![]() |
| Masjid raya sebelum direnovasi |
Aku
tak pernah mengira sebelumnya, bahwa nama ayah dan ibuku punya inisial sama.
Entah kebetulan, atau memang disengaja. Di sini, aku tidak akan menceritakan
asal usul huruf S di depan nama orangtua, tapi lebih jauh lagi, tentang
keluargaku.
Ayahku
bernama Syamsul Bahri. Tapi di Meukek, tempat ayahku dilahirkan, orang-orang
memanggilnya cek Tson atau si Tson (pengucapannya seperti ‘tsa’ dalam huruf
hijaiyah). Meskipun begitu, ayah tak pernah marah atas penyebutan tersebut,
beliau menikmati selayaknya menghirup kopi Menggamat yang masih mengepul asap.
Ayah
memang lahir di Meukek, daerah pesisir pantai Barat Selatan, yang condong
dingin. Tapi, karna kecintaannya kepada sang istri, ibuku, ayah memilih pindah
ke Kotafajar, tempat adik keduaku dilahirkan.
Memang
ayah tidak menamatkan kuliah, seperti ayah-ayah lainnya, namun lulus setingkat SMEA
saja, sudah menjadi kebanggan tersendiri baginya, dikarenakan kakek dan nenek
tak punya cukup uang membiayai kuliah ayah. Tak masalah sih, kan rejeki didapat
bukan hanya dari ijazah. Hanya bermodal ikhtiar, ayah merantau ke Banda Aceh
dan dipercaya menjadi bagian dari keluarga Bumi Putra.
Di
sanalah cinta pun bersemi. Bukan di Bumi Putranya, tapi di terminal bus, saat
ibuku kehilangan koper yang berisi uang dan baju wisuda. Entah waktu itu ayah
kasian sama perempuan yang menangis di salah satu trotoar, beliau pun
menggadaikan emas ibunya untuk membiayai wisuda perempuan malang tersebut,
esoknya.
Singkat
cerita, hubungan ayah dan ibu berlanjut ke pelaminan.
Sisi
lain dari ayah, bukan seberapa banyak materi yang diberikan kepadaku dan
adik-adik. Lebih jauh lagi, beliau adalah sahabat, teman curhat, pelindung
sekaligus menjadi bapak rumah tangga, saat ibu keguguran adik ketigaku.
Harta
ayah memang tidak melimpah, tapi paling tidak, ayah tipe pekerja keras. Kolam ikan,
aroma kebun, buah pala dan bunga lawang lebih dirindukannya, ketimbang goyangin
kaki di rumah, apalagi duduk berlama-lama di warung kopi.
Hal
yang paling aku sukai, ketika mengajak belanja di pasar terdekat. Bila sudah
cocok dan menyangkut di hati, aku bahkan ibuku diminta untuk menjauhi toko,
bisa kita tebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Ayah akan banting penawaran
serendah-rendahnya, tanpa menyinggung hati penjual dalam kecewa. Keren, kan?
Ibuku
juga gak kalah keren, kok. Lengkapnya Suryati. Tapi dua tahun terakir, nama itu
bertambah tiga huruf, S.Pd. Punya karakter antagonis melebihi ibu tiri di film
Cinderella, dengan hati seputih Putri Salju.
Di
sekolah MTs Kluet Utara, tempat ibu mengajar. Beliau dikenal dengan gelar ibu
anu. Bilangan yang tak jelas bentuknya di dalam Mate-Matika namun dia ada,
selalu menjadi headline news di kalangan anak-anak, bilangan itu
adalah NOL. Dia ada, tapi tidak ada.
Keunikan
lain dari ibu, ketika bulan ramadhan. Tak perlu menghidupkan alarm untuk
membangunkan sahur. Meski di lantai dua sekalipun, suara ibu, jauh lebih seksi
dari TOA di meunasah-meunasah terdekat. Kesukaan ibuku yang paling heboh itu,
dangdut. Bayangin aja, ketika adik bungsu lagi seru nonton spongebob, ibu malah
marah-marah minta diganti ke chanel yang ada dangdutnya.
Wal-hasil,
cok tipi mulai lepas satu per satu. Beruntung aku pulang kali ini tidak seheboh
dulu-dulu. Sekarang, tipinya cuma bisa mengeluarkan suara tanpa gambar. Itu
sudah maklum, usia tipinya aja lebih tua dari aku yang sudah kepala dua.
Selanjutnya,
Fathmatul Badriah. Kelas 3 SMA yang hobinya ke pasar minggu tiap pulang
liburan. Bolak-balik pagi, siang dan sore tak membuatnya gerah, apalagi bosan.
Telur mata sapi dicampur potongan cabe rawit dan bawang bombai adalah menu
kesukaannya. Bahkan selama satu bulan penuh, telur selalu menjadi bagian wajib
saat berbuka dan sahur.
Muhammad
Al-Muwarisin, adik yang paling akhir. Yang ini juga gak kalah heboh. Tiba-tiba
sms pake hp ayah, minta dibuatin facebook. Untuk anak kelas V S.D, itu gak
wajar sih, menurutku, dan lebih gak wajar lagi, pas tiba-tiba dia minta disunat
sebelum naik kelas empat.
Aris
selalu menyalahkan aku yang lahir duluan. Dia gak suka jadi anak yang terakir,
lagi, diantara kami bertiga, hanya kulitnya yang paling sawo ketimpa sinar
ultra violet. Mengaji paling gak bisa kalau dibenerin pake irama, jika itu
terjadi, maka dia akan tutup juz amma, dan langsung hengkang keluar. Jadi,
kalau benerin gimana? Solusinya hanya satu, cukup dengan berdehem panjang, maka
dia akan mengulangi lagi-lagi sampai benar-benar bisa.
Terakhir
adalah aku. Zahraton Nawra. Paling baik diantara keduanya. Sedikit muji, sih.
Tapi, karna itulah aku dipanggil kakak. Selain aku pertama kali nongol di dunia,
sebelum Fafat dan Aris. Aku dan bungsu memang jauh berbeda. Tapi lebih berbeda
jika dibandingin si tengah.
Pernah
suatu hari, ketika aku berkunjung ke rumah teman masa putih-dongker, si adik
yang aku bawa ikut, malah dianggap teman. Tanpa merasa bersalah, si kawan malah
ngelanjutin lagi kalau kami berdua gak ada miripnya. Ah, untung, waktu itu aku
gak lupa minum air, buat dinginin hati yang pengen ngelonjak ke luar.
Memang
sih. Kalau dilihat dari bukit Thursina pun, kami gak ada miripnya, kecuali hidung
minimalis.
Dia
kurus bin kerempeng, sampai entu tulang minta jalan-jalan sendiri kalau lagi
tidur. Aku udah subur, makmur lagi. Dia tinggi untuk seukuran anak SMA
seusianya, lah aku, bahasa kerennya semekot,
semester kotor. Kulitku memang lebih cerah, bukan tanpa alasan. Karna sejak
kecil, aku selalu jadi anak rumahan, dan dia anak jalanan, eh anak sering kelayapan
di luar.
Walau
begitu, aku bangga menjadi bagian dari perkembangan mereka. Suka menjadi kakak
mereka, dan bahagia terlahir dari keluarga S. Terima kasih sudah melahirkan aku
ke dunia.
![]() |
| Mereka adalah cintaku yang sebenarnya |


0 komentar:
Posting Komentar