Rabu, 22 Januari 2020

Laki-laki Pertama

foto by geulgram

Laki-laki pertama yang mengajarkanku segala adalah Ayah.

Dia adalah ayah yang mengenalkan Allah padaku untuk pertama kali saat lahir kedunia
"Asyhaduallailaahaillallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah."

Dia juga ayah yang membimbing aku untuk tidak menyerah pada halhal kecil saat belajar sepeda beroda

Dia juga yang pertama kali gelisah saat aku panas dingin tak kunjung baik

Ayah pula yang berdiri paling depan; menghibur, saat ibu tak henti berbicara

Ayah adalah lakilaki pertama yang mengajarkanku segala

Saat aku hanyut di sungai, ayah dengan segala kekhawatirannya berenang mengejarku yang mulai timbul tenggelam

Ayah pula yang mengajari aku bagaimana menjadi perempuan yang nggak gampang cengeng meski aku masih saja cengeng sampai sekarang

Ayah juga lakilaki pertama yang mengajarkanku cinta. Bagaimana seorang perempuan itu berharga ketika ia menjaga.

Terlalu banyak hal yang kuhabiskan bersama ayah, bahkan berpuluh buku taksanggup memenuhinya.
Namun, aku berterima kasih pada ayah
Karenanya aku bisa menemukan lakilaki yang kan melengkapi kisah seumur hidup

Allah pun kabulkan doaku, diperkenalkan dengan lakilaki lain yang bisa mendampingi ayah jua.

Kotafajar, 22 Januari 2020

Senin, 06 Januari 2020

The Sweet Pinky Boys

Foto by : Kak Rizki

"Minggir dong, minggir dong, minggir dong!
Pasukan pinky boys mau lewat
Jangan dilirik-lirik, nanti jadi tertarik karena cowoknya ganteng-ganteng."

Eits, baca pelan-pelan aja yosh, nggak perlu pakai irama juga kales. Hehe

Well, itu pengalaman pertama aku bawain santri Cahaya Qur'an (Caqur) buat ikut lomba KTI ples rangking 1 agama. Tapi bukan lombanya yang mau aku ceritain, tapi lebih ke dress code yang mereka kenakan.

Pingky ! Yup, benar sekali.

Kalian para pembaca bisa bayangin sendiri para santri yang masih polos, jarang tersentuh asap knalpot karena mereka memang diasramakan, berjalan malu-malu dengan pakaian kebesaran berwarna pink.

Jujur saja, para lelaki setengah tumbuh itu pun bahkan merasakan malu yang amat sangat, meski ada beberapa yang cuek bebek alias masa bodo, sih. Tapi tetap saja, pink bukan identitas mereka, tapi perempuan.

Maka sudah bisa dipastikan, para gegadis di sekolah tersebut mulai heboh nggak jelas, bahkan lebih heboh dari ayam kebakar jenggot. 

"Ih, miss kok mereka pakai pink, kayak cewek." Celutuk salah satu mantan santri saya di sekolah sebelumnya.

"Iya, ms. Memangnya mereka nggak ada baju lain." Lanjut yang di sebelahnya.

Aku hanya tersenyum kecut, dibanding lucu aku sih ngeliat mereka kasian. Tapi ya, mau bagaimana wong baju persatuan mereka satu-satunya ya cuma itu tok.

Lalu, aku kembali berbaur dengan para lelaki pinky. Mereka yang merasa sedikit ganteng malah menutup mata karna malu. 

"Kalau gini beneran hilang ganteng kami, ms." 

Aku tersenyum kali ini bukan karena kasihan, tapi memang lucu.
Gaya mereka ngomong seolah-olah kegantengan mereka benar-benar terkuras habis lantaran baju yang mereka kenakan.

Sampai ada yang bercelutuk di antara kerumunan mereka.

"Ms, kalau gini aku milih tetap di asrama aja. Nggak mau datang." Aku nggak terlalu jelas melihat ekspresinya lantaran muka ditutup pakai tangan. Tapi aku bisa bayangin, tuh muka udah nggak kalah pink dari baju yang dikenakannya.

Dan itulah cerita tentang anak didikku yang memang lelaki semua.

Akhir 2019, untuk kedua kalinya mereka mendapatkan baju baru.
Dan semakin parah ngakak bahkan sampai keluar air mata. 
Tahu kenapa?
Ya, baju persatuan mereka untuk kedua kalinya pun tetap nggak kalah heboh dari seragam sebelumnya, yaitu ORANGE KOTAK-KOTAK.

