Jumat, 15 Juli 2016

Melihatnya...

Melihatnya, melihat anak-anak Al-Mukhayyarah yang tumbuh menjadi anak yang shalih/ah
Melihat wajah kusam dan berminyak tapi bahagia
Tak ada tanda bahwa mereka akan sakit pada patah hati.
Tidak.
Mereka justru akan menangis bila disuruh tidur dan dikurung dalam kamar hanya karna lupa makan siang.
.
Melihatnya...
Melihat tubuh kecil mengkilap disapu sinar keemasan di tepi pantai Kuala Bak U,
Basah oleh hujan sore,
Mandi lumpur di tengah sawah tetangga.
Hingga diseret pulang ke rumah dengan ancaman besok tak boleh kelayapan.
.
Melihatnya..
Melihat mereka kemudian tunduk, menangis dan berjanji tidak mengulangnya lagi
Walau dua hari, tiga hari ke depan
Janji itu teringkar dengan sendirinya.
.
Melihatnya..
Melihat mereka yang masih ingusan diantar bahkan digendong hingga ke surau
Untuk mengaji alif, ba, ta
Mereka bahagia
Mereka bahagia meski tiba di sana pandang yang tersapu hanyalah engklek, karet dan tantang buku.
Mereka bahagia...
.
Melihatnya...
Melihat mereka yang jajannya hanya seribu rupiah sehari tak menjadi alasan untuk tidak sekolah..
Bahkan masih sempat disimpan 500 perak untuk ditabung.
Katanya mau beli pesawat terbang.
.
Mereka bahagia.
Mereka bahagia walau hanya makan tempe goreng, sayur bening dan sambal terasi.
Mereka bahagia.
Meski ikan asin dan teri lebih sering terjadwal sebagai menu.
Tak lupa sunti juga bawang dan cabai yang baru dipanen kemarin pagi.
Mereka bahagia.
.
Melihatnya...
Melihat mereka tak pernah mengeluh walau dianggap kuper.
Tak juga menolak meski lebaran tak berganti baju baru.
Tak mengapa meski meugang bukan sapi dan domba.
.
Mereka bahagia...
Mereka bahagia...
Dan aku rindu menjadi mereka lagi.
Mereka yang terlalu polos, tak pernah kenal ucap galau, baper dan saudaranya
.
“Ditonjok?”
“Balas tonjok!” Lalu tertawa bersama.
Tak ada HAM, penjara pun sepi waktu itu.

0 komentar:

Posting Komentar