![]() |
| Pelatihan jurnalistik 2015-2016 |
Jika
ditilik dan ditelusuri lebih lanjut, tulisan, buku bahkan penulis bukan satu hal
asing lagi di lingkungan kita. Ada banyak penulis bermunculan saat ini, mulai
kelas biasa hingga bintang lima, mulai yang masih berseragam merah-putih hingga
berseragam kopri, mulai dari pemula sampai senior, dari yang sudah keliling
dunia, sampai ibu rumah tangga.
Mulai
dari bacaan ringan seperti dongeng, anak-anak berdoa hingga sejarah orang-orang
terdahulu ada yang tulis, dan toko buku pun sudah tak sulit lagi ditemukan,
apalagi kebanyakan dari kita lebih banyak menyentuh layar ponsel untuk mencari
referensi yang diinginkan, “oke google bla…bla…”
Nah,
begitupun dengan saya. Sebagai seorang yang mengaku masih buta dengan dunia
literasi juga punya cara sendiri mengatasi berbagai kegalauan dalam menulis,
entah dikarenakan ide yang tak kunjung datang, susah memulai tulisan, tema yang
rumit atau alur yang biasa saja. Berikut tujuh langkah menulis asik yang ingin
saya bagikan kepada kalian semua, mudah-mudahan bermanfaat.
1 . Niat
Sebelum memulai menulis, baiknya ditetapkan niat
lebih dulu. Untuk apa kita menulis, sekadar dibaca orang, biar terkenal atau
bisa mencerahkan dan menebar manfaat bagi orang lain.
Kang Abik,
contohnya. Dengan sebuah niatan memperbaiki akhlak bangsa melalui tulisan,
aktivis Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Kairo ini tergugah untuk menghasilkan
karya sastra yang menghibur dan mencerahkan. Wal-hasil, meluncurlah dari goresan
tangannya Ayat-Ayat Cinta, sebuah novel maha karya yang laris secara fenomenal
bahkan diangkat ke layar lebar, termasuk beberapa buku bernada serupa. Bahkan
yang paling membuming sekalipun, dwilogi Ketika Cinta Bertasbih yang
diluncurkan pada Milad ke-10 FLP pada 2006 dan langsung dua kali cetak ulang
dalam 1 bulan. Luar biasa bukan?
Lihat?, kang Abik
niatnya untuk memperbaiki akhlak manusia dengan tulisan. Bukan ingin terkenal
atau bisa mendadak jadi milyader. Tapi kenyataannya, ia mendapat tiga anugrah
sekaligus dalam sepaket hanya karna apa yang ia niatkan itu benar-benar
lillaahita’ala.
“Tak ada yang
mustahil, loh.”
2 . Beternak
Ide
Dalam
hal ini, penulis sering merasa galau lantaran kehabisan kata atau ide tak
datang membawa pencerahan. Karna itu, ide kerap dikambing hitamkan penulis
sebab ia enggan berkunjung membentuk tulisan. Padahal jika menilik lebih jauh,
ide itu adalah diri kita sendiri.
“Bagaimana
bisa?”
“Ya,
bisa!”
Kita sering merasa bergairah terhadap hal besar
sehingga menyepelekan hal kecil. Padahal kita tahu, tanpa hal dasar dan sepele tersebut,
tidak akan ada hal yang mengagumkan. Ia adalah modal dasar untuk membentuk
tulisan yang maha dahsyat.
Begini, jika setiap harinya kita diantar-jemput sama
angkutan umum, maka tibalah hari itu angkutannya telat datang. Nah, kita bisa menuliskannya
dengan sederhana.
“Ah, labi-labinya ingkar janji.”
Dari hal-hal sepele macam itulah tulisan-tulisan
luar biasa akan lahir.
Siapa sangka jika
coretan ide JK Rowling di atas tisu bekas akan menjelma menjadi bayi raksasa
bernama Harry Potter yang bertahun-tahun menghipnotis dunia?
Ingat, jangan
menyepelekan satu kata yang melintas di hati. Catat ia di manapun entah di
labtop, di notebook, di Hp, di tangan, tapi jangan di dinding. Sebab dinding
bukan labtop yang bisa di undo-redo.
Jika ide masih
belum berpihak kepadamu, maka pebanyak referensi dengan membaca. Semakin banyak
engkau membaca, semakin melimpah pula ide-ide untuk ditulis. Lagi, penulis itu
tidak hanya bermodal hayalan semata. Ia juga butuh piknik untuk menambah
wawasan, dan sebaik-baik piknik dalam menulis itu adalah membaca karya orang
lain, bukan menjiplak.
.
Awali
Dengan Hal Yang Ringan
Coba dan
berlatihlah dengan tiga kata yang berbeda, kemudian kawinkan ketiganya hingga
membentuk satu paragraf satu kesatuan. Sebut saja rindu, coklat dan politik.
“Entah kenapa, jika
melihat politik di Indonesia, aku ingin mengunyah coklat. Begitu manis tampak
di mata, tapi pahit jika tiba di tenggorokan. Andai saja aku terlahir di masa
khulafaurrasyidin, aku ingin meminta Abu Bakar yang menjadi pemimpin negeri
ini. Sehingga tidak ada kebenaran yang dikasatkan, pun tak ada kejahatan yang terselubung.