Sengaja aku tulis huruf kapital, biar para reader nggak sampai kelewatan membacanya.

Salah seorang santri bernama Ikhwan nyeloteh dengan wajah sengaja dibuat sedih biar lebih mendramatisir.

"Ms, kok baju kami orange kotak-kotak?"

"Lah terus, bagus dong. Daripada pink!" 

"Apanya bagus, baju yang kami pakai malah  sama persis kayak baju anak TK."

"What?" 😱 

Dan akupun ngakak sepanjang tahun (2019-2020).

Sekian dan terimakasih

#30haribercerita 
#30hbc2006 
#sajakcahaya 
#januaribercerita 
@30haribercerita

Jumat, 10 Mei 2019

Surat Terbuka Untuk Ibu-Ibu Jamaah Tarawih!



Sumber : goggle.com

Dear ibu-ibu jamaah terawih yang dimuliakan Allah!

Sudah lima malam aku ikut menjadi bagian dari kalian ibu-ibu, sudah lima malam juga aku sedikit kecewa.

Duhai ibu-ibu...

Apakah terlalu berat jika berdiri merapatkan shaf lebih dulu, sebelum memulai takbiratul ikram.

Entah kenapa, aku melihat langsung sajadah besar dan lebar masingmasing satu jamaah. Sajadah yang hanya bisa dipenuhi dua orang dewasa bahkan dipakai untuk sendirisendiri. Hasilnya shaf jarang dan renggang.

Aku kadang ambil inisiatif sendiri untuk merapat ke sisi kanan, tapi sisi sebelah kiri malah tidak bergerak. Sementara jamaah di belakang tak mau maju. Alhasil, berdirilah tuyul dan saudaranya di sebelahku. Kan merinding juga. Kalau digodain aku masih lumayan. Lah, bagaimana pula kalau digodanya satu masjid.  Kasian kita yak! Satu masjid digoda tuyul eh setanitrajim.

Duhai ibu-ibu, dengarlah jerit anak yang nggak pernah dianggap ini. Paling tidak cukup ketika salat saja.

Ah, apalah dayaku cuma bisa ngoceh di sini. Lagian mana ada ibuibu yang mau mampir dan membaca ini tulisan nggak penting mungkin.

Tapi jujur saja, itu semua kulakukan untuk kita lho. Biar salatnya sempurna. Oh diterima atau nggak itu adalah kuasa Allah. Tapi bagaimana mungkin salat kita diterima kalau hal mendasar saja kita tak mau peduli.

Duhai ibu-ibu...
Jika pun mau salat di sajadah untuk diri sendiri, maka bawa saja sajadah kecil muat untuk seorang. Daripada besar, shafnya macam ular melingkar di pagar pak umar, kan.

Oke...
Maaf ibu-ibu kalau aku terlalu lebay
Lagi, itu bukan untuk diriku
Tapi kita semua
Bisakah kita saling pengertian dalam hal ini?
Paling tidak untuk urusan salat, sebagai tiangnya agama.

Sudah, begitu saja.
Aku lebih tenang sekarang!



Selasa, 07 Mei 2019

NGABUBU(I)RIT !



Sebagai perempuan rumahan. Ngabubustreet eh ngabuburit bukan hal yang gimanagimana kali kan ya.

I'm single and happy!
Lah, kok malah nyanyi.
Hehe...

Sorry ya.

Jujur saja, I'am not familiar with this word " Ngabuburit " karena selama ramadan setiap harinya aku selalu di rumah. Kecuali kalau aku tidak di kampung.

Tapi, ada satu persoalan yang terus mengganjal hatiku selama mengenal ngabuburit itu.

Persoalannya adalah, banyak kaula muda eh ada juga yang tua lebih suka makanmakan dan berbuka di luar. Ya, bagus sih, bisa ketemu kawan lama atau mantan terindah (apaan sih).

Tapi, tetap saja kan momen berkumpul dengan keluarga yang paling bisa dihabiskan setahun sekali ya cuma ramadan. Itu pun juga pas udah akhir. Karena banyak orang merantau, entah alasan kuliyah atau kerja.

Tapi, back to ourselves lagi deh.
Gimana baiknya untuk diri sendiri dulu.

Sesekali boleh dong ya kita egois sama diri sendiri, sama kawankawan mungkin. Kalau emang bisa bareng keluarga di penghujung ramadan ya diusahakan lah gimana caranya.

