Ketika
membiarkan kehilangan itu pergi bersama laju keikhlasan, maka bersiaplah hati
akan menerima yang lebih baik.
“Siapa yang tidak pernah jatuh
cinta?”
Tidak.
Aku yakin, siapapun kamu, apapun profesimu, bagaimanapun masa lalumu, kamu
pasti pernah jatuh cinta.
Entah
itu jatuh pada kucing, pada langit, pada biru pun juga pada hujan.
“Ah, maaf, pasti cinta yang kalian
maksudkan di sini pada lawan jenis, kan?”
Baiklah.
Kita semua pernah jatuh cinta pada lawan jenis, karna itu kita mengenal patah.
Jadi,
untuk apa jatuh jika tahu akhirnya adalah sakit?
Agar
hati mensukuri indahnya keikhlasan.
Jatuh
dan patah adalah dua sisi yang enak dan gak enak, senang dan sedih, menerima
dan kehilangan serta syukur dan ikhlas.
“Mengapa?”
Sebab
jika hati dibiarkan jatuh, maka latihlah ia untuk ikut merasakan sakit.
Di
sini, aku tidak melarang kamu jatuh pada siapa.
Tak
harus memberi patokan bahwa si tinggi tidak boleh jatuh pada si pendek, atau si
mancung dengan si pesek, atau si legam oleh si putih, pun si kurus bersama si
gemuk.
“Mengapa”
Sebab
jatuh tidak punya mata, tidak punya perasaan.
Ia
datang justru tanpa undangan, ia hadir justru tanpa diminta.
Untuk
itu, kalian boleh jatuh kepada siapa saja, asal siap menerima resiko.
Resikonya
pun bermacam, kalau sakit dan kehilangan itu biasa.
Tapi
yang paling sakit adalah dianggap sebagai musuh bubuyutan.
Jadi,
ambil titik amannya saja, biar resiko kehilangan atau tingkat bawa perasaannya
masih bisa dikontrol, jatuh cinta-lah pada jodoh sendiri.
“Loh, kok?”
Ya,
sebab kalau ia jodoh kita, ia tidak berniat menyakiti, apalagi meninggalkan.
Bagi
yang masih sendiri, jatuhnya dikadarkan saja ya, atau lebih bagus di simpan
rapat-rapat dalam hati, agar bayang tak tahu, agar nafsu tak menggoda.
Bersabarlah,
berdo’alah…
Biarkan
takdir membawanya untukmu.
Ketika membiarkan
kehilangan itu pergi bersama laju keikhlasan, maka bersiaplah hati akan
menerima yang lebih baik. [@jejaksibiru]

0 komentar:
Posting Komentar