Senin, 08 April 2019

Inilah Penantian 3 Tahun Itu


Kau tahu, jika hari ini doamu belum juga terkabul, itu artinya Allah menginginkanmu lebih bersabar lagi dan Allah akan gantikan doamu dengan yang jauh lebih baik.

Alhamdulillah, penantian itu tidak sia-sia. Tiga tahun aku bersabar, menunggu harap cemas novelku dibukukan. Meski pernah mau diterbitkan oleh salah satu penerbit namun gagal di tengah jalan tanpa kabar. Pernah juga beberapa kali ditolak penerbit, berkali-kali juga aku harus kecewa. Sampai pada akhir 2018, Allah menjawab doaku dengan caranya yang tak pernah aku sangka.

Pernah beberapa penerbit indie aku japri lewat aplikasi whatsapp, berharap bagaimana caranya naskahku dibukukan walau harus berbayar. Tapi, saat aku menceritakannya kepada Upo (kakak sepupu) dia bilang, baiknya kalau mau mengirim naskah, cari yang menyediakan layanan gratis.

Agustus lalu aku iseng ngirimin naskah mentah di Lumiere Publishing House, aku udah ikhlas kalau ditolak lagi. Saat itu aku tak lagi menunggu, aku mulai menyibukkan diri dengan apa pun yang bisa menghilangkan pikiranku tentang naskah tersebut.

Berhasil. Tepat dua bulan setelahnya, aku mendapat email dari penerbitt Lumiere bahwa mereka tertarik menerbitkan naskahku.

Tuhan, inikah jawaban atas segala penantian berat ini? Atas penolakan yang sudah tak terhitung jumlah. Atas pertanyaan teman-teman yang selalu berujung, sabar, doakan saja, insyaa Allah segera terbit. Aku selalu mengatakan itu jika ada yang bertanya:

Kapan naskahmu terbit, Ra? Aku jadi orang pertama baca, ya.

Begitulah. Segala puji dan syukur tak hentinya aku panjatkan kepada Allah, pemilik segala doa langit dan bumi.

Hari-hariku mulai sibuk dengan merevisi naskah. Diperkenalkan dengan Mba Aya yang baik budi, yang bahkan rela berlelah-lelah merevisinya sampai dua bab sekaligus. Justru masalahnya sering terjadi di aku. Kadang sampai beberapa kali diingatkan naskahnya sudah selesai revisi belum. Dua bulan aku bersama mba Aya, kemudian aku harus menerima kecewa yang lain sebab aku harus menerima mba Aya untuk tidak menjadi editorku lagi. Aku sedih banget, pas lagi sayang-sayangnya harus berpisah.

But, lagi-lagi aku berterima kasih kepada Allah, sebab sepeninggalnya mba Aya, aku dikenalkan dengan editor yang juga nggak kalah kece badai. Meski bukan jurusan Bahasa dan Sastra, dirinya juga nggak kalah hebat mengoreksi naskahku. Dan hasilnya, kurang dari dua minggu naskahku udah dikirim ke penerbit untuk di layout dan juga pengajuan ISBN. Meski usianya jauh di bawahku, tapi aku salut sekaligus angkat topi untuknya. Terima kasih ya dek Ica, semoga nggak kapok kenalan dengan kakak yang ngeselin dan ngerepotin ini.

Alhamdulillah, di tahun 2019 ini Allah mulai jawab satu per satu doaku yang lain.
Semoga novel perdanaku diterima dengan baik dan bermanfaat kepada siapa saja yang membacanya.

Harus sabar ya, POnya dibuka 22 April-03 Mei lho...


0 komentar:

Posting Komentar