Rabu, 06 Maret 2019

Tentang Memaknai Sebuah Rasa

Perlahan tapi pasti, mencintai adalah mengenal Dia, mengenal setiap makna di balik takdir-Nya.
Mengenal semiotika kehidupan. Mengenal setiap rasa dan logika yang dititipkan di tubuh dan jiwa kita.
Bukankah mengenal dan mendekat pada-Nya adalah hakikat hidup itu sendiri?

***

Sebuah rasa timbul karena saling mengenal, sering bertemu, menjadi dekat, lalu memutuskan bersatu.

Terkadang manusia ini aneh. Ia mengaku cinta, tapi tak mau berkorban.
Merasa paling berani namun cuma di mulut doang.
Ingin terlihat keren namun gak punya modalB. Bahkan cita-cita masuk surga dan husnul khatimah tapi usahanya nol besar.

Aneh bukan?

"Dikira itu Surga milik bapaknya."

Kemarilah, kuberi tahu lagi tipe manusia lainnya.
Ia yang senantiasa sibuk, tapi sibuknya ngaji mulu.
Ia yang selalu dekat dengan Tuhannya, tapi ia masih malu untuk mengungkapkan cinta.

Masih belum berani minta yang aneh-aneh sama Allah.

Nah, yang kayak gini tuh di bumi udah mulai langka. Kalaupun ada, udah bisa dihitung jari jumlahnya. Limited edition.

Sekarang tanya deh ke diri masing-masing, "aku tuh masuk bagian mana?!"
Sekali-kali ganti jalan-jalan ke mall dengan menjenguk orang sakit.
Gak harus teman, kerabat atau tetangga di sana. Sebab di sana, ada pelajaran yang sangat besar; Syukur!

Tentang bagaimana memaknai sehat dengan sebaik-baik menjaga.


___________________
Tapaktuan, 4 Jan 19

0 komentar:

Posting Komentar