Sabtu, 08 Agustus 2015

Ada Banyak Cara Untuk Bersyukur


Sebut saja roda. Bila tak ada mesin yang menggerakkan, bagaimana mungkin dia bisa berputar. Ah, terlalu banyak basa-basi. Di sini saya ingin katakan bahwa, tidak selamanya kita akan makan yang sama, bahkan tak jarang juga kita tidak makan sama-sekali. Lantas mengapa kita harus berbusung dada, berjalan melenggak hanya karna sedikit kelebihan yang dititikan Allah.
Ok, hari ini kita bisa berkumpul dengan keluarga tercinta, bermain dengan anak ayam atau ikut-ikutan menempah batu apik yang kini menjadi pembicara anter hangat dikalangan tua-muda. Tidak. Belum tentu. Bisa saja besok, lusa atau nanti, bahagia itu akan menjelma lautan airmata karna kehilangan, karna kepergian, karna sakit, karna musibah. Macam-macam. Nah, dari situ, kita baru belajar, sudahkah kita mempersiapkan diri dengan keadaan apapun yang nanti akan kita hadapi. Apakah kita cukup dengan hanya berpangkutangan, melihat dan mendengar saja ketika ada saudara kita tertembak, terbakar, teriris bahkan tersayat? Apakah kita akan membantu menawarkan bahu untuk meringankan beban mereka, mengulurkan tangan untuk saling memapah atau kita akan duduk mengunci pintu sambil mendengar ayat-ayat setan di balik alat bernama headset?

Apakah engkau bisa menjanjikan bahwa bahagia itu hanya untuk orang yang berdasi, berbintang dan berpangkat? Sedang sengsara itu hanya bagi anak-anak yang mengadu nasib dengan mengumpulkan recehan di tepi jalan, menawarkan upahan di tiap-tiap rumah atau orang-orang yang beralaskan bumi dan beratapkan langit? Apa itu yang kau sebut takdir. Yang buta akan tetap buta karna takdir, yang tuli akan tetap tuli karna takdir, yang meminta akan terus meminta karna takdir, yang bermaksiat terus bermaksiat karna takdir? Apakah ini jawabannya?

Lalu untuk apa Allah swt menurunkan QS.Ar-ra’du : 11?

....إِنَّاللَّهَلايُغَيِّرُمَابِقَوْمٍحَتَّىيُغَيِّرُوامَابِأَنْفُسِهِمْ ....

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang pada diri mereka ” .
            
Tidak kah kita bercermin dari orang-orang sebelum kita? Bagaimana nasib mereka tatkala lupa dimana bumi tempat dia berpijak, dimana laut tempat dia berlayar, dimana hutan tempat bercocok tanam. Lantas, setelah cobaan itu datang, kita malah berlomba-lomba menuntut “TUHAN TIDAK ADIL” “TUHAN PILIH KASIH” begitukah cara kita bersyukur selama ini? Darah, daging, tulang dan kulit, ketika ditiup akan roh, maka jadilah kita, MANUSIA. Makhluk yang  paling mulia sekali pun disandingkan dengan golongan malaikat dan jin. Pantas kah kita menuntut hak sedang kita sendiri hidup di istana. Hak apalagi yang kita inginkan, sedang segala kebutuhan sudah disediakan. Berterimakasih. Yah, berterimakasih lah setidaknya 1 hari 5x tiap usai bersujud. Disitulah engkau benar-benar menjadi manusia yang bersyukur.


0 komentar:

Posting Komentar