Senin, 07 Desember 2015

Greenland Aceh VS Newzealand

Apa yang terpikir di benak anda jika mendengar kata Newzealand? Baik, biar saya yang tebak. Indah? Menarik? Megah? Benar, kan? (Cie…cie..senyum sama tembok!).
Lalu, bagaimana dengan Greenland? Apa anda pernah mendengarnya? Tenang. Tempatnya bukan di Jakarta, kok. Apalagi harus jauh-jauh, ke Bali. Tidak. Dia masih di Aceh, Banda Aceh, tetanggaan sama Seulimum, Aceh Besar. Sudah buat peta sendiri kan? Ok. Sekarang. Saya akan berbagi kepada anda pengalaman saya selama di Greenland,  abaikan Newzealand sementara waktu.
Dua hari lalu, (read: 5 Desember 2015), blogger Aceh menggelar acara gathering bersama seluruh blogger Aceh wa akhawatuha di daerah Jantho. Saya bersyukur diberi kesempatan untuk berhadir di sana sebagai part of FLP Banda Aceh, bersama sejumlah kawan lainnya dari komunitas menulis yang berbeda-beda. Acara gathering 2015 ini juga baru pertama kalinya diadakan dan yang hadir juga lumayan banyak. Mulai dari wartawan, jurnalis, penulis hingga ITker. Mulai dari blogger traveler, facebooker, Instagrammer sampai Teller sampai Teler pun ada di sana. Kesempatan yang masih langka dan perlu dilestarikan ke depan.
Waktu itu, mendengar kata Greenland, pikiran saya terdampar jauh di kota yang berjulukan Negeri Kiwi, Newzealand. Mungkin itu sebabnya, saya membuat judul Greenland Vs Newzealand. Dan setelah saya menyelami langsung, saya bisa membuktikan bahwa Greenland Aceh, juga gak kalah menarik dengan Newzealand, Selandia Baru. Hal mnarik lainnya, tak perlu beli tiket pesawat untuk pulang-pergi Banda Aceh-Jantho. Apalagi jauh-jauh menumpangi Channai Express hingga ke India.
Greeenland Aceh Besar, merupakan salah satu ikon destinasi wisata yang terletak di daerah Jantho. Tempat yang juga dihimpit oleh Gunung Selawah dan Bukit Barisan ini, paling cocok dikunjungi bersama keluarga (mohon maaf bagi yang masih single, disarankan untuk tidak datang sendiri). Hanya membutuhkan waktu 1 jam bila mengendari bus kota seperti saya dan kawan-kawan nikmati, bahkan bisa menghemat waktu, jika perjalananya mengendarai Ninja. Meski tempatnya agak jauh dari kota, namun anda bisa menikmati sajian alam yang hijau dan masih asri di setiap jalanan berkelok-kelok. 
Puncak keterpanaan saya pun kembali diuji manakala Greenland Aceh terbentang di hadapan. Berbagai wahana air mulai menggoda tangan untuk mengabadikannya di dalam kamera. Kolam renang, jembatan gantung, bebek dayung, dan masih banyak lagi wahana ekstrim dan gak ekstrim yang saya lupa namanya.
Sekitar pukul 12 siang bolong, kami tiba di Greenland Aceh, berteduh di balik tenda hijau dan berkenalan dengan teman-teman dari devisi berbeda, sekedar ngakak dan sharing tentang personality, untuk meminimalisir suara cacing yang mendemo di Aceh Tengah.

“Ceklak, ceklik…” kamera kak Eky beraksi, menerobos panas siang hari. Adegan photo gantian-gantian bersama dek Rizka Riskia pun segera terbentuk tanpa harus dikomando. Kak Mira yang baru pulang dari Jerman mulai kepanasan. Suasana yang berbanding 360 derajat celcius ini membuat wajahnya bukan lagi merona, tapi hampir matang, lantaran terbakar. Bersyukur, panitia menyediakan akua gelas ples dengan kotak. Cerita selanjutnya, tanpa menunggu perintah, kak Mira lebih dulu mencomot kotak akua (bukan air akua) untuk membunuh terik yang berlipat-lipat, mengalahkan kecepatan kak Tyna, yang hanya melongo lantaran telat 2 detik. Fixed. Kotak akua berhasil dimenangkan kak Mira. Dan sebagai anak bawang, saya juga dilibatkan, walau hanya meneguk air sambil menghayalkan kuah pliek di hadapan. Sayangnya, air hanya bisa membunuh lapar selama 5 menit. Tak lama, panggilan azan pun mengakiri segala keluhan kami, disusul dengan acara makan siang khas Aceh Rayeuk (Gak ada gulee kuah pliek di sana). Saya harus bersyukur lagi, sebagai salah satu warga kost atau yang mewakili, karena selama di sana, saya bisa memperbaiki gizi, memperbaiki koneksi dengan komunitas lain sekaligus memperbaiki keturunan (Eh).
Pemandangan Greendland Aceh Besar dari jarak jauh
Photo taken by dek Rizka Rizkia

Kolam Renang
Tempat makan dan warung yang dikelilingi oleh kolam air
Salah satu wahana darat anti mainstream
Wahana air, penampakan jembatan gantung pakai tali  dari depan
:D
penampakan jembatan gantung dari samping
penampakan warung ketika senja hari
Penampakan warung senja hari, dengan latar dua cewek kece yang dipaksa Kendit sama dek Rizka

Penampakan Agam Inong Blogger, FLP BAnda Aceh, Duta Damai dan penulis "Teller Sampai Teler"
di depan gapura Aceh Blogger Gathering 2015
Photo Semi Formal

Photo Gak Formal





NB : Kalau ke Greenland lagi, jangan lupa ajak saya. ^_^



0 komentar:

Posting Komentar