Kau tahu, jika hari ini doamu belum juga terkabul,
itu artinya Allah menginginkanmu lebih bersabar lagi dan Allah akan gantikan
doamu dengan yang jauh lebih baik.
Alhamdulillah, penantian itu tidak sia-sia. Tiga
tahun aku bersabar, menunggu harap cemas novelku dibukukan. Meski pernah mau
diterbitkan oleh salah satu penerbit namun gagal di tengah jalan tanpa kabar.
Pernah juga beberapa kali ditolak penerbit, berkali-kali juga aku harus kecewa.
Sampai pada akhir 2018, Allah menjawab doaku dengan caranya yang tak pernah aku
sangka.
Pernah beberapa penerbit indie aku japri lewat
aplikasi whatsapp, berharap bagaimana
caranya naskahku dibukukan walau harus berbayar. Tapi, saat aku menceritakannya
kepada Upo (kakak sepupu) dia bilang, baiknya kalau mau mengirim naskah, cari
yang menyediakan layanan gratis.
Agustus lalu aku iseng ngirimin naskah mentah di
Lumiere Publishing House, aku udah ikhlas kalau ditolak lagi. Saat itu aku tak
lagi menunggu, aku mulai menyibukkan diri dengan apa pun yang bisa
menghilangkan pikiranku tentang naskah tersebut.
Berhasil. Tepat dua bulan setelahnya, aku mendapat
email dari penerbitt Lumiere bahwa mereka tertarik menerbitkan naskahku.
Tuhan, inikah jawaban atas segala penantian berat
ini? Atas penolakan yang sudah tak terhitung jumlah. Atas pertanyaan
teman-teman yang selalu berujung, sabar, doakan saja, insyaa Allah segera
terbit. Aku selalu mengatakan itu jika ada yang bertanya:
Kapan naskahmu
terbit, Ra? Aku jadi orang pertama baca, ya.
Begitulah. Segala puji dan syukur tak hentinya aku
panjatkan kepada Allah, pemilik segala doa langit dan bumi.
Hari-hariku mulai sibuk dengan merevisi naskah.
Diperkenalkan dengan Mba Aya yang baik budi, yang bahkan rela berlelah-lelah
merevisinya sampai dua bab sekaligus. Justru masalahnya sering terjadi di aku.
Kadang sampai beberapa kali diingatkan naskahnya sudah selesai revisi belum.
Dua bulan aku bersama mba Aya, kemudian aku harus menerima kecewa yang lain
sebab aku harus menerima mba Aya untuk tidak menjadi editorku lagi. Aku sedih
banget, pas lagi sayang-sayangnya harus berpisah.
But, lagi-lagi aku berterima kasih kepada Allah, sebab
sepeninggalnya mba Aya, aku dikenalkan dengan editor yang juga nggak kalah kece
badai. Meski bukan jurusan Bahasa dan Sastra, dirinya juga nggak kalah hebat
mengoreksi naskahku. Dan hasilnya, kurang dari dua minggu naskahku udah dikirim
ke penerbit untuk di layout dan juga pengajuan ISBN. Meski usianya jauh di
bawahku, tapi aku salut sekaligus angkat topi untuknya. Terima kasih ya dek
Ica, semoga nggak kapok kenalan dengan kakak yang ngeselin dan ngerepotin ini.
Alhamdulillah, di tahun 2019 ini Allah mulai jawab
satu per satu doaku yang lain.
Semoga novel perdanaku diterima dengan baik dan
bermanfaat kepada siapa saja yang membacanya.
![]() |
| Harus sabar ya, POnya dibuka 22 April-03 Mei lho... |

0 komentar:
Posting Komentar