“Lebaran ini, kamu ada berqurban juga kan?” Tanya
Suri tetangga sebelah.
“Lihat deh, tahun ini aku potong 5 ekor sapi, loh. Sehat dan gemuk. Nanti setelah
shalat ‘Id, kamu aku ajak sekalian deh.
Siapa tahu, kamu juga dapat jatah daging qurban. Kan lumayan, bisa hemat isi
dompet.” Aku tak berniat menanggapi segala cuap yang dipamerkannya. Bukan karna
aku sakit hati karna aku tak mampu berquran tahun ini. Tapi lebih tepatnya, aku
gak sanggup bila terus mendengar ocehannya yang seperti laju Canai Express di
pilem India.
Setelah membersihkan dan memakaikan wewangian kepada
si kecil Arfa. Aku membawanya ke sebuah ladang yang luas. Entah kenapa, jika
lebaran seperti ini, aku selalu merindukan suamiku. Tepat di tanah lapang ini,
suamiku meninggal dunia, lantaran di sambar petir setahun yang lalu. Dan aku
kembali mengunjunginya setelah 12 bulan lamanya tak berziarah. Di sana, di
dekat pohon mahoni suamiku di tanam. Jujur, sebenarnya aku sendiri sudah lelah
dengan keadaan yang serba menipis, belum lagi tanggungan anak yang serba
kemahalan. Namun mati juga lebih merepotkan lagi, bukan? Tapi, jangan khawatir
setelah kutitipkan Arfa padamu, aku akan lebih baik lagi. Jangan khawatirkan
aku, karna aku juga akan menyusulmu secepat mungkin.
***
“Mbak
Resi, ini daging qurbannya dimasak gimana? Bagi donk resepnya. Aku juga mau
masakin buat keluargaku.” Tamu dari kota Berantah tiba-tba datang. Mungkin dia
kangen aku atau kebetulan lewat saja.
“Halah,
palingan itu resep di internet. Pasti rasanya abal-abal. Ya kan, Res?”
“Terserah
kamu saja, Ri. Kalau mau, cobain saja sendiri. Jangan cuma betahnya jadi
komentator, sedangkan rasa asin dan pahit gak bisa bedain yang mana.”
“Jadi
boleh ni aku cobain?”
“Boleh.
Kalau kurang, di dapur masih banyak kok. Itu daging qurban yang aku masak
sendiri.
“Eh,
beneran enak. Ngomong-ngomong anakmu di mana, Res?”
“Noh,
di dapur. Panggil aja.”
“Baiklah,
aku izin ke dapur sekalian nambah porsi ya. Hehehe”
5 menit kemudian.
“Tidaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk….,”
“Apakah Arfa, qurban yang kamu maksud, Res? Aku
menemukan kepala anakmu di atas tungku.” Ucap Suri sambil memuntahkan isi
perutnya.
![]() |
| Google pic. |

Kelanjutan nya gakda ya... ??? Cuma smpe dsitu saja kah??
BalasHapusIya, namanya juga Fiksi Mini. Yah, cuma sampai di situ saja :D
BalasHapus