Selasa, 07 November 2017

7 Langkah Menulis Asik

Pelatihan jurnalistik 2015-2016
Jika ditilik dan ditelusuri lebih lanjut, tulisan, buku bahkan penulis bukan satu hal asing lagi di lingkungan kita. Ada banyak penulis bermunculan saat ini, mulai kelas biasa hingga bintang lima, mulai yang masih berseragam merah-putih hingga berseragam kopri, mulai dari pemula sampai senior, dari yang sudah keliling dunia, sampai ibu rumah tangga.

Mulai dari bacaan ringan seperti dongeng, anak-anak berdoa hingga sejarah orang-orang terdahulu ada yang tulis, dan toko buku pun sudah tak sulit lagi ditemukan, apalagi kebanyakan dari kita lebih banyak menyentuh layar ponsel untuk mencari referensi yang diinginkan, “oke google bla…bla…”

Nah, begitupun dengan saya. Sebagai seorang yang mengaku masih buta dengan dunia literasi juga punya cara sendiri mengatasi berbagai kegalauan dalam menulis, entah dikarenakan ide yang tak kunjung datang, susah memulai tulisan, tema yang rumit atau alur yang biasa saja. Berikut tujuh langkah menulis asik yang ingin saya bagikan kepada kalian semua, mudah-mudahan bermanfaat.

1               .   Niat

Sebelum memulai menulis, baiknya ditetapkan niat lebih dulu. Untuk apa kita menulis, sekadar dibaca orang, biar terkenal atau bisa mencerahkan dan menebar manfaat bagi orang lain.

Kang Abik, contohnya. Dengan sebuah niatan memperbaiki akhlak bangsa melalui tulisan, aktivis Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Kairo ini tergugah untuk menghasilkan karya sastra yang menghibur dan mencerahkan. Wal-hasil, meluncurlah dari goresan tangannya Ayat-Ayat Cinta, sebuah novel maha karya yang laris secara fenomenal bahkan diangkat ke layar lebar, termasuk beberapa buku bernada serupa. Bahkan yang paling membuming sekalipun, dwilogi Ketika Cinta Bertasbih yang diluncurkan pada Milad ke-10 FLP pada 2006 dan langsung dua kali cetak ulang dalam 1 bulan. Luar biasa bukan?

Lihat?, kang Abik niatnya untuk memperbaiki akhlak manusia dengan tulisan. Bukan ingin terkenal atau bisa mendadak jadi milyader. Tapi kenyataannya, ia mendapat tiga anugrah sekaligus dalam sepaket hanya karna apa yang ia niatkan itu benar-benar lillaahita’ala.
“Tak ada yang mustahil, loh.”

2            .    Beternak Ide

Dalam hal ini, penulis sering merasa galau lantaran kehabisan kata atau ide tak datang membawa pencerahan. Karna itu, ide kerap dikambing hitamkan penulis sebab ia enggan berkunjung membentuk tulisan. Padahal jika menilik lebih jauh, ide itu adalah diri kita sendiri.

          “Bagaimana bisa?”
         “Ya, bisa!”

Kita sering merasa bergairah terhadap hal besar sehingga menyepelekan hal kecil. Padahal kita tahu, tanpa hal dasar dan sepele tersebut, tidak akan ada hal yang mengagumkan. Ia adalah modal dasar untuk membentuk tulisan yang maha dahsyat.

Begini, jika setiap harinya kita diantar-jemput sama angkutan umum, maka tibalah hari itu angkutannya telat datang. Nah, kita bisa menuliskannya dengan sederhana.

“Ah, labi-labinya ingkar janji.”

Dari hal-hal sepele macam itulah tulisan-tulisan luar biasa akan lahir.

Siapa sangka jika coretan ide JK Rowling di atas tisu bekas akan menjelma menjadi bayi raksasa bernama Harry Potter yang bertahun-tahun menghipnotis dunia?

Ingat, jangan menyepelekan satu kata yang melintas di hati. Catat ia di manapun entah di labtop, di notebook, di Hp, di tangan, tapi jangan di dinding. Sebab dinding bukan labtop yang bisa di undo-redo.

Jika ide masih belum berpihak kepadamu, maka pebanyak referensi dengan membaca. Semakin banyak engkau membaca, semakin melimpah pula ide-ide untuk ditulis. Lagi, penulis itu tidak hanya bermodal hayalan semata. Ia juga butuh piknik untuk menambah wawasan, dan sebaik-baik piknik dalam menulis itu adalah membaca karya orang lain, bukan menjiplak.
.      Awali Dengan Hal Yang Ringan
Coba dan berlatihlah dengan tiga kata yang berbeda, kemudian kawinkan ketiganya hingga membentuk satu paragraf satu kesatuan. Sebut saja rindu, coklat dan politik.

