Apa yang terpikir di benak anda jika mendengar kata
Newzealand? Baik, biar saya yang tebak. Indah? Menarik? Megah? Benar, kan? (Cie…cie..senyum sama tembok!).
Lalu, bagaimana dengan Greenland? Apa anda pernah
mendengarnya? Tenang. Tempatnya bukan di Jakarta, kok. Apalagi harus jauh-jauh,
ke Bali. Tidak. Dia masih di Aceh, Banda Aceh, tetanggaan sama Seulimum, Aceh
Besar. Sudah buat peta sendiri kan? Ok. Sekarang. Saya akan berbagi kepada anda pengalaman saya selama di Greenland, abaikan Newzealand sementara waktu.
Dua hari lalu, (read: 5 Desember 2015), blogger Aceh
menggelar acara gathering bersama seluruh blogger Aceh wa akhawatuha di daerah
Jantho. Saya bersyukur diberi kesempatan untuk berhadir di sana sebagai part of
FLP Banda Aceh, bersama sejumlah kawan lainnya dari komunitas menulis yang
berbeda-beda. Acara gathering 2015 ini juga baru pertama kalinya diadakan dan
yang hadir juga lumayan banyak. Mulai dari wartawan, jurnalis, penulis hingga
ITker. Mulai dari blogger traveler, facebooker, Instagrammer sampai Teller
sampai Teler pun ada di sana. Kesempatan yang masih langka dan perlu
dilestarikan ke depan.
Waktu itu, mendengar kata Greenland, pikiran saya
terdampar jauh di kota yang berjulukan Negeri Kiwi, Newzealand. Mungkin itu
sebabnya, saya membuat judul Greenland Vs Newzealand. Dan setelah saya
menyelami langsung, saya bisa membuktikan bahwa Greenland Aceh, juga gak kalah
menarik dengan Newzealand, Selandia Baru. Hal mnarik lainnya, tak perlu beli tiket pesawat
untuk pulang-pergi Banda Aceh-Jantho. Apalagi jauh-jauh menumpangi Channai Express hingga
ke India.
Greeenland Aceh Besar, merupakan salah satu ikon
destinasi wisata yang terletak di daerah Jantho. Tempat yang juga dihimpit oleh
Gunung Selawah dan Bukit Barisan ini, paling cocok dikunjungi bersama keluarga
(mohon maaf bagi yang masih single, disarankan untuk tidak datang sendiri). Hanya
membutuhkan waktu 1 jam bila mengendari bus kota seperti saya dan kawan-kawan nikmati,
bahkan bisa menghemat waktu, jika perjalananya mengendarai Ninja. Meski tempatnya
agak jauh dari kota, namun anda bisa menikmati sajian alam yang hijau dan masih
asri di setiap jalanan berkelok-kelok.
Puncak keterpanaan saya pun kembali
diuji manakala Greenland Aceh terbentang di hadapan. Berbagai wahana air mulai menggoda tangan untuk
mengabadikannya di dalam kamera. Kolam renang, jembatan gantung, bebek dayung, dan
masih banyak lagi wahana ekstrim dan gak ekstrim yang saya lupa namanya.
Sekitar pukul 12 siang bolong, kami tiba di Greenland
Aceh, berteduh di balik tenda hijau dan berkenalan dengan teman-teman dari
devisi berbeda, sekedar ngakak dan sharing tentang personality, untuk meminimalisir
suara cacing yang mendemo di Aceh Tengah.
“Ceklak, ceklik…” kamera kak Eky beraksi, menerobos
panas siang hari. Adegan photo gantian-gantian bersama dek Rizka Riskia pun
segera terbentuk tanpa harus dikomando. Kak Mira yang baru pulang dari Jerman
mulai kepanasan. Suasana yang berbanding 360 derajat celcius ini membuat
wajahnya bukan lagi merona, tapi hampir matang, lantaran terbakar. Bersyukur,
panitia menyediakan akua gelas ples dengan kotak. Cerita selanjutnya, tanpa
menunggu perintah, kak Mira lebih dulu mencomot kotak akua (bukan air akua)
untuk membunuh terik yang berlipat-lipat, mengalahkan kecepatan kak Tyna, yang
hanya melongo lantaran telat 2 detik. Fixed. Kotak akua berhasil dimenangkan
kak Mira. Dan sebagai anak bawang, saya juga dilibatkan, walau hanya meneguk air sambil
menghayalkan kuah pliek di hadapan. Sayangnya, air hanya bisa membunuh lapar selama
5 menit. Tak lama, panggilan azan pun mengakiri segala keluhan kami, disusul
dengan acara makan siang khas Aceh Rayeuk (Gak ada gulee kuah pliek di sana). Saya harus bersyukur lagi, sebagai
salah satu warga kost atau yang mewakili, karena selama di sana, saya bisa memperbaiki
gizi, memperbaiki koneksi dengan komunitas lain sekaligus memperbaiki keturunan
(Eh).
![]() |
| Pemandangan Greendland Aceh Besar dari jarak jauh Photo taken by dek Rizka Rizkia |
![]() |
| Kolam Renang |
![]() |
| Tempat makan dan warung yang dikelilingi oleh kolam air |
![]() |
| Salah satu wahana darat anti mainstream |
![]() |
| Wahana air, penampakan jembatan gantung pakai tali dari depan :D |
![]() |
| penampakan jembatan gantung dari samping |
![]() |
| penampakan warung ketika senja hari |
![]() |
| Penampakan warung senja hari, dengan latar dua cewek kece yang dipaksa Kendit sama dek Rizka |
![]() |
| Penampakan Agam Inong Blogger, FLP BAnda Aceh, Duta Damai dan penulis "Teller Sampai Teler" di depan gapura Aceh Blogger Gathering 2015 |
![]() |
| Photo Semi Formal |
![]() |
| Photo Gak Formal |
NB : Kalau ke Greenland lagi, jangan lupa ajak saya. ^_^











0 komentar:
Posting Komentar