Selasa, 14 Juni 2016

TENTANG “CINTA SEMPURNA”

Ingin rasanya aku berteriak, sekedar menumpah kegalauan atau membunuh rasa yang mendongkrak sesak.
Tapi, hati enggan kompromi.
Ia memilih diam dalam senyap, biarlah akal mengambil alih.
___________
Tak…tak…
Jangan akal, ia tak mampu memberi solusi.
Hanya menambah susah sakit pada luka koyak yang basah.
Akal memang pintar, namun untuk urusan dalam, kamu lebih bisa, hati.
Kamu bukan saja berfikir dengan logika, atau menerka-nerka dengan kulit
Tidak…
Walau memang bukan indra peraba, tak bisa mengecap, tapi kamu peka.
Lebih peka dari pandang sekalipun.
Hati, kejujuran ada di dirimu.
____________
Baiklah! Katakan apa yang harus kulakukan?
____________
Aku hanya ingin satu, beri aku sepotong hati yang baru, agar bisa merajut sakit ini menjadi ibrah.
Bukan bermaksud mengulangi, tidak berniat mengenangi apalagi larut dalam kelabu.
Lalu…
_____________
Biarlah kukutip segala luka yang berserak ini menjadi kolase yang indah, untuk pajangan
Ya, aku ingin memasangnya di dinding hati itu, hati yang baru.
Sekedar penghias rasa, agar se-waktu sakit lagi, aku bisa menertawakannya dengan lantang.
Ahahahaha….
Sakit ini tak layak dikasihani.

Segeralah bersungkur agar tahu apa itu “CINTA SEMPURNA”


0 komentar:

Posting Komentar