Malam terseduh hangat dalam
pekat kopi Gayo
Mengepul sejuta rasa
yang tak lagi asing
Di sebalik pahitnya
kopi Gayo, terpenjaralah tiga hasrat dalam satu sentuhan
Nikmat…
Nikmat…
Nikmat…
Seorang perempuan
dengan bibir penuh lipstick meneguk pelan, sesap aroma yang mengepul di dinding
gelas, hingga sekat aliran pekat di batang kerongkongan…
Nikmat…
Nikmat…
Nikmat…
Mulailah ia berkisah tentang
hubungan secangkir sajak, cinta dan rindu
Dulu, sebelum cinta
bertahta di atas sahwat,
Sajak dan rindu adalah sepasang
kekasih, setiap suwa adalah anugrah.
Hingga suatu kali di
luar tahu Rindu, Cinta mencumbu sajak dalam temaram.
Maka terpisahlah Sajak
dan Rindu saat itu juga.
Cinta kembali menemui
Sajak, ia bercerita tentang ingin tuk nikahi Sajak bagaimanapun caranya.
Dipaksalah Sajak
menyatu dalam gairah kekata Cinta, hingga lebur keduanya pada tetes asmara.
Namun, kebahagian Cinta
hanya lalu, sebab Sajak telah dulu menyunting rindu lewat pena.
Lalu, pergilah Sajak
berkelana mencari Rindu, kekasihnya.
Sajak menyisir lembah
keraguan, menyibak ilalang kekawatiran yang mengiris lekuk sampai tak berbentuk,
tapi Sajak tetap maju, bahwa Rindu telah mematahkan segala aral melintang atas
dirinya.
Selama perjalanan, panca
dan roba mulai berbalas hasutan
Rasuki hati sajak tuk
segera rebah dalam peluk Cinta kembali.
Namun, acap kali mereka
menghantu, tak sedetik pun lengah Sajak mencari.
Suatu ketika, saat
malam sudah dijemput pulang renjana,
Sajak mulai dirasuk
gerah, lelah…
Sajak goyah dan gelisah.
Tatkala sajak hendak
berbalik, tersentaklah jasad dalam buncah murka
Rindu yang ia cari
telah berdusta
Ia lambungkan sajak dalam
temu,
Hingga ketujuh langit
pun retak
Lalu ia penjarakan
Sajak kemudian di bumi hati
Sedang di belakang
Sajak, Rindu berani bakar nyala dalam api Cinta
“Rindu, sungguh kau
pengkhianat nyata.
Anggaplah aku tak
pernah memilikimu selamanya.”
Maka pergilah sajak
seorang diri, menerobos sang waktu, menaggal sakit yang menggila, lalu
Membunuh sajaknya
sendiri.
Sajak mati dalam
cangkir lipstick darah kepalsuan.
Kemudian, perempuan
tadi kembali menyeruput sisa kopi terakirnya, seraya melanjutkan.
“Sayang sekali Sajak
telah mati, padahal Cinta dan Rindu sama-sama lahir dari satu rahim,
kehilangan.
Hanya saja, Sajak tidak
sabar, ia terbawa emosi, enggan tahu-menahu tentang ikatan keduanya, bahkan
bertanya hati pun tidak.
![]() |
| photo ilustrated by pixabay.com |

0 komentar:
Posting Komentar