Kamis, 23 Maret 2017

Kematian Sajak


Malam terseduh hangat dalam pekat kopi Gayo
Mengepul sejuta rasa yang tak lagi asing
Di sebalik pahitnya kopi Gayo, terpenjaralah tiga hasrat dalam satu sentuhan
Nikmat…
Nikmat…
Nikmat…

Seorang perempuan dengan bibir penuh lipstick meneguk pelan, sesap aroma yang mengepul di dinding gelas, hingga sekat aliran pekat di batang kerongkongan…
Nikmat…
Nikmat…
Nikmat…

Mulailah ia berkisah tentang hubungan secangkir sajak, cinta dan rindu
Dulu, sebelum cinta bertahta di atas sahwat,
Sajak dan rindu adalah sepasang kekasih, setiap suwa adalah anugrah.
Hingga suatu kali di luar tahu Rindu, Cinta mencumbu sajak dalam temaram.
Maka terpisahlah Sajak dan Rindu saat itu juga.

Cinta kembali menemui Sajak, ia bercerita tentang ingin tuk nikahi Sajak bagaimanapun caranya.
Dipaksalah Sajak menyatu dalam gairah kekata Cinta, hingga lebur keduanya pada tetes asmara.
Namun, kebahagian Cinta hanya lalu, sebab Sajak telah dulu menyunting rindu lewat pena.
Lalu, pergilah Sajak berkelana mencari Rindu, kekasihnya.

Sajak menyisir lembah keraguan, menyibak ilalang kekawatiran yang mengiris lekuk sampai tak berbentuk, tapi Sajak tetap maju, bahwa Rindu telah mematahkan segala aral melintang atas dirinya.

Selama perjalanan, panca dan roba mulai berbalas hasutan
Rasuki hati sajak tuk segera rebah dalam peluk Cinta kembali.
Namun, acap kali mereka menghantu, tak sedetik pun lengah Sajak mencari.
Suatu ketika, saat malam sudah dijemput pulang renjana,
Sajak mulai dirasuk gerah, lelah…
Sajak goyah dan gelisah.

Tatkala sajak hendak berbalik, tersentaklah jasad dalam buncah murka
Rindu yang ia cari telah berdusta

Ia lambungkan sajak dalam temu,
Hingga ketujuh langit pun retak
Lalu ia penjarakan Sajak kemudian di bumi hati

Sedang di belakang Sajak, Rindu berani bakar nyala dalam api Cinta
“Rindu, sungguh kau pengkhianat nyata.
Anggaplah aku tak pernah memilikimu selamanya.”

Maka pergilah sajak seorang diri, menerobos sang waktu, menaggal sakit yang menggila, lalu
Membunuh sajaknya sendiri.
Sajak mati dalam cangkir lipstick darah kepalsuan.

Kemudian, perempuan tadi kembali menyeruput sisa kopi terakirnya, seraya melanjutkan.
“Sayang sekali Sajak telah mati, padahal Cinta dan Rindu sama-sama lahir dari satu rahim, kehilangan.
Hanya saja, Sajak tidak sabar, ia terbawa emosi, enggan tahu-menahu tentang ikatan keduanya, bahkan bertanya hati pun tidak.

photo ilustrated by pixabay.com

0 komentar:

Posting Komentar