Selasa, 14 Juni 2016

JATU[H] Atau PATA[H]

Ketika membiarkan kehilangan itu pergi bersama laju keikhlasan, maka bersiaplah hati akan menerima yang lebih baik.
“Siapa yang tidak pernah jatuh cinta?”
Tidak. Aku yakin, siapapun kamu, apapun profesimu, bagaimanapun masa lalumu, kamu pasti pernah jatuh cinta.
Entah itu jatuh pada kucing, pada langit, pada biru pun juga pada hujan.
“Ah, maaf, pasti cinta yang kalian maksudkan di sini pada lawan jenis, kan?”
Baiklah. Kita semua pernah jatuh cinta pada lawan jenis, karna itu kita mengenal patah.
Jadi, untuk apa jatuh jika tahu akhirnya adalah sakit?
Agar hati mensukuri indahnya keikhlasan.
Jatuh dan patah adalah dua sisi yang enak dan gak enak, senang dan sedih, menerima dan kehilangan serta syukur dan ikhlas.
“Mengapa?”
Sebab jika hati dibiarkan jatuh, maka latihlah ia untuk ikut merasakan sakit.
Di sini, aku tidak melarang kamu jatuh pada siapa.
Tak harus memberi patokan bahwa si tinggi tidak boleh jatuh pada si pendek, atau si mancung dengan si pesek, atau si legam oleh si putih, pun si kurus bersama si gemuk.
“Mengapa”
Sebab jatuh tidak punya mata, tidak punya perasaan.
Ia datang justru tanpa undangan, ia hadir justru tanpa diminta.
Untuk itu, kalian boleh jatuh kepada siapa saja, asal siap menerima resiko.
Resikonya pun bermacam, kalau sakit dan kehilangan itu biasa.
Tapi yang paling sakit adalah dianggap sebagai musuh bubuyutan.
Jadi, ambil titik amannya saja, biar resiko kehilangan atau tingkat bawa perasaannya masih bisa dikontrol, jatuh cinta-lah pada jodoh sendiri.
“Loh, kok?”
Ya, sebab kalau ia jodoh kita, ia tidak berniat menyakiti, apalagi meninggalkan.
Bagi yang masih sendiri, jatuhnya dikadarkan saja ya, atau lebih bagus di simpan rapat-rapat dalam hati, agar bayang tak tahu, agar nafsu tak menggoda.
Bersabarlah, berdo’alah…
Biarkan takdir membawanya untukmu.
Ketika membiarkan kehilangan itu pergi bersama laju keikhlasan, maka bersiaplah hati akan menerima yang lebih baik. [@jejaksibiru]


0 komentar:

Posting Komentar