Jumat, 25 September 2015

QURBAN

“Lebaran ini, kamu ada berqurban juga kan?” Tanya Suri tetangga sebelah.
“Lihat deh, tahun ini aku potong 5 ekor sapi, loh. Sehat dan gemuk. Nanti setelah shalat ‘Id, kamu aku ajak sekalian deh. Siapa tahu, kamu juga dapat jatah daging qurban. Kan lumayan, bisa hemat isi dompet.” Aku tak berniat menanggapi segala cuap yang dipamerkannya. Bukan karna aku sakit hati karna aku tak mampu berquran tahun ini. Tapi lebih tepatnya, aku gak sanggup bila terus mendengar ocehannya yang seperti laju Canai Express di pilem India.
Setelah membersihkan dan memakaikan wewangian kepada si kecil Arfa. Aku membawanya ke sebuah ladang yang luas. Entah kenapa, jika lebaran seperti ini, aku selalu merindukan suamiku. Tepat di tanah lapang ini, suamiku meninggal dunia, lantaran di sambar petir setahun yang lalu. Dan aku kembali mengunjunginya setelah 12 bulan lamanya tak berziarah. Di sana, di dekat pohon mahoni suamiku di tanam. Jujur, sebenarnya aku sendiri sudah lelah dengan keadaan yang serba menipis, belum lagi tanggungan anak yang serba kemahalan. Namun mati juga lebih merepotkan lagi, bukan? Tapi, jangan khawatir setelah kutitipkan Arfa padamu, aku akan lebih baik lagi. Jangan khawatirkan aku, karna aku juga akan menyusulmu secepat mungkin.
***
            “Mbak Resi, ini daging qurbannya dimasak gimana? Bagi donk resepnya. Aku juga mau masakin buat keluargaku.” Tamu dari kota Berantah tiba-tba datang. Mungkin dia kangen aku atau kebetulan lewat saja.
            “Halah, palingan itu resep di internet. Pasti rasanya abal-abal. Ya kan, Res?”
            “Terserah kamu saja, Ri. Kalau mau, cobain saja sendiri. Jangan cuma betahnya jadi komentator, sedangkan rasa asin dan pahit gak bisa bedain yang mana.”
            “Jadi boleh ni aku cobain?”
            “Boleh. Kalau kurang, di dapur masih banyak kok. Itu daging qurban yang aku masak sendiri.
            “Eh, beneran enak. Ngomong-ngomong anakmu di mana, Res?”
            “Noh, di dapur. Panggil aja.”
            “Baiklah, aku izin ke dapur sekalian nambah porsi ya. Hehehe”
5 menit kemudian.
“Tidaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk….,”
“Apakah Arfa, qurban yang kamu maksud, Res? Aku menemukan kepala anakmu di atas tungku.” Ucap Suri sambil memuntahkan isi perutnya.

Google pic.

2 komentar:

  1. Kelanjutan nya gakda ya... ??? Cuma smpe dsitu saja kah??

    BalasHapus
  2. Iya, namanya juga Fiksi Mini. Yah, cuma sampai di situ saja :D

    BalasHapus