Ia yang tumbuh dengan rasa sakit jauh lebih kuat daripada sekadar dimanja.
.
.
Di sini, di tempatku anak-anak sibuk membolak balik lembar Al-Qurannya. Mulut tak henti berkomatkamit. Sesekali melihat lagi lembar bacaannya, mungkin ada yang salah dengan panjang pendek atau pelafalan makhrajnya belum tepat.
Di sini, anak-anak itu tak kenal apa-apa, selain belajar dan Al-Quran.
Terkadang mereka lelah, tak jarang mereka bercerita, sampai ada yang langsung tertidur seusai setoran.
Aku mengerti sekali bagaimana perasaan mereka. Terlebih saat sudah dekat ujian.
Makan dan tidur sering mereka lewati beberapa kali waktu. Bagaimana cara, sekolah dan asrama harus imbang. Oh ya, akhlak juga menjadi point pertama selama di sini.
Sakit, lelah, darah bercampur jadi satu.
Kutahan hatiku agar tak merasa kasian sama sekali.
Sebab inginku mereka menjadi mandiri. Tidak mudah goyah dengan berbagai macam aturan pengikatnya.
Meskipun begitu, mereka tak pernah aku manja. Sering aku marahin kalau keluar komplek tanpa kaus kaki. Tak jarang aku menyiram mereka begitu telat bangun subuh.
Semua itu untuk mereka "Ia yang tumbuh dengan rasa sakit jauh lebih kuat daripada sekadar dimanja."
Rabu, 02 Januari 2019
Ia Yang Tumbuh Dengan Rasa (Sakit)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar