Ingin
rasanya aku berteriak, sekedar menumpah kegalauan atau membunuh rasa yang mendongkrak
sesak.
Tapi,
hati enggan kompromi.
Ia
memilih diam dalam senyap, biarlah akal mengambil alih.
___________
Tak…tak…
Jangan
akal, ia tak mampu memberi solusi.
Hanya
menambah susah sakit pada luka koyak yang basah.
Akal
memang pintar, namun untuk urusan dalam, kamu lebih bisa, hati.
Kamu
bukan saja berfikir dengan logika, atau menerka-nerka dengan kulit
Tidak…
Walau
memang bukan indra peraba, tak bisa mengecap, tapi kamu peka.
Lebih
peka dari pandang sekalipun.
Hati,
kejujuran ada di dirimu.
____________
Baiklah!
Katakan apa yang harus kulakukan?
____________
Aku
hanya ingin satu, beri aku sepotong hati yang baru, agar bisa merajut sakit ini
menjadi ibrah.
Bukan
bermaksud mengulangi, tidak berniat mengenangi apalagi larut dalam kelabu.
Lalu…
_____________
Biarlah
kukutip segala luka yang berserak ini menjadi kolase yang indah, untuk pajangan
Ya,
aku ingin memasangnya di dinding hati itu, hati yang baru.
Sekedar
penghias rasa, agar se-waktu sakit lagi, aku bisa menertawakannya dengan
lantang.
Ahahahaha….
Sakit
ini tak layak dikasihani.
Segeralah
bersungkur agar tahu apa itu “CINTA SEMPURNA”

0 komentar:
Posting Komentar