Kamis, 10 Desember 2015

Kasih, Tiada Dua

Assalamu’alaikum wr wb…
Ibu, apa yang engkau pikirkan hingga kerutan di wajahmu semakin bertambah?
Pasti engkau memikirkan nasibku kan, bu? Nasib ketiga anakmu.
Aku tau usiamu sudah setengah abad, kulitmu kasar mengelupas, dua bola yang tak seterang bintang venus, langkah tertatih, kadang juga butuh penyangga. Namun, aku malu, sebab cintamu tak lekang dimakan jangka . Sejak ‘adam hingga aku maujud di bentang waktu.
Engkau pernah bercerita kalau aku kecil sangat rewel dan aktif. Engkau sering kesusahan menghadapi sosokku, saat menyuapi nasi. Ya, aku suka menghisap nasi sampai hambar rasa, hingga tanganmu kaku dan kering menunggu. Aku juga punya sisi lain dalam diri, selalu mengatakan piring orang, piringmu. Gelas orang, gelasmu, gayung orang, gayungmu. Hingga tak jarang, aku membawa pulang perkakas dapur ke rumah, dan besoknya, engkau meminta maaf dan mengembalikan kembali, ke pemiliknya.
Betapa aku menyusahkanmu kan, bu?
Ibu, kau tau, di sini aku belajar sepertimu. Mengumpulkan anak-anak lalu mengajarkannya seperti yang engkau lakukan dulu.  Alif…Ba…Ta… terus engkau ulang beberapa kali hingga aku hafal dan lancar hurufnya. Bila aku salah dalam ucapan, engkau selalu menegur dan memintaku untuk mengulang. Lagi… aku mengulanginya… lagi. Di sini, aku juga begitu. Mengajarkan apa yang dulu pernah engkau lakoni. Aku senang, aku punya kesempatan lebih dekat bersama mereka.
Ibu, jujur! Aku tidak seromantis yang mereka anggap. Aku tidak peka jika engkau memanggilku, satu…dua…, bahkan sering, isyarat mata pun aku tak ambil peduli. Pura-pura gak lihat, kadang sok gak dengar. Maafkan aku, bu. Tapi, percayalah, jalan itu tak pernah mengurangi rinduku padamu. Sampai aku bosan… sampai aku lupa.
Ibu, aku mencintaimu seperti aku mencintai surga, karna di bawah telapak kakimu, ada surga yang selalu kurindukan.
Ibu, aku menemukan pelangi bersinar di hatimu. Memberi warna pada setiap langkah kecil yang kubuat. Tidak hanya hitam dan putih seperti tivi zaman dulu.
Ibu, aku menemukan embun di wajahmu. Setiap letihnya usaha, aku memandang wajahmu, seperti meneguk zam-zam di tegah tandus. Segar dan menyejukkan dahaga jiwa.
Ibu, aku menemukan cahaya di matamu. Karna kegelapan membuatku takut, namun tidak dengan melihat matamu. Di sana, tak ada benci yang patut ku curigai, melainkan cinta yang melimpah ruah tanpa batasan.
Ibu, aku menemukan bunga merekah di sosokmu. Sungguh, setiap segala pancaroba menghadang, bersamamu, aku mampu berdiri. Tak peduli berapa kali jatuh dan tersungkur. Cukup melihatmu, aku kembali berenergi.
Engkau tidak hanya mengalahkan super hero dunia, tapi juga mampu melelehkan batu dalam diri, anakmu.
Tak ada yang bisa membalas…
Tak ada yang mampu menggantikan…
Saat jatuh cinta pertama kali, ketika aku menemukan senyummu yang menyembul di balik peluk kehangatan. Kasih, tiada dua.
“Berjuanglah, nak. Jangan pernah menyerah. Jarak kita hanyalah do’a dan sajadah.”
                                                                       
         


0 komentar:

Posting Komentar