Seperti malam merindu bulan…
Ah teralu cepat bila bicara rindu di sini. Tapi, begitulah perasaan yang kurasakan kini. Merindukan seorang yang entah… Entah di New Zealand, di Arab atau di Cina. Yang jelas, aku sedang rindu. Bila rindu ini tidak kutulis, maka ia akan terus mengusik akal sehat tuk memikirkan lebih jauh.
Sudah hampir tiga bulan aku sendiri. Tubuhku pun ikut menyusut saban waktu, nasi putih yang diberikan oleh paman Tanah tak sebutir pun melewati tenggorokan.
“Langit, apa kabar ia?”
Biasanya, aku selalu ditemani Langit di sisa senja. Setiap kali mendengar celotehnya aku bahagia, meski yang ia katakan tidak penting sama sekali. Dan kini, genap tiga bulan ia tak berkabar, bagaimana mungkin kukatakan bahwa kondisi tubuh ini masih baik-baik saja, sejak dia menghilang. Jika aku bisa berdo’a, aku hanya ingin Langit kembali dalam kondisi apapun.
Rindu…
Malam itu, aku benar-benar merindukan sosok Langit.
***
“Selamat pagi, Biru. Kenalkan ini Bumi, teman baru kita.”
“Tunggu, aku tidak bermimpi, kan?” Aku mencubit dan menampar pipi kanan-kiri hingga berubah merah jambu.
“Langit? Kamu sudah pulang?” Reflek kedua tanganku menapaki wajahnya, meraba tiap lekuk yang terpotret di sana. Hidungnya yang bengir, matanya yang sedikit lentik dan pipinya yang tirus agak melonjong. Sungguh pemandangan sempurna bagi sosok laki-laki seperti Langit. Tidak lama memang, hanya sepersekian detik, sebelum tangan itu dipindahkan ke tempat semula.
“Cukup, Biru. Malu dilihatin sama Bumi. Lagian kita kan bukan anak kecil lagi. Orang kira kita malah ada hubungan apa-apa nantinya.”
“Memangnya kenapa? Salah bila aku rindu Langit yang tiga bulan tak pernah ada kabar. Menghilang tiba-tiba, lalu muncul di hadapan dengan orang baru bernama Bumi, kemudian mengenalkan padaku sebagai seorang TEMAN?”
“Ti.ti...tidak. Maksudku, Bumi adalah istriku. Maaf tidak mengabarimu lebih dulu. Jujur saja, Biru. Sejak aku pergi dari tempat ini dan meninggalkanmu seorang diri, aku begitu khawatir, aku merasa bersalah. Sangat, sangat malah. Tapi, apa boleh buat. Membuatmu lebih mandiri adalah cita-cita setiap orang tua, dan aku yakin, ini juga pilihan yang tepat bagi kita. Sekali lagi, maaf, sebab tidak memberi tahu lebih dulu. Aku mengenal Bumi jauh sebelum aku mengenalmu, Biru. hanya saja, kami sedikit berjarak. Dia di Bukit Barisan dan aku di Pantai Putih. Namun, baru beberapa waktu lalu ini kamu kembali berkomunikasi, tepatnya sejak aku meninggalkanmu.”
“Bumi datang meminta kepastian mengenai hubungan ini. Aku pasrah, dan kukira, sudah saatnya aku mengakhiri masa sendu dengan kesendirian. Aku tidak ingin memupuk dosa karna pertemuan-pertemuan yang gak jelas, atau pandang yang menyesakkan seperti ini. Bersukur, sebab Bumi menerima aku apa adanya. Ia tidak menuntutku dengan mahar yang wah, cukup dengan memberinya satu pot bunga matahari yang baru ditumbuh tunas.”
“Ini gila. Mana mungkin kamu bisa menikah begitu saja ketika kamu meninggalkanku dengan tega di sini. Bagaimana kamu bisa katakana cinta pada orang lain, sedang aku dengan ikhlas menunggumu di tiap ujung senja. Bagaimana mungkin? Apa selama ini, aku tidak bisa mengalihkan hati dan perasaanmu untuk sedikit merasa peka terhadapku?”
“Biru, ngomong apa kamu? Kita hanya teman. Ingat. Tidak lebih. Aku sudah menganggapmu seperti adik sendiri, saudara sendiri. Ahh… Aku lelah, Bumi juga lelah.”
“Harusnya kamu berterima kasih karna aku datang untuk mengucap maaf. Setidaknya aku masih punya hati, masih punya perasaan untuk mengabarkanmu sampai sejauh ini. kau tahu, Bumi bahkan tidak tidur demi melihat wajahmu langsung. Ia begitu kagum dengan sosokmu yang tegar. Karna itu, aku mengajaknya ikut serta untuk pulang ke Bukit Hijau, Menemuimu sekaligus berpamitan untuk selamanya. Sebab aku akan ikut Bumi, menghabiskan berbagai aktifitas bersamanya.”
“Tapi, bagaimana dengan laut, perahu, karang, pasir di sini? Apa kamu akan tetap membawanya bersama Bumi?”
“Tidak, kutinggalkan segalanya untukmu, sebagai ucapan terima kasih karna telah menjaganya saban hari.”
“Salam kenal Biru. Semoga kita bertemu di lain kesempatan.”
Langit dan Bumi kemudian menghilang, berganti dengan cahaya putih yang menusuk retina. Perih sekali, seperti ada air yang tertahan keluar dari pelupuk mataku.
***
“Menangislah Bumi. Sebab Allah menciptakan air mata untuk mengobati hatimu yang pilu. Menangislah, menangislah dengan senang hati, bukan benci. Menangislah, karna esok aku akan mengenalkanmu pada pelangi.”
“Siapa di sana?”
“Kenalkan, aku adalah Jarak.”
Bersambung…

0 komentar:
Posting Komentar