Sabtu, 04 Maret 2017

Pertama Kali Naik Pesawat

Alhamdulillah sejak tulisan ini tertulis, aku sudah kembali ke tempat di mana aku dibesarkan, Kotafajar.
Dulu, dulu sekali, aku selalu jatuh hati kepada langit. Ah tidak, bahkan sampai hari ini, aku masih jatuh bahkan hingga nanti pun birunya tetap yang paling indah di mataku. Bagaimana tidak, tiap kali aku menatap langit, aku selalu melihat pesawat melintas bebas di depan mata. Bahkan demi melihat pesawat mengepul asap di atap sekolahku, aku rela-relain keluar kelas atau jin-jit di balik daun jendela. Begitu memalukan tampaknya.
Tapi siapa sangka, untuk kesekian kalinya, Allah menjawab doaku, doa kecil yang selalu kuaminkan pada sayap raksasa mengangkasa. Harapan yang tak pernah kutulis, tapi selalu kuaminkan dalam sujud-sujud panjang.
Untuk pertama kali, aku bisa masuk dalam gumpal mega berkelok, atau menerobos mendung, mengamati tempat tinggalku yang bahkan lebih kecil dari semut, hingga laut tampak seperti permadani biru yang bergerak syahdu.
Aku mungkin terlalu norak menulis hal ini, tidak masalah, kuanggap ini adalah norak yang mengagumkan.  Selama niat itu ada, maka tidak ada alasan untuk malu.
Perjalanan yang memakan hampir 7 jam lamanya, terhitung transit selama 45 menit di Bandara Hang Nadim-Batam itu tak membuatku patah arang. 
Bandara Hang Nadim-Batam
Photo by Naulan Millatina

Bandara Hang Nadim-Batam
Photo by Naulan Millatina

 Hang Nadim-Batam dari jendela kaca bandara
Photo by Naulan Millatina

Meski tubuh dan mata sudah sering memberi kode untuk diistirahatkan, tapi aku tetap ngotot, memaksa mereka tetap kuat dan terjaga. Bersukur sekali aku punya teman kece yang selalu bisa diajak melek bersama. Awalnya aku memang agak kikuk bersebelahan dengannya, penampilan dan setelan gamis hitam elegan dengan pasmina warna pink soft berpadu putih, hijau dan abu susu ala wanita Turky yang ia kenakan membuat aku semakin yakin bahwa ia seorang yang susah diajak ngobrol dan bergaul.
Namanya Chaca. Ya, orang-orang bahkan memanggilnya Arabian atau Turkisian. Hidung mancung , pipi tirus dengan rahang yang sedikit menonjol membuat ia selalu cantik dengan pakaian apapun yang ia kenakan, tentunya pakaian yang menutup aurat.
Chaca teman SD-nya Naulan, dan Nulan teman seperjuanganku selama di kampus UIN Ar-Raniry, mulai dari mengantri jam 4 subuh untuk bisa ikut PPKPM yang katanya bisa mempercepat wisuda, mengajar jurnalistik dan karya tulis ilmiah di Darul Ulum, hingga berlelah-lelah nyudut di barisan kedua, tiga sebagai cadangan di depan ruangan tes toefl, demi mengejar skor 480 minimal sebagai syarat siding.
Ya, aku memang sudah lama mengenal Naulan, tapi baru-baru ini aku merasa lebih dekat saja, seperti sudah menemukan kembali persamaan visi-misi yang mungkin pernah hilang, di samping itu juga ada hati dan cinta yang mulai bertaut. Entahlah, semua itu kurasa tak pernah jauh dari takdir, aku selalu percaya itu.

Masih bisa nyengir, paadahal itu tubuh lelahnya minta ampun -_-
Photo selfy by +naulan millatina 

Baik, lupakan soal pendeskripsian yang berlebih, kembali ke tokoh wanita Aceh rasa Arab. Jujur, aku sangat kagum padanya, bukan karna penampilan, melainkan tingkahlaku yang tercermin darinya. Aku suka, sangat-sangat suka. Sepanjang burung raksasa itu terbang, ia terus membaca Al-quran perlahan, hampir terdengar berbisik, tapi jelas aku masih bisa menangkap lantunannya, sebab ia berada tepat di samping kananku.
Aku sangat kagum, akirnya pemandangan di tempatku, Aceh kembali kutemukan di sini. Ya, meskipun aku juga menemukan beberapa ayat yang masih kurang benar bacaannya, terutama dalam urusan makharijul huruf dan maad. Tidak masalah, selama ia sudah mencoba, aku hargai itu, dan mudah-mudahan malaikat mencatatnya sebagai amal kebaikan.


Setelah hampir satu jam lebih aku mendengar ia terlarut dengan mushaf biru kehijauan, barulah suasana hangat mulai mengalir. Ternyata, Chaca orangnya cair banget, kayak es batu dipanasin pakai kompor gas. Bahkan kala semua orang terlelap, kami sempat-sempatnya menonton Habibie dan Ainun 2 di dalam pesawat. Kebayang kan gimana keadaan waktu itu. Naulan, Fitri, Oja dan kak Dilla yang duduk di depan kami merasa cemburu. Jelaslah, sepertinya stok cuap-cuap mereka sudah habis, pun wajah mereka tidak bisa membohongi kelelahan.
Belum habis filem tersebut terputar, mbak pramugari sudah berkoor lewat pengeras suara, pesawat Lion Air-nya akan segera mendarat. Yah, ketika Chaca hendak mematikan labtop, eh si mbak malah datangin tempat kita sambil ngedumel gimana gitu.
Sabar-sabar, ucapku menenangkan, anggap saja kita dapat tausiah gratis on the spot.  Setelah berjuang melawan desing besi dari ketinggian tak hingga, akhirnya, tepat pukul 9 malam, kami berlima sampai di bandara Juanda yang disambut hangat oleh pengendara taxi.

Sultan Iskandar Muda Airport
taken by mama kak DIlla
Be Continue...

2 komentar:

  1. Bagus tulisannya Naw. Tapi kayanya judul ama isi kursam deh. Hihi #cmiiw
    Follow me ya Naw on kataluguku.blogspot.com :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha...
      Sesekali biarlah begitu adanya Khamis. But, thanks for coming ^_^

      Hapus