“Entah kenapa, jika melihat politik di Indonesia, aku ingin mengunyah coklat. Begitu manis tampak di mata, tapi pahit jika tiba di tenggorokan. Andai saja aku terlahir di masa khulafaurrasyidin, aku ingin meminta Abu Bakar yang menjadi pemimpin negeri ini. Sehingga tidak ada kebenaran yang dikasatkan, pun tak ada kejahatan yang terselubung. Ah, mengingatnya saja aku semakin rindu, apalagi berperan langsung. Oh betapa…”

Begitulah, jika tiga kata terlalu mudah untuk menulis, maka anda bisa menambahkan porsi katanya atau meningkatkan level kesukaran, biar pikiran anda semakin terasah dan liar.
.      Menentukan Judul
Sebagai penulis pemula, terkadang judul menjadi sesuatu yang dianggap paling mudah, sebab sangking mudahnya, judul itu dibuat di awal. Hehe…

Sah-sah saja memang, namun kerap kali judul di awal membuat pikiran kita terbatas untuk memikirkan hal-hal lain yang mungkin jauh lebih penting. Selain itu, kita pun sering terjebak dengan judul yang sama, meski pada kenyataannya redaksi judul sering dibalik atau diubah sedikit ujungnya, sehingga pembaca dengan sangat mudah bisa menebak maksud dari cerita yang kita garap. Niatnya ingin membuat penasaran, malah ketahuan lebih dulu siapa pembunuhnya.

Jadi, jika ingin menentukan judul, maka carilah sesuatu yang memang sulit ditebak, bahkan terlintas saja tidak, sehingga kita benar-benar memfokuskan diri untuk terus membaca, membaca hingga lembar terakir.

Tidak memberitahukan kata kunci di awal, misalnya Surat Terakir Nayla. Biasanya kata terakir identik dengan kematian, dan terbukti, kebanyakan penulis yang membuat judul “terakir” endingnya memang begitu, dan lain sebagainya.

Contoh klasiknya adalah berita yang luar biasa bukanlah anjing menggigit orang tapi orang yang menggigit anjing. Barangkali terkesan ngawur. Namun dalam konteks menarik perhatian pembaca, pendekatan tersebut bisa kita pakai.

5        .    Bermain Narasi/ Dialog
Salah satu hal yang paling berkesan dan membuat seru dalam sebuah tulisan itu adalah narasi.

Bagaimanakah perasaan seorang istri patah hati lantaran sang suami lebih memilih menyayangi kucing yang bahkan tak punya buku nikah, dibanding dirinya.

Lagi, jika terlalu banyak narasi atau memubazirkan pemakaian kata melambai-lambai kerap kali membuat pembaca bosan sekaligus menoton.

“Hari ini langit kelabu, ia seolah mengerti bahwa hatiku sedang merana.” Terkesan biasa.
Tapi, bandingkan dengan ini,

“Sejak di-PHP-in kawan kampus seminggu lalu yang tak tahunya sudah punya anak tiga. Hatiku mulai terbiasa gerimis, bahkan langit pun sering memutar ulang kisah pahit itu dalam sendunya.”
.      Meniupkan Ruh
Seperti makan nasi. Bila kita menjadikan nasi sebagai makanan pokok, tentulah makan bukan dengan nasi tidak bisa dianggap makan, belum afzal istilah kerennya.

Jika makanan pokok tak mengisi perut, maka sudah bisa dipastikan banyak hal-hal yang tak diinginkan terjadi. Sakit perut lah, lemas, pusing, gagal fokus dan masih banyak lagi. Sebab makanan pokok merupakan sumber energi bagi tubuh manusia.

Ya, begitu juga dengan menulis. Jika kita ingin mendapat hasil sempurna dari tulisan kita, maka kita harus meniupkan ruh sedalam-dalam mungkin. Ruh tulisan itu bisa kita dapatkan dengan energi. Sebab tanpa energi, tulisan kita hanya tinggal butiran debu. Sedang energi sebuah tulisan itu terletak pada waktu dan keistiqamahannya menulis.

Jadi, menulis tanpa mengatur waktu akan membuang waktu. Sedangkan menulis tanpa istiqamah (berlanjut) menjadikan kamu bukan penulis, tapi pemimpi. Hanya bisa menunggu tulisan-tulisan itu beternak dengan sendirinya, sehingga rawan bagi laba-laba untuk beranak-cucu.
.      Menjadi Epigon
Yang namanya ekor letaknya selalu di belakang. Ia membuntuti sesuatu yang berada di depannya. Dalam kepenulisan, orang yang meniru-niru gaya tulisan seorang penulis lazim disebut epigon. Sebagaimana ekor yang takkan pernah mendahului kepala, seorang epigon tidak akan pernah berhasil mengungguli penulis yang ditirunya. Lantas salahkah menjadi epigon?

Kita boleh membaca karya orang lain, bahkan sangat dianjurkan agar ide itu tidak vakum dengan sendirinya. Namun, membaca karya orang lain, bukan berarti mengkopi lalu mempaste bulat-bulat begitu saja, tidak. Sekalipun kita membaca berkali dan berkala tulisan yang sama, bahkan dari penulis yang sama, tetap saja kita akan menemukan gaya tulisan kita sendiri.  

“Percaya?” Karna setiap kita punya masing-masing pembaca sendiri, tak tergantikan, sekalipun oleh penulis yang sudah mendunia. Namun, dari semua penjelasan di atas, hal yang wajib dihitamkan adalah;

-JIKA KAMU INGIN MENJADI PENULIS, MAKA MENULISLAH.

SEBAB MIMPI SAJA TAK CUKUP MENJADIKAN KAMU SEORANG PENULIS-


Pelatihan jurnalistik 2016

Pelatihan jurnalistik 2016


0 komentar:

Posting Komentar