Minggu, 07 Februari 2016

Tuan Tapa & Naga Laut Cina Selatan

(google.com)
Laut berubah merah, sedang langit berarak kelabu ketika pertempuran sengit antara dua ekor naga dari Cina melawan sang petapa di tepi laut Selatan. Tak ada tanda-tanda kehidupan selain sang pertapa di sana. Ya, beliau berhasil memenangkan pertempuran dalam mempertahankan tuan putri kembali kepada kedua orang tua asli. Naasnya, kedua naga telah tewas lebih dulu dengan kepala terpisah dari badan. Hatinya terlempar di daerah pesisir pantai yang banyak bebatuan. Bertahun-tahun hati itu mengeras lalu berubah kehitaman. Sehingga masyarakat sekitar menamai tempat tersebut Batu hitam.
Setahun kejadian maha dahsyat itu berlalu. Tuan tapa kembali bersemedi di dalam gua, tak jauh dari pantai Selatan. Rambutnya tampak rapi sebahu dengan warna latar keperakan. Sesekali memancar cahaya putih, bila matahari diam-diam memantul sinar UV white,  kulitnya sedikit kasar dan kusam, sebagai bukti, bahwa laut telah menjinakkannya siang-malam. Meskipun begitu, perawakannya yang tinggi-besar, tidak memperlihatkan tanda-tanda penuaan sama sekali. Beliau tampak masih gagah dengan tongkat berukir kepala naga di sebelah kanan. Selama berhari-hari beliau terus bersemedi di sana, tak pernah makan dan minum. Larut dalam zikir-zikir hingga runtuh segala syahwat yang melenakan jiwanya. Ditengah-tengah kekhusyukannya bertaqarrub dengan sang Pencipta, tiba-tiba air laut beriak lebih