Minggu, 14 Februari 2016

“LGBT” (Mencegah Tapi Tidak Memusuhi)

LGBT bukanlah satu hal yang patut dibiarkan isunya seperti angin lalu. Tidak. Jika menilik lebih jauh, LGBT sudah ada, sebelum Islam itu disempurnakan oleh Rasulullah.
“Kenal dengan Nabi Luth As?” Sudah pasti kenal. Ummat Nabi Luth adalah ummat yang dihancurkan hingga ke bumi yang mereka pijak. TOTAL!!! Bahkan Lalat dan binantang lainnya yang hanya menumpang hidup pun ikut musnah.
Kenapa kita mesti waspada dengan virus LGBT? Apakah ia lebih parah dari penyakit kusta yang menular hingga tak punya obat penawar lagi atau lebih buruk dari virus HIV yang menyebar dari perlakuan di luar nikah? Jawabannya, justru sang pelopor adanya virus tersebut adalah pelaku LGBT.
“Masih belum jelas? Baik. Jika anda ragu, saya akan berikan dua gambarannya.”
Fir’un. Seorang raja zalim yang dengan kesombongan telah membinasakan dirinya dalam laut lepas. Mengapa demikian? Karna Fir’un adalah pemuja hawa nafsu yang dengan sadarnya lupa bahwa dia sendiri diciptakan, bukan menciptakan. Sehingga dia berani menyebut dirinya yang juga diciptakan dari tanah itu sebagai Tuhan. Nauzubillah.
Allah murka. Lihat Fir’un. Meskipun begitu, karna yang dia dewakan adalah hawa nafsu, maka Allah hanya membinasakan tubuhnya, tapi tidak dengan tempat dia dibesarkan.
“Mesir masih tetap ada sampai sekarang, bukan?”
Sementara kaum Nabi Luth? Seperti yang sudah dijelaskan di atas. Karna kaum tersebut mengagungkan bahkan menomorsatukan syahwat, maka Allah membinasakan seluruhnya. Tanpa kecuali sejumput ilalang yang bahkan tak pernah dianggap oleh manusia saat itu.
Alqur’an sudah mengupas tuntas tentang bahaya hubungan sejenis, jauh sebelum akal manusia digerakkan untuk berfikir, lengkap dengan azab-azab kaum terdahulu yang melakukan pelanggaran. Sebagai manusia dhaif, alangkah baiknya belajar dari ibrah dan kejadian di masa lalu.
Saya, mewakili salah satu yang kontra terhadap perlakuan homoseksual di Indonesia umumnya dan di Aceh khususnya. Bertindaklah, agar bisa menentukan di mana posisi kita berada. Membiarkan LGBT mencuat di bumi, berarti kita telah redha dan ikhlas jika suaktu-waktu Allah menurunkan bencana bahkan lebih besar dari sekedar Tsunami yang terjadi di Aceh, sebelahs tahun silam. Dan tulisan ini adalah perwujudan hati saya untuk tidak mendukung apapun yang akan menjerumuskan ummat manusia ke dalam kemurkaan.
Intinya, yang ingin saya perjelas di sini adalah bagaimana membenci tetapi tidak memusuhi. LGBT memang salah, Al-Qur’an dan sunnah justru mengharamkan. Kita benci terhadap apa yang dilakukan, bukan berarti memusuhi orang yang melakukan.
Ajaklah, rangkul tapi tidak dengan kekerasan. Berilah pengertian kepada mereka, saudara-saudara kita yang mungkin lupa, ingatkanlah mereka sesering mungkin. Cegahlah penyebaran LGBT di lingkungan kita, mulai dari sekarang. Melakukan hal yang paling kecil sekalipun tetap akan bernilai, meski itu baik atau buruk. Jika baik akan memperoleh balasan berupa pahala, pun buruk tetap akan disiksa meski hanya sekedar membunuh seekor semut yang tidak menganggu sekalipun.
Saya ingin mengutip sebuah kisah yang sarat akan hikmah dan pelajaran tentang keberpihakan, dari group WA saudara kita juga.
Disaat Nabi Ibrahim dibakar raja namrud hidup-hidup, seekor semut membawa setetes air lalu menyiramnya ke dalam api yang menyala-nyala. Seekor burung kemudian bertanya.
“Untuk apa kamu bawa air itu?”
“Ini air untuk memadamkan api yang sedang membakar kekasih Allah, Ibrahim.”
“Hahahaha… tak ada gunanya air yang kamu bawa tersebut.” Ucap burung.
“Aku tahu, tetapi dengan ini, aku menegaskan di pihak manakah aku berada.”

Wallaahu’alam….
google.com

1 komentar:

  1. Keren dek pembahasannya... membenci tapi tidak memusuhi, setau kk LGBT itu pun sudah lama ada di Aceh, tp selama ini tertutupi..

    BalasHapus