Kamis, 17 November 2016

Bangga Jadi Keluarga S

Masjid raya sebelum direnovasi

Aku tak pernah mengira sebelumnya, bahwa nama ayah dan ibuku punya inisial sama. Entah kebetulan, atau memang disengaja. Di sini, aku tidak akan menceritakan asal usul huruf S di depan nama orangtua, tapi lebih jauh lagi, tentang keluargaku.
Ayahku bernama Syamsul Bahri. Tapi di Meukek, tempat ayahku dilahirkan, orang-orang memanggilnya cek Tson atau si Tson (pengucapannya seperti ‘tsa’ dalam huruf hijaiyah). Meskipun begitu, ayah tak pernah marah atas penyebutan tersebut, beliau menikmati selayaknya menghirup kopi Menggamat yang masih mengepul asap.
Ayah memang lahir di Meukek, daerah pesisir pantai Barat Selatan, yang condong dingin. Tapi, karna kecintaannya kepada sang istri, ibuku, ayah memilih pindah ke Kotafajar, tempat adik keduaku dilahirkan.
Memang ayah tidak menamatkan kuliah, seperti ayah-ayah lainnya, namun lulus setingkat SMEA saja, sudah menjadi kebanggan tersendiri baginya, dikarenakan kakek dan nenek tak punya cukup uang membiayai kuliah ayah. Tak masalah sih, kan rejeki didapat bukan hanya dari ijazah. Hanya bermodal ikhtiar, ayah merantau ke Banda Aceh dan dipercaya menjadi bagian dari keluarga Bumi Putra.
Di sanalah cinta pun bersemi. Bukan di Bumi Putranya, tapi di terminal bus, saat ibuku kehilangan koper yang berisi uang dan baju wisuda. Entah waktu itu ayah kasian sama perempuan yang menangis di salah satu trotoar, beliau pun menggadaikan emas ibunya untuk membiayai wisuda perempuan malang tersebut, esoknya.
Singkat cerita, hubungan ayah dan ibu berlanjut ke pelaminan.
Sisi lain dari ayah, bukan seberapa banyak materi yang diberikan kepadaku dan adik-adik. Lebih jauh lagi, beliau adalah sahabat, teman curhat, pelindung sekaligus menjadi bapak rumah tangga, saat ibu keguguran adik ketigaku.
Harta ayah memang tidak melimpah, tapi paling tidak, ayah tipe pekerja keras.  Kolam  ikan, aroma kebun, buah pala dan bunga lawang lebih dirindukannya, ketimbang goyangin kaki di rumah, apalagi duduk berlama-lama di warung kopi.
Hal yang paling aku sukai, ketika mengajak belanja di pasar terdekat. Bila sudah cocok dan menyangkut di hati, aku bahkan ibuku diminta untuk menjauhi toko, bisa kita tebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Ayah akan banting penawaran serendah-rendahnya, tanpa menyinggung hati penjual dalam kecewa. Keren, kan?
Ibuku juga gak kalah keren, kok. Lengkapnya Suryati. Tapi dua tahun terakir, nama itu bertambah tiga huruf, S.Pd. Punya karakter antagonis melebihi ibu tiri di film Cinderella, dengan hati seputih Putri Salju.
Di sekolah MTs Kluet Utara, tempat ibu mengajar. Beliau dikenal dengan gelar ibu anu. Bilangan yang tak jelas bentuknya di dalam Mate-Matika namun dia ada, selalu menjadi headline news di kalangan anak-anak, bilangan itu adalah NOL. Dia ada, tapi tidak ada.
Keunikan lain dari ibu, ketika bulan ramadhan. Tak perlu menghidupkan alarm untuk membangunkan sahur. Meski di lantai dua sekalipun, suara ibu, jauh lebih seksi dari TOA di meunasah-meunasah terdekat. Kesukaan ibuku yang paling heboh itu, dangdut. Bayangin aja, ketika adik bungsu lagi seru nonton spongebob, ibu malah marah-marah minta diganti ke chanel yang ada dangdutnya.
Wal-hasil, cok tipi mulai lepas satu per satu. Beruntung aku pulang kali ini tidak seheboh dulu-dulu. Sekarang, tipinya cuma bisa mengeluarkan suara tanpa gambar. Itu sudah maklum, usia tipinya aja lebih tua dari aku yang sudah kepala dua.
Selanjutnya, Fathmatul Badriah. Kelas 3 SMA yang hobinya ke pasar minggu tiap pulang liburan. Bolak-balik pagi, siang dan sore tak membuatnya gerah, apalagi bosan. Telur mata sapi dicampur potongan cabe rawit dan bawang bombai adalah menu kesukaannya. Bahkan selama satu bulan penuh, telur selalu menjadi bagian wajib saat berbuka dan sahur.
Muhammad Al-Muwarisin, adik yang paling akhir. Yang ini juga gak kalah heboh. Tiba-tiba sms pake hp ayah, minta dibuatin facebook. Untuk anak kelas V S.D, itu gak wajar sih, menurutku, dan lebih gak wajar lagi, pas tiba-tiba dia minta disunat sebelum naik kelas empat.
Aris selalu menyalahkan aku yang lahir duluan. Dia gak suka jadi anak yang terakir, lagi, diantara kami bertiga, hanya kulitnya yang paling sawo ketimpa sinar ultra violet. Mengaji paling gak bisa kalau dibenerin pake irama, jika itu terjadi, maka dia akan tutup juz amma, dan langsung hengkang keluar. Jadi, kalau benerin gimana? Solusinya hanya satu, cukup dengan berdehem panjang, maka dia akan mengulangi lagi-lagi sampai benar-benar bisa.
Terakhir adalah aku. Zahraton Nawra. Paling baik diantara keduanya. Sedikit muji, sih. Tapi, karna itulah aku dipanggil kakak. Selain aku pertama kali nongol di dunia, sebelum Fafat dan Aris. Aku dan bungsu memang jauh berbeda. Tapi lebih berbeda jika dibandingin si tengah.
Pernah suatu hari, ketika aku berkunjung ke rumah teman masa putih-dongker, si adik yang aku bawa ikut, malah dianggap teman. Tanpa merasa bersalah, si kawan malah ngelanjutin lagi kalau kami berdua gak ada miripnya. Ah, untung, waktu itu aku gak lupa minum air, buat dinginin hati yang pengen ngelonjak ke luar.
Memang sih. Kalau dilihat dari bukit Thursina pun, kami gak ada miripnya, kecuali hidung minimalis.
Dia kurus bin kerempeng, sampai entu tulang minta jalan-jalan sendiri kalau lagi tidur. Aku udah subur, makmur lagi. Dia tinggi untuk seukuran anak SMA seusianya, lah aku, bahasa kerennya semekot, semester kotor. Kulitku memang lebih cerah, bukan tanpa alasan. Karna sejak kecil, aku selalu jadi anak rumahan, dan dia anak jalanan, eh anak sering kelayapan di luar.
Walau begitu, aku bangga menjadi bagian dari perkembangan mereka. Suka menjadi kakak mereka, dan bahagia terlahir dari keluarga S. Terima kasih sudah melahirkan aku ke dunia.
Mereka adalah cintaku yang sebenarnya

0 komentar:

Posting Komentar