Rabu, 17 Februari 2016

Kenalkan Keluarga Baruku "Q-Writing Consulting"


Melangkahlah, meski ragu
atau berhenti dengan sia-sia
Q-Writing Consulting III. Aku memang belum lama mengenalnya, tapi cinta terus bersemai di tiap tantanganya.
Jujur, pertama kali aku tak tahu apa itu Q-Writing, siapa saja di dalamnya, bagaimana proses kegiatannya dan lain-lain. Yang kudapati hanya satu kunci di sana, writing, yang artinya menulis. Dengan satu kata tersebut, maka berhasil membuat semangat menulisku bertumbuh.
Aku memang belum kenalan dengannya, namun mendengar tutur sahabat Taiwanku, Linah, alumni Q-Writing II, aku percaya, bahwa ini adalah akhir dari mati suri tulisan selama ini.
Dengan pertanyaan bombastis, aku berhasil diseret Linah ke jalan yang benar. Jalan di mana seluruh pakar-pakar menulis terlahir. Alhamdulillah sekali, cinta mulai tumbuh kuncup d itiap ujian yang kulalui.
Bicara tentang tantangan, ini juga menjadi alasan aku untuk bertahan sampai sejauh ini. Kenapa? Bagiku, tantangan adalah garam di menu menulis. Bagaimana mau menikmati hidangan karya best seller, sedang garam tantangan tidak dibubuhi. 
Sebagai peserta yang masih awam, tantangan adalah salah satu acuan untuk beristiqamah menulis, bukan dari segi punishment yang tidak sekejam di dunia militer, namun lebih jauh, hal itu merupakan jalan mencetak generasi disiplin. 
Loh, apa hubungannya disiplin dengan hukuman? Jelas ada. Ketika seseorang karyawan telat datang ke kantor, tanpa memberi alasan yang jelas, atau alasannya tidak syari. Apakah si bos berhak memberi hukuman dengan memotong gaji karyawannya? Oh, jelas berhak. Kan karyawan tersebut digaji untuk bekerja, bukan untuk bolos dalam pekerjaan. 
Nah, begitu juga dengan menulis di Q-Writing. Menurut hematku pribadi, andai group menulis ini tidak diberi sanksi atau punish bagi yang memolor waktu, sungguh, hanya hitungan jari saja yang mampu melewati tantangan demi tantangan tersebut tepat waktu. 
Aku misalnya. Jika tanpa saksi, maka aku bisa saja menulis, lalu mengirim kapan aku suka, toh gak ada sanksi juga, kan.?
Yang perlu digarisbawahi adalah, seberapa niat engkau menulis, maka sebesar itulah usaha yang harus dikeluarkan. Tanpa mengeluh atau apalah-apalah.
Sharing is caring
Lagian, menulis kan bukan cuma untuk dinikmati kalayak. Namun, ketika tulisan yang lahir dari ketulusan, maka akan diterima dengan tulus, meskipun hasilnya sangat biasa. Untuk itulah belajar dan intropeksi diperlukan. 
Kepada admin kece yang mungkin gak mau disebut kece, mohon maaf, karna kalian memang luar biasa kece.  
Aku ikhlas mengatakannya bukan karna inigin dibalas kece juga. Sejauh ini, aku telah belajar banyak, walau kadang aku kerap mengulang kesalahan sama. Ya, itu salah dan khilafku. 
Aku sadar, koreksi atas tiap tantangan yang dilewati setiap waktunya adalah untuk kebaikan, mustahil pula bermaksut menjerumuskan. Karnanya aku sangat berterima kasih. 
Meski terkadang terima kasih tidak mampu mengganti jumlah keringat seluruh Kyu Management, terhadap anak baru. Ucapan, guyowan bahkan gerak yang tak sengaja terlakoni, atau bahkan terang-terangan menunjuki tidak suka, telah membuat kalian lelah, gerah, mungkin juga tangis darah. Aku minta maaf atas segala kurang yang tak pernah ada lebihnya. 
Aku sering lalai meski harus menguak mata tengah malam untuk satu postingan. Aku belajar, terus belajar meski belajarku harus terseok.
Sebab dari lubuk hati, aku ingin menjadi seorang penulis yang dicintai. Aku ingin menjadi seorang penulis yang tetap dikenang meski aku tiada. Penulis yang dihargai walau karyanya biasa saja. Aku ingin seperti kalian semua. Aku ingin merampas semua ilmu yang kalian punya untuk diperaktikkan di masa depan. Aku ingin, sangat sangat ingin. Maafkan aku dengan segala mubazzirnya keinginan ini. 
Untuk Q-Writing III beserta jajarannya yang terlibat di Kyu Management. Kalian adalah cinta. Pandangan pertama yang merobohkan benteng ketidakmapuanku menulis untuk terus berusaha. 
Kece kan mereka? Sayang, aku gak bisa ikutan >.<
Photonya diambil di FP Q-Writing Consulting

0 komentar:

Posting Komentar