Melangkahlah, meski ragu
atau berhenti dengan sia-sia
Q-Writing Consulting
III. Aku memang belum lama mengenalnya, tapi cinta terus bersemai di tiap
tantanganya.
Jujur, pertama kali aku tak
tahu apa itu Q-Writing, siapa saja di dalamnya, bagaimana proses kegiatannya
dan lain-lain. Yang kudapati hanya satu kunci di sana, writing,
yang artinya menulis. Dengan satu kata tersebut, maka berhasil membuat semangat
menulisku bertumbuh.
Aku memang belum kenalan
dengannya, namun mendengar tutur sahabat Taiwanku, Linah, alumni Q-Writing II,
aku percaya, bahwa ini adalah akhir dari mati suri tulisan selama ini.
Dengan pertanyaan
bombastis, aku berhasil diseret Linah ke jalan yang benar. Jalan di mana
seluruh pakar-pakar menulis terlahir. Alhamdulillah sekali, cinta mulai tumbuh
kuncup d itiap ujian yang kulalui.
Bicara tentang tantangan,
ini juga menjadi alasan aku untuk bertahan sampai sejauh ini. Kenapa? Bagiku,
tantangan adalah garam di menu menulis. Bagaimana mau menikmati hidangan karya best
seller, sedang garam tantangan tidak dibubuhi.
Sebagai peserta yang masih
awam, tantangan adalah salah satu acuan untuk beristiqamah menulis, bukan dari
segi punishment yang tidak sekejam di dunia militer, namun
lebih jauh, hal itu merupakan jalan mencetak generasi disiplin.
Loh, apa hubungannya
disiplin dengan hukuman? Jelas ada. Ketika seseorang karyawan telat datang ke
kantor, tanpa memberi alasan yang jelas, atau alasannya tidak syari. Apakah si
bos berhak memberi hukuman dengan memotong gaji karyawannya? Oh, jelas berhak.
Kan karyawan tersebut digaji untuk bekerja, bukan untuk bolos dalam pekerjaan.
Nah, begitu juga dengan
menulis di Q-Writing. Menurut hematku pribadi, andai group menulis ini tidak
diberi sanksi atau punish bagi yang
memolor waktu, sungguh, hanya hitungan jari saja yang mampu melewati tantangan
demi tantangan tersebut tepat waktu.
Aku misalnya. Jika tanpa
saksi, maka aku bisa saja menulis, lalu mengirim kapan aku suka, toh gak ada
sanksi juga, kan.?
Yang perlu digarisbawahi
adalah, seberapa niat engkau menulis, maka sebesar itulah usaha yang harus
dikeluarkan. Tanpa mengeluh atau apalah-apalah.
![]() |
| Sharing is caring |
Lagian, menulis kan bukan
cuma untuk dinikmati kalayak. Namun, ketika tulisan yang lahir dari ketulusan,
maka akan diterima dengan tulus, meskipun hasilnya sangat biasa. Untuk itulah
belajar dan intropeksi diperlukan.
Kepada admin kece yang
mungkin gak mau disebut kece, mohon maaf, karna kalian memang luar biasa
kece.
Aku ikhlas mengatakannya bukan
karna inigin dibalas kece juga. Sejauh ini, aku telah belajar banyak, walau
kadang aku kerap mengulang kesalahan sama. Ya, itu salah dan khilafku.
Aku sadar, koreksi atas
tiap tantangan yang dilewati setiap waktunya adalah untuk kebaikan, mustahil
pula bermaksut menjerumuskan. Karnanya aku sangat berterima kasih.
Meski terkadang terima
kasih tidak mampu mengganti jumlah keringat seluruh Kyu Management, terhadap
anak baru. Ucapan, guyowan bahkan gerak yang tak sengaja terlakoni, atau bahkan
terang-terangan menunjuki tidak suka, telah membuat kalian lelah, gerah,
mungkin juga tangis darah. Aku minta maaf atas segala kurang yang tak pernah
ada lebihnya.
Aku sering lalai meski
harus menguak mata tengah malam untuk satu postingan. Aku belajar, terus
belajar meski belajarku harus terseok.
Sebab dari lubuk hati, aku
ingin menjadi seorang penulis yang dicintai. Aku ingin menjadi seorang penulis
yang tetap dikenang meski aku tiada. Penulis yang dihargai walau karyanya biasa
saja. Aku ingin seperti kalian semua. Aku ingin merampas semua ilmu yang kalian
punya untuk diperaktikkan di masa depan. Aku ingin, sangat sangat ingin.
Maafkan aku dengan segala mubazzirnya keinginan ini.
Untuk Q-Writing III beserta
jajarannya yang terlibat di Kyu Management. Kalian adalah cinta. Pandangan
pertama yang merobohkan benteng ketidakmapuanku menulis untuk terus berusaha.
![]() |
| Kece kan mereka? Sayang, aku gak bisa ikutan >.< |
![]() |
| Photonya diambil di FP Q-Writing Consulting |



0 komentar:
Posting Komentar