Selasa, 16 April 2019

Belajar Tak Kenal Usia



Setiap malam aku selalu diseduhi pemandangan yang begitu menyejukkan selama berjamaah di masjid Istiqamah Tapaktuan.

Apa itu?

Ya, pemandangan yang sudah jarang bahkan langka adanya di masjidmasjid terdekat kita. Pemandangan yang siapa saja akan tergerak hati untuk ikut meramaikan.

Mungkin, pemandangan seperti itu bukan hal yang wah jika dibandingkan dengan daerah Banda Aceh dan sekitarnya. Berbanding lurus dengan masjid mungkin.

Mulai dari anakanak, remaja bahkan mahasiswa sampai dosen berkumpul di masjid bukan lagi hal aneh.

Tapi ini di Tapaktuan, sebuah Kabupaten yang memang mayoritas kaum ibu shalatnya di rumah.

Oke, kembali ke topik awal.

Pemandangan indah itu adalah melihat beberapa ibuibu rumah tangga dengan berbagai latar belakang, duduk berkeliling sambil membaca Al-Quran, dengan satu orang ustazah duduk di antara lingkaran tersebut. Beliau membenarkan bacaannya, kadang mencoba memberi contoh dengan beliau yang membaca lebih dulu dan sebagainya.

Dan malam ini adalah sebuah anugrah bagi diriku sendiri sebab diminta menjadi pemimpin khataman Al-Quran mereka.

Aku menolak?

Jelas. Jujur saja, aku tak punya pengalaman mengkhatamkan Al-Quran sama sekali. Biasanya, anakanak marhalah sering aku ingatkan buat membaca doa khatam Al-Quran begitu selesai murajaah.

Tapi malam ini, mereka khatam beneran dan aku dimintai buat gantikan ustazah mereka.

Siapa aku?

Wal hasil, aku ikut juga, berbaur dengan mereka. Hanya untuk malam ini saja, aku menggantikan posisi ustazah yang seharusnya di situ, memimpin doanya dengan khusyu.

Allaahummarhamna bil quran...

Doa itu menggema juga. Entah kenapa, aku merasakan keanehan yang luar biasa meresap jantung hati. Sangat berbeda dengan yang aku bacakan setiap usai murajaah.

Ini berbeda. Bahkan aku meminta para ibuibu tersebut mengulangnya sampai tiga kali.

Damai, ya takada kata lain yang bisa menjelaskan perasaanku saat itu selain penuh kedamaian.

Begitu selesai, aku lanjutkan dengan membaca doa yang ada di lembar terakhir Al-Quran serta aku tutup dengan bacaan Ummul Qur'an (Al-Fatihah)

Alhamdulillah, meski ini yang pertama setidaknya ini akan jadi pengalaman pertama paling membahagiakan.

Begitu selesai, aku kembali ke tempat duduk semula, menerima setoran salah satu santri marhalah.

Dan alhamdulillah bijaahi Rasulillah, salah satu ibu tersebut datang dengan meletakkan sekotak kue dalam pelastik.

Well, setidaknya aku dapat pelajaran berharga hari ini
Bahwa ketika seseorang memintamu, (terlepas dirimu mau atau tidak), mereka menanggapmu mampu. Cobalah untuk melakukan sesuatu yang baru, jika pun harus salah setidaknya kamu sudah maju satu langkah, yaitu belajar dari pengalaman

0 komentar:

Posting Komentar