Ah, mengingatnya saja aku semakin rindu, apalagi berperan langsung. Oh betapa…”
Begitulah, jika
tiga kata terlalu mudah untuk menulis, maka anda bisa menambahkan porsi katanya
atau meningkatkan level kesukaran, biar pikiran anda semakin terasah dan liar.
.
Menentukan
Judul
Sebagai penulis
pemula, terkadang judul menjadi sesuatu yang dianggap paling mudah, sebab
sangking mudahnya, judul itu dibuat di awal. Hehe…
Sah-sah saja memang,
namun kerap kali judul di awal membuat pikiran kita terbatas untuk memikirkan
hal-hal lain yang mungkin jauh lebih penting. Selain itu, kita pun sering
terjebak dengan judul yang sama, meski pada kenyataannya redaksi judul sering
dibalik atau diubah sedikit ujungnya, sehingga pembaca dengan sangat mudah bisa
menebak maksud dari cerita yang kita garap. Niatnya ingin membuat penasaran,
malah ketahuan lebih dulu siapa pembunuhnya.
Jadi, jika ingin
menentukan judul, maka carilah sesuatu yang memang sulit ditebak, bahkan
terlintas saja tidak, sehingga kita benar-benar memfokuskan diri untuk terus
membaca, membaca hingga lembar terakir.
Tidak
memberitahukan kata kunci di awal, misalnya Surat Terakir Nayla. Biasanya kata
terakir identik dengan kematian, dan terbukti, kebanyakan penulis yang membuat
judul “terakir” endingnya memang begitu, dan lain sebagainya.
Contoh klasiknya
adalah berita yang luar biasa bukanlah anjing menggigit orang tapi orang yang
menggigit anjing. Barangkali terkesan ngawur. Namun dalam konteks menarik perhatian
pembaca, pendekatan tersebut bisa kita pakai.
5 . Bermain Narasi/ Dialog
Salah satu hal yang
paling berkesan dan membuat seru dalam sebuah tulisan itu adalah narasi.
Bagaimanakah perasaan
seorang istri patah hati lantaran sang suami lebih memilih menyayangi kucing
yang bahkan tak punya buku nikah, dibanding dirinya.
Lagi, jika terlalu
banyak narasi atau memubazirkan pemakaian kata melambai-lambai kerap kali
membuat pembaca bosan sekaligus menoton.
“Hari ini langit kelabu,
ia seolah mengerti bahwa hatiku sedang merana.” Terkesan biasa.
Tapi, bandingkan dengan ini,
“Sejak di-PHP-in
kawan kampus seminggu lalu yang tak tahunya sudah punya anak tiga. Hatiku mulai
terbiasa gerimis, bahkan langit pun sering memutar ulang kisah pahit itu dalam
sendunya.”
.
Meniupkan
Ruh
Seperti makan nasi.
Bila kita menjadikan nasi sebagai makanan pokok, tentulah makan bukan dengan
nasi tidak bisa dianggap makan, belum afzal istilah kerennya.
Jika makanan pokok
tak mengisi perut, maka sudah bisa dipastikan banyak hal-hal yang tak
diinginkan terjadi. Sakit perut lah, lemas, pusing, gagal fokus dan masih
banyak lagi. Sebab makanan pokok merupakan sumber energi bagi tubuh manusia.
Ya, begitu juga
dengan menulis. Jika kita ingin mendapat hasil sempurna dari tulisan kita, maka
kita harus meniupkan ruh sedalam-dalam mungkin. Ruh tulisan itu bisa kita
dapatkan dengan energi. Sebab tanpa energi, tulisan kita hanya tinggal butiran
debu. Sedang energi sebuah tulisan itu terletak pada waktu dan keistiqamahannya
menulis.
Jadi, menulis tanpa
mengatur waktu akan membuang waktu. Sedangkan menulis tanpa istiqamah
(berlanjut) menjadikan kamu bukan penulis, tapi pemimpi. Hanya bisa menunggu
tulisan-tulisan itu beternak dengan sendirinya, sehingga rawan bagi laba-laba
untuk beranak-cucu.
.
Menjadi
Epigon
Yang namanya ekor
letaknya selalu di belakang. Ia membuntuti sesuatu yang berada di depannya.
Dalam kepenulisan, orang yang meniru-niru gaya tulisan seorang penulis lazim
disebut epigon. Sebagaimana ekor yang takkan pernah mendahului kepala, seorang
epigon tidak akan pernah berhasil mengungguli penulis yang ditirunya. Lantas
salahkah menjadi epigon?
Kita boleh membaca
karya orang lain, bahkan sangat dianjurkan agar ide itu tidak vakum dengan
sendirinya. Namun, membaca karya orang lain, bukan berarti mengkopi lalu mempaste
bulat-bulat begitu saja, tidak. Sekalipun kita membaca berkali dan berkala
tulisan yang sama, bahkan dari penulis yang sama, tetap saja kita akan
menemukan gaya tulisan kita sendiri.
“Percaya?” Karna setiap
kita punya masing-masing pembaca sendiri, tak tergantikan, sekalipun oleh
penulis yang sudah mendunia. Namun, dari semua penjelasan di atas, hal yang wajib
dihitamkan adalah;
-JIKA KAMU INGIN MENJADI PENULIS, MAKA
MENULISLAH.
SEBAB MIMPI SAJA TAK CUKUP MENJADIKAN KAMU
SEORANG PENULIS-
![]() |
| Pelatihan jurnalistik 2016 |
![]() |
| Pelatihan jurnalistik 2016 |



0 komentar:
Posting Komentar