LGBT bukanlah satu hal yang patut dibiarkan isunya
seperti angin lalu. Tidak. Jika menilik lebih jauh, LGBT sudah ada, sebelum
Islam itu disempurnakan oleh Rasulullah.
“Kenal dengan Nabi Luth As?” Sudah pasti kenal.
Ummat Nabi Luth adalah ummat yang dihancurkan hingga ke bumi yang mereka pijak.
TOTAL!!! Bahkan Lalat dan binantang lainnya yang hanya menumpang hidup pun ikut
musnah.
Kenapa kita mesti waspada dengan virus LGBT? Apakah
ia lebih parah dari penyakit kusta yang menular hingga tak punya obat penawar
lagi atau lebih buruk dari virus HIV yang menyebar dari perlakuan di luar
nikah? Jawabannya, justru sang pelopor adanya virus tersebut adalah pelaku
LGBT.
“Masih belum jelas? Baik. Jika anda ragu, saya akan
berikan dua gambarannya.”
Fir’un. Seorang raja zalim yang dengan kesombongan
telah membinasakan dirinya dalam laut lepas. Mengapa demikian? Karna Fir’un
adalah pemuja hawa nafsu yang dengan sadarnya lupa bahwa dia sendiri
diciptakan, bukan menciptakan. Sehingga dia berani menyebut dirinya yang juga
diciptakan dari tanah itu sebagai Tuhan. Nauzubillah.
Allah murka. Lihat Fir’un. Meskipun begitu, karna
yang dia dewakan adalah hawa nafsu, maka Allah hanya membinasakan tubuhnya,
tapi tidak dengan tempat dia dibesarkan.
“Mesir masih tetap ada sampai sekarang, bukan?”
Sementara kaum Nabi Luth? Seperti yang sudah
dijelaskan di atas. Karna kaum tersebut mengagungkan bahkan menomorsatukan
syahwat, maka Allah membinasakan seluruhnya. Tanpa kecuali sejumput ilalang
yang bahkan tak pernah dianggap oleh manusia saat itu.
Alqur’an sudah mengupas tuntas tentang bahaya
hubungan sejenis, jauh sebelum akal manusia digerakkan untuk berfikir, lengkap
dengan azab-azab kaum terdahulu yang melakukan pelanggaran. Sebagai manusia
dhaif, alangkah baiknya belajar dari ibrah dan kejadian di masa lalu.
Saya, mewakili salah satu yang kontra terhadap
perlakuan homoseksual di Indonesia umumnya dan di Aceh khususnya. Bertindaklah,
agar bisa menentukan di mana posisi kita berada. Membiarkan LGBT mencuat di
bumi, berarti kita telah redha dan ikhlas jika suaktu-waktu Allah menurunkan
bencana bahkan lebih besar dari sekedar Tsunami yang terjadi di Aceh, sebelahs
tahun silam. Dan tulisan ini adalah perwujudan hati saya untuk tidak mendukung
apapun yang akan menjerumuskan ummat manusia ke dalam kemurkaan.
Intinya, yang ingin saya perjelas di sini adalah
bagaimana membenci tetapi tidak memusuhi. LGBT memang salah, Al-Qur’an dan
sunnah justru mengharamkan. Kita benci terhadap apa yang dilakukan, bukan
berarti memusuhi orang yang melakukan.
Ajaklah, rangkul tapi tidak dengan kekerasan.
Berilah pengertian kepada mereka, saudara-saudara kita yang mungkin lupa,
ingatkanlah mereka sesering mungkin. Cegahlah penyebaran LGBT di lingkungan
kita, mulai dari sekarang. Melakukan hal yang paling kecil sekalipun tetap akan
bernilai, meski itu baik atau buruk. Jika baik akan memperoleh balasan berupa
pahala, pun buruk tetap akan disiksa meski hanya sekedar membunuh seekor semut
yang tidak menganggu sekalipun.
Saya ingin mengutip sebuah kisah yang sarat akan
hikmah dan pelajaran tentang keberpihakan, dari group WA saudara kita juga.
Disaat Nabi Ibrahim dibakar raja namrud hidup-hidup,
seekor semut membawa setetes air lalu menyiramnya ke dalam api yang
menyala-nyala. Seekor burung kemudian bertanya.
“Untuk apa kamu bawa air itu?”
“Ini air untuk memadamkan api yang sedang membakar
kekasih Allah, Ibrahim.”
“Hahahaha… tak ada gunanya air yang kamu bawa
tersebut.” Ucap burung.
“Aku tahu, tetapi dengan ini, aku menegaskan di
pihak manakah aku berada.”
Wallaahu’alam….

Keren dek pembahasannya... membenci tapi tidak memusuhi, setau kk LGBT itu pun sudah lama ada di Aceh, tp selama ini tertutupi..
BalasHapus