Ustazah Mardhiah BA.
Aku mengenalnya 1 tahun lalu. Dia juga ibu asrama di MUQ Tapaktuan juga.
Sebagai sesama ibu asrama, kukira beliau orangnya kaku pakek banget.
Buat senyum aja aku masih takut-takut, gimana mau coba PDKT (pendekatan).
Well, itu adalah cerita masa dulu.
Begitu aku bergabung dan resmi menjadi rekan beliau, aku baru tahu kalau ustazah Mardhiah orangnya TOP BGT.
Kalau boleh jujur, beliau adalah orang paling setia yang aku temui selama tinggal di Tapaktuan.
Pertama-tama dulu, aku yang keseringan keserupan, hampir tiap malam malah. Selalu saja ngerepotin beliau. Mulai dari ambil nasi, selimutin aku yang kedinginan dan masih banyak lagi.
Sebagai anak satusatunya di keluarga. Ustazah Mardhiah tergolong anak yang mandiri. Sejak SMA sudah dimasukkan di sekolah agama Subulussalam, sampai akhirnya beliau melanjutkan kuliah di salah satu kampus bergengsi Lipia, Jakarta Pusat.
Hidup hampir setahun di bawah atap yang sama, makan bersama, berbagi bantal bersama, tak jarang keluar malam minggu bersama.
Aku seperti menemukan seorang kakak pada dirinya, seperti keluarga sendiri.
Sampai saat ini pun, hatiku belum goyah untuk terus mengaguminya.
Bersamanya, aku seperti kena tampar berkali-kali. Dibanding beliau, aku jauh dari kata sempurna. Aku yang sering kali bolong soalan ibadah. Bahkan Al-Quran hanya terbaca disaat anak-anak menerima setoran saja.
Tapi beliau tidak. Setiap waktu shalat di masjid, dengan ikhlas mengajar anakanak cara bacaan Al-Quran yang benar, mengambil waktu senggang untuk menerima setoran, dan masih banyak lagi.
Kadang aku sering mencoba beberapa kebiasaan beliau dan menerapkannya sehari-hari. Berhasil memang, tapi cukup bertahan paling lama 5 hari.
Aku tak tahu berapa banyak stok kesabaran yang dimilikinya. Kadang aku sering bercanda berlebihan dengannya. Meski tidak marah, baru kemudian aku merasa bersalah setelahnya.
Sampai sejauh ini, aku tidak ingin menjaga jarak. Apalagi untuk sekadar mengucap selamat tinggal.
Kelak jika aku harus berpisah karena satu dan lain hal. Aku selalu berharap dia tak pernah melupakan aku.
Terserah dia anggap aku seperti apa.
Asalkan selalu diingat dalam doa, bagiku itu adalah segala.
Sehat terus ya ustazah Mardhiah.
Maaf aku bikin tulisan yang bikin baper pembaca.
Hal kecil yang aku harapkan, tetaplah menjadi kakak meski aku sendiri malu untuk meminta secara jujur...
"Jadilah Kakakku"
May Allah gives you all the best...
Now and forever be happiness
Minggu, 13 Januari 2019
Bukan Kakak Biasa...
Posted By:
nawrawords.blogspot.com
On 02.31
In
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar