Sabtu, 11 Juni 2016

NAMAKU BIRU

Biru, begitulah orang-orang memanggilku saat pertama kali membuka mata.
Di sini, di desa yang entah apa nama tempatnya, aku hidup sendirian. Tak ada ayah, tak ada ibu, tak ada siapa-siapa. Aku tak tahu harus berterimakasih kepada Tuhan atas kesempatan hidup ini, atau membiarkan diri ikut terombang di antara amukan emosi. Tidak…tidak… Aku harus bersukur atas hidup ini, karna masih banyak orang di luar sana yang ingin dihidupkan kembali, hanya karna kesempatan untuk terus memperbaiki telah lewat.
            Namaku Biru, perempuan berusia dua puluh tahun yang selamat dari amukan raja laut 2004 lalu. Jangan tanya bagaimana aku bisa sampai di sini, tapi aku senang. Sebab aku masih mempunyai Langit di sisiku. Sosok pendiam dengan sejuta keistimewaan itu pun, mampu menjadi pengobat hati yang kehilangan. Lambat laun, aku bisa mengobati luka itu perlahan.
            Langit begitu sederhana, kesehariannya mencari ikan di laut. Sesekali ia mengajakku ikut berlayar bersama, menikmati sore di atas perahu yang sudah pudar warnanya. Aku semakin kagum Langit, pada sosok yang sudah kuanggap seperti kakak sendiri. Ia begitu perhatian pada kondisiku. Tiap kali aku merasa sedih merindui orangtua, ia datang dengan cerita garing yang menghibur. Aku suka Langit dengan segala bentuknya.

            Suatu hari, aku ingin meminta Langit membawa serta aku tuk pergi berlayar. Segala persiapannya sudah kusiapkan jauh hari. Namun Langit tak ada di sana. Berusaha kuberlari di sepanjang pantai hingga nafas sulit kuatur, wajahku juga ikut terbakar kepanasan. Aku tidak menemukan Langit di manapun. Aku sedih, aku kecewa, sebab Langit pergi tanpa memberi kabar lebih dulu. Aku marah, aku benci, sebab Langit telah membawa terbang harapan indah itu sendirian.

Bersambung....
[google.com]

0 komentar:

Posting Komentar