Rabu, 06 Maret 2019

Cinta Sang Perempuan Sirkus




Judul: Perempuan Langit
Pengarang: Dita Safitri
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: 2014
Halaman: 208

-------------
Dari sekian banyak novel yang aku baca, cuma novel "Perempuan Langit" yang isinya konflik semua. Anehnya lagi, meski konfliknya buaanyak, penulis mampu mengurai satu persatu dengan sangat apik. Ya, meski ada beberapa konflik yang porsinya kurasa masih kurang.


Perempuan Langit, sebuah novel yang menceritakan hidup seorang perempuan bernama Serunai dengan Adam Dirgantara.
Dari kecil tokoh utamanya sudah dibuat hidup menderita oleh si penulis (hiks). Tinggal di sebuah Panti Asuhan Kenanga bukanlah sebuah kesedihan, terutama bagi mereka berdua.


Masalah pertama muncul saat Tara mengajak Serunai pergi ke Sirkus. Melompat pagar panti adalah tantangan awal yang harus mereka lewati dan berhasil.
Tapi, Serunai kecil yang terlalu bahagia berjalan nekat tanpa melihat kiri kanan, "bum!" Mobil pick up dengan kecepatan tinggi, ditambah pengendara yang sedang mabuk berat menghantam tubuh Serenai hingga bau anyir tercium di sekeliling tubuhnya.


Masalah kedua, Tara yang begitu kaget meminta tolong Serunai dan membawanya ke rumah sakit. Tara merasa bersalah dan terpukul. Namun di sisi lain, Tara justru mendapat tawaran untuk diajak meninggalkan Panti Asuhan Kenanga, dan juga Serunai oleh keluarga barunya.


Konflik ketiga, Tara memilih pergi dan meninggalkan Serunai dalam keadaan tak sadarkan diri. Dokter Ikram yang menangani Serunai merasa bahagia ketika tahu pasiennya masih bisa diselamatkan, beberapa minggu kemudian, dokter Ikram mendapat sebuah dokumen berisi laporan dari seorang perawat, dia sangat kaget, sekaligus merasa bersalah, sebab darah yang masuk ke tubuh Serenai berasal dari tubuh yang terkena "HIV"
"... Darah yang waktu itu ditransfusikan pada Serunai... mengandung HIV..., " ( Hal, 93).


Konflik keempat, Serunai dipecat dari sebuah perusahaan lantaran dia menolak untuk didekati oleh direktur perusahaan sendiri, Pak Sarjono. Lakilaki biadab yang telah merebut banyak kebahagiaan perempuan. Beruntung Serunai selamat, tapi tidak di kesempatan keduanya. Ya, Serunai berhasil diakali Sarjono dan hasilnya, dia juga terjangkiti virus HIV serta mendekam dipenjara akibat ulah abnormalnya sendiri.


Konflik kelima. Serunai kehilangan pekerjaan dan hampir diusir dari kostnya yang sumpek, kecil dan pengap itu. Tokoh lain bernama Dera pun muncul sebagai penyelamatnya. Bagaimana pun, Dera-lah satusatunya sahabat yang selalu ada untuknya di mana pun dan kapan pun. Dera membayar uang kontrakan Serunai, mencari pekerjaan untuknya sekalipun hanya sebagai guru Private, setidaknya Serunai lebih beruntung daripada harus kembali ke tempat yang paling dibenci; Arya Satya Group.


Konflik kelima, Serunai diterima menjadi guru Private seorang anak SMA yang bernama Albian Renggana, lakilaki yang dari kecil sudah kehilangan kasih sayang keluarga. Mamanya meninggal dunia suwaktu Albi masih kanak, dan lagi dia harus menerima kenyataan bahwa papanya menikah lagi dengan perempuan yang juga sudah memiliki seorang putri, kakak tiri Albi; Thalita.


Konflik keenam, setelah 12 tahun kemudian, Tara kembali ke kehidupan Serenai justru ketika dia sudah mengikat pertunangan dengan Thalita.


Konflik ketujuh, Albi mulai berubah, nilai sekolahnya semakin meningkat, dan rasa yang tak biasa mulai memenuhi rongga hatinya, dia akhirnya jatuh cinta kepada guru privatnya; Serunai. Bukan sekadar perasaan murid kepada guru, sayangnya Serunai tak pernah menyadari bahkan sampai akhir hayat.


Dari semua tokoh di dalam novel, aku paling suka karakter Albian yang keras kepala tapi juga perhatian, begitu tahu dia juga menyukai Serunai yang bahkan sudah terkena virus HIV, aku berpikir bahwa Albi akan melanjutkan kuliahnya di kedokteran dan menyelamatkan hidup Serunai. Tapi apalah daya, endingnya jauh dari kenyataan, meski aku sedikit kecewa kenapa Serenai masih bertahan terhadap cinta pertamanya; Adam sekalipun sudah 12 tahun lamanya.


Well, walau pun alurnya maju mundur cantik. Ceritanya tetap mengalir kok, bahasanya anak muda banget. Cocok untuk dikonsumsi oleh remaja pertengahan ke atas. Dan lagi, dari semua buku yang aku baca selama Januari-Maret, cuma karyanya mbak Dita Safitri yang aku khatamin dalam waktu semalam. Bahaha...



0 komentar:

Posting Komentar