Oh, jadi nggak ada waktu buat teman lagi gitu?
Ya nggak gitu kali.

Intinya, sebagai orang yang sudah balig, berakal. Hal semacam itu bisa dikondisikan.
Mana yang prioritas, mana yang cuma sekadar menambah follower IG. (Canda kok)

Tapi saran aja ni ya. Kalau pun mau ngabuburit sama teman, kolega atau apalah itu.
Usahakan ponselnya disimpan jauhjauh. Karena apa, niatnya mau ngumpul apa?
Kan buat silaturrahmi, buat melepas rindu berpuluh purnama nggak ketemu, buat curhat masal.

Lah, iya kali kalau ngumpul cuma buat duduk, diam, dan main ponsel sendirisendiri, buat apa ngumpul.
Mending di rumah aja. Nyalain kipas angin tombol tiga, mojok deh di sudut kamar paling sepi, dan pastinya jangan lupa update status

"Hari Ini Sendirian Lagi Di Pojok Kamar."

Sekian dan terima kasih

Selasa, 16 April 2019

Belajar Tak Kenal Usia



Setiap malam aku selalu diseduhi pemandangan yang begitu menyejukkan selama berjamaah di masjid Istiqamah Tapaktuan.

Apa itu?

Ya, pemandangan yang sudah jarang bahkan langka adanya di masjidmasjid terdekat kita. Pemandangan yang siapa saja akan tergerak hati untuk ikut meramaikan.

Mungkin, pemandangan seperti itu bukan hal yang wah jika dibandingkan dengan daerah Banda Aceh dan sekitarnya. Berbanding lurus dengan masjid mungkin.

Mulai dari anakanak, remaja bahkan mahasiswa sampai dosen berkumpul di masjid bukan lagi hal aneh.

Tapi ini di Tapaktuan, sebuah Kabupaten yang memang mayoritas kaum ibu shalatnya di rumah.

Oke, kembali ke topik awal.

Pemandangan indah itu adalah melihat beberapa ibuibu rumah tangga dengan berbagai latar belakang, duduk berkeliling sambil membaca Al-Quran, dengan satu orang ustazah duduk di antara lingkaran tersebut. Beliau membenarkan bacaannya, kadang mencoba memberi contoh dengan beliau yang membaca lebih dulu dan sebagainya.

Dan malam ini adalah sebuah anugrah bagi diriku sendiri sebab diminta menjadi pemimpin khataman Al-Quran mereka.

Aku menolak?

Jelas. Jujur saja, aku tak punya pengalaman mengkhatamkan Al-Quran sama sekali. Biasanya, anakanak marhalah sering aku ingatkan buat membaca doa khatam Al-Quran begitu selesai murajaah.

Tapi malam ini, mereka khatam beneran dan aku dimintai buat gantikan ustazah mereka.

Siapa aku?

Wal hasil, aku ikut juga, berbaur dengan mereka. Hanya untuk malam ini saja, aku menggantikan posisi ustazah yang seharusnya di situ, memimpin doanya dengan khusyu.

Allaahummarhamna bil quran...

Doa itu menggema juga. Entah kenapa, aku merasakan keanehan yang luar biasa meresap jantung hati. Sangat berbeda dengan yang aku bacakan setiap usai murajaah.

Ini berbeda. Bahkan aku meminta para ibuibu tersebut mengulangnya sampai tiga kali.

Damai, ya takada kata lain yang bisa menjelaskan perasaanku saat itu selain penuh kedamaian.

Begitu selesai, aku lanjutkan dengan membaca doa yang ada di lembar terakhir Al-Quran serta aku tutup dengan bacaan Ummul Qur'an (Al-Fatihah)

Alhamdulillah, meski ini yang pertama setidaknya ini akan jadi pengalaman pertama paling membahagiakan.

Begitu selesai, aku kembali ke tempat duduk semula, menerima setoran salah satu santri marhalah.

Dan alhamdulillah bijaahi Rasulillah, salah satu ibu tersebut datang dengan meletakkan sekotak kue dalam pelastik.

