Senin, 06 November 2017

PAMIT

Terkadang tempat yang selalu ingin kita duduki tak selamanya menjadi tujuan, bisa saja di tengah perjalanan, bosan menyikut lalu berbelok, pulang. Ketika semuanya mundur ke belakang, semua menjadi abuabu. Pelanpelan, hilang.

Seperti aku, di tempat ini.
Sejak pertama aku memutuskan menetap dan berbaur dengan debu, berbagi sakit, menjelajahi sepanjang pantai belakang tanggul setiap minggunya, bersua dengan laut biru malumalu dan langit yang lupa menutup mata saat senja bersambut, semua tampak baik, semua kelihatan sempurna. Namun hanya sesat, sesaat.

Tapi, lagilagi tempat yang kita pertahankan ikhlas, tak selamanya menerima dengan tulus. Kadang kala waktu menentang, mungkin juga jarak yang ambil alih bagian.
Di sini, setelah tiga kali puluh berganti, aku memutuskan pergi. Bukan karena tempat yang menolak hadirku atau laut yang tibatiba berubah manis.

Mulanya, di sini harapan akan melangit cinta baru atau setidaknya mendung tak melulu cerita soal gigil dan basah. Tapi, kiraanku jauh meleset, aku terlalu percaya pada cinta yang bertumbuh di selasar jelatang. Ia tampak hijau padahal padahal sakit. Kepercayaan itu pun tumpah di sepanjang jalan Tapaktuan, mengembun jadi titiktitik rapuh.

Sangkaku adalah salah besar. Ya, setelah hari itu, aku tetaplah kosong. Hanya lelah di sini, berbantingbanting tulang, sedang keringat sudah menganak sungai pun tak juga sejahtera.

Duh, di mana salahnya???
Ah, sudahlah!
Barangkali hanya perasaanku saja, putih dan hitam sudah bertukar tempat di sini.
Atau mataku yang sudah senja…

Sudahlah…

Lupakan saja tentang langit merah jambu waktu itu, kelak jika tempat ini masih menerima aku sebagai orang yang sama, kuharap putih tetaplah putih dan hitam semestinya hitam. Jangan ditukar, apalagi hitam dan putih dicampur jadi satu. Aku kurang suka, sedikit kecewa.[]

Sawang Indah

0 komentar:

Posting Komentar