Menjadi baik adalah harapan setiap kita, tanpa mengenal batas pagi dan senja.
Menjadi baik bukan pilihan, karna itu tak ada istilah baik sesaat, maksiat selama.
Baik, bukan sekedar menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah kepada yang mungkar.
Namun baik, bagaimana kamu bisa bertahan dalam diri yang tak tergoyahkan oleh hawa dan nafsu.
Baik itu bukan pilihan. Karna itu, kamu dilahirkan sebagai orang yang polos, bukan orang yang boros.
Baik juga tidak duduk diam menunggu hijrah datang bertamu, namun baik adalah belajar dan bertanya untuk bisa mandiri dalam menjemput perubahan.
Baik, tidak mengajarkan keluh pada kesah atau putus akan asa…
Sebaliknya, baik menjadikan hati lebih kuat, tekat lebih baja.
Menjadi baik bukan pilihan, karnanya begitu sulit untuk digenggam.
Lihatlah orang baik terdahulu…?
Baiknya, hidup beralaskan pelepah kurma
Baiknya, namun makan sehari sekali
Baiknya, cuma berjalan bertapak kan debu
Namun, mereka baik. Mereka tetap menjaga hati agar tak goyah oleh rayuan si Khannas.
Mereka baik, meski sekian tahun berlindung di balik goa.
Mereka baik, mereka tetap ber-Qarib dengan Rab-Nya.
Menjadi baik itu bukan sebuah cita-cita…
Jadi, jangan pernah bermimpi menjadi baik, sebab ia adalah kewajiban.
Ya, baik itu kewajiban!
Mengelus yang lemah, menyayangi yang renta, menundukkan yang terhalang mahram, melebarkan ulur pada semua, mengulum simpul tanpa membedakan.
Ya, baik itu gak pilih kasih.
“Lalu, apakah baik itu mudah?”
Tidak. Baik itu adalah usaha kamu memperbaiki, menjaga, mengamalkan, merenung, menghayati, menegur, mengoreksi, memendam, menunduk, menengadah…
Ya, baik itu adalah usaha terbaikmu mendapat apa yang kamu inginkan.
Baik…?
Sayang sekali, kita belum baik.
Sebab kita masih saja merusak rumah semut dengan sengaja.
Baik itu, tidak sesederhana meneguk Baygon, bro!
Karna orang baik, tempatnya bukan di Neraka.
![]() |
| Berkumpul dan berdiskusi tentang keagamaan |


0 komentar:
Posting Komentar