Terkadang tempat yang selalu ingin kita duduki tak
selamanya menjadi tujuan, bisa saja di tengah perjalanan, bosan menyikut lalu
berbelok, pulang. Ketika semuanya mundur ke belakang, semua menjadi abuabu.
Pelanpelan, hilang.
Seperti aku, di tempat ini.
Sejak pertama aku memutuskan menetap dan berbaur
dengan debu, berbagi sakit, menjelajahi sepanjang pantai belakang tanggul
setiap minggunya, bersua dengan laut biru malumalu dan langit yang lupa menutup
mata saat senja bersambut, semua tampak baik, semua kelihatan sempurna. Namun
hanya sesat, sesaat.
Tapi, lagilagi tempat yang kita pertahankan ikhlas,
tak selamanya menerima dengan tulus. Kadang kala waktu menentang, mungkin juga
jarak yang ambil alih bagian.
Di sini, setelah tiga kali puluh berganti, aku
memutuskan pergi. Bukan karena tempat yang menolak hadirku atau laut yang
tibatiba berubah manis.
Mulanya, di sini harapan akan melangit cinta baru
atau setidaknya mendung tak melulu cerita soal gigil dan basah. Tapi, kiraanku
jauh meleset, aku terlalu percaya pada cinta yang bertumbuh di selasar
jelatang. Ia tampak hijau padahal padahal sakit. Kepercayaan itu pun tumpah di
sepanjang jalan Tapaktuan, mengembun jadi titiktitik rapuh.
Sangkaku adalah salah besar. Ya, setelah hari itu,
aku tetaplah kosong. Hanya lelah di sini, berbantingbanting tulang, sedang
keringat sudah menganak sungai pun tak juga sejahtera.
Duh, di mana salahnya???
Ah, sudahlah!
Barangkali hanya perasaanku saja, putih dan hitam
sudah bertukar tempat di sini.
Atau mataku yang sudah senja…
Sudahlah…
Lupakan saja tentang langit merah jambu waktu itu, kelak
jika tempat ini masih menerima aku sebagai orang yang sama, kuharap putih
tetaplah putih dan hitam semestinya hitam. Jangan ditukar, apalagi hitam dan
putih dicampur jadi satu. Aku kurang suka, sedikit kecewa.[]
![]() |
| Sawang Indah |

0 komentar:
Posting Komentar