini, jadi aku bisa membawanya saat itu juga. “Syukran akh, secepatnya akan ane kembalikan.” Lawan bicaranya hanya tersenyum seraya menepuk pundakku “Sampailah dengan selamat, itu yang terpenting.” Aku membalas senyumnya, setelah memberi salam dan berpamitan, aku segera menemui gadis cilik yang masih menunggu dengan sabarnya.

0 komentar:

Posting Komentar