Biru, begitulah orang-orang memanggilku saat pertama
kali membuka mata.
Di sini, di desa yang entah apa nama tempatnya, aku
hidup sendirian. Tak ada ayah, tak ada ibu, tak ada siapa-siapa. Aku tak tahu
harus berterimakasih kepada Tuhan atas kesempatan hidup ini, atau membiarkan
diri ikut terombang di antara amukan emosi. Tidak…tidak… Aku harus bersukur
atas hidup ini, karna masih banyak orang di luar sana yang ingin dihidupkan
kembali, hanya karna kesempatan untuk terus memperbaiki telah lewat.
Namaku
Biru, perempuan berusia dua puluh tahun yang selamat dari amukan raja laut 2004
lalu. Jangan tanya bagaimana aku bisa sampai di sini, tapi aku senang. Sebab
aku masih mempunyai Langit di sisiku. Sosok pendiam dengan sejuta keistimewaan
itu pun, mampu menjadi pengobat hati yang kehilangan. Lambat laun, aku bisa
mengobati luka itu perlahan.
Langit
begitu sederhana, kesehariannya mencari ikan di laut. Sesekali ia mengajakku
ikut berlayar bersama, menikmati sore di atas perahu yang sudah pudar warnanya.
Aku semakin kagum Langit, pada sosok yang sudah kuanggap seperti kakak sendiri.
Ia begitu perhatian pada kondisiku. Tiap kali aku merasa sedih merindui
orangtua, ia datang dengan cerita garing yang menghibur. Aku suka Langit dengan
segala bentuknya.
Suatu
hari, aku ingin meminta Langit membawa serta aku tuk pergi berlayar. Segala
persiapannya sudah kusiapkan jauh hari. Namun Langit tak ada di sana. Berusaha
kuberlari di sepanjang pantai hingga nafas sulit kuatur, wajahku juga ikut
terbakar kepanasan. Aku tidak menemukan Langit di manapun. Aku sedih, aku
kecewa, sebab Langit pergi tanpa memberi kabar lebih dulu. Aku marah, aku
benci, sebab Langit telah membawa terbang harapan indah itu sendirian.
Bersambung....
![]() |
| [google.com] |

0 komentar:
Posting Komentar