Well, setidaknya aku dapat pelajaran berharga hari ini
Bahwa ketika seseorang memintamu, (terlepas dirimu mau atau tidak), mereka menanggapmu mampu. Cobalah untuk melakukan sesuatu yang baru, jika pun harus salah setidaknya kamu sudah maju satu langkah, yaitu belajar dari pengalaman

Kamis, 11 April 2019

Nuun




Nuun tempat mengalir segala rindu
Labuhan tamam doadoa rabitah
Terangkai indah di langitlangit sajadah

Pada segala asa yang membesarkan harap dan cemas
Pada segala lelah dan letih
Membauri keringat dingin setiap fajar hingga senja
Takpernah bosan mengajarkan cinta
Lidahlidah takberdosa basah oleh Rahman dan Rahim-Nya .

Nuun tempat segala airmata membanjiri kasihsayang
Pada kanakkanak yang taktahu apaapa
Mengajarkan hikmah lewat tintatinta hitam
Pada selembar kertas putih bertuliskan kalam Tuhan

Nuun tempat segala amarah lebur berkepingkeping, hilangkan kesusahan di hati penerima
Menutup luka nganga di masa lalu
Memaafkan segala khilafkhikaf yang kadang taksengaja tertoreh, bahkan tanpa rasa bersalah

Nuun tempat segala sapa membisikkan jarak
Pada rentang takpasti
Doadoa terus mengalir indah, mengukir hikayathikayat tentang sebuah temu yang begitu berat akhirakhir ini

Nuun tempat tasbihtasbih keagungan-Mu menggema
Yang tumbuh di hatihati sang pecinta
Sembah dan sujud pada yang Kuasa
Segala sakit, segala suka cita
Bersimpuh takberdaya

Nuun tempat berjuta keping dosa tercecer, di sepanjang malam buta, di jalanan kota, di bawah lampu neon pinggir kali, di ganggang sempit, di himpitan reruntuhan bangunan tua, di ujung jalan setapak, di hati para peminta.

Pada sejumput kasih-Mu
Hanya mampu berharap iba, pada segala alpa yang bahkan sengaja

Nuun
Wal qalami wa ma yashturuun

Pada-Mu yang maha menerima segala taubat
Hatiku jatuh, luluh, hanyut dikeheningan malammalam sepi; tersayatsayat pasi.

________________________
Tapaktuan, 11 April 2019

Rabu, 10 April 2019

Kenikmatan Yang Jarang Kita Syukuri





Kau tahu kenapa Allah menciptakan banyak warna, tidak hanya hitam dan putih?
Itu karena Allah ingin menciptakan perbedaan, tidak menoton.

Apa jadinya jika hidup kita dikasih 24 Jam tapi malam terus atau hujan terus atau terik terus
Atau diciptakan perempuan cantik semua dan lakilaki ganteng semua
Maka sudah bisa dipastikan, si jeleklah yang paling beruntung, sebab dia satusatunya yang paling berbeda.

Jadi, anggap saja perbedaan itu adalah hadiah yang patut kita syukuri.
Oh, ketika Tuhan menciptakan diri ini sedikit lebih pintar, maka manfaatkan untuk mengajarkan orang lain yang belum mengerti.

Jika Tuhan memberikan kelebihan materi, maka pergunakan untuk berbagi kepada yang membutuhkan. Ada hak mereka juga di sana meski sedikit.

Jika memang Tuhan menempatkan dirimu seorang diri, maka Allah inginkan engkau lebih bersabar, lebih dekat dengan-Nya.

Begitu pula dengan memilih calon pemimpin negara. 

Jika nomor satu tidak terpilih nantinya, maka Allah ingin memberikan kesempatan kepada orang lain untuk merasakan betapa repotnya menjadi kepala. 

Bayangkan, kepala keluarga aja susah mimpinnya. Apalagi ini yang dipimpin banyak kepala, dengan berbagai watak dan tingkah laku.

Maka jika sudah demikian. Perbedaan itu adalah sebuah kenikmatan yang patut kita banggakan.

Bayangkan jika dalam negara sampai 1000 tahun pemimpinnya orang yang sama.
Bosan kan?

Nggak bisa dipungkiri.

Jadi mohon jangan pernah menilai sesuatu hanya karena kadar bahagianya sedikit daripada rasa sakit, kita langsung saja membuangnya.

Padahal bisa jadi, yang kita buang itulah obat yang selama ini kita cari.

See?

Berpikirlah dengan jernih!

Ini bukan sedang kompanye, hanya saja mengingatkan.
Biar samasama kita merasakan kenikmatan dari sebuah perbedaan.
😂😂😂


_______________________
Tapaktuan, 10 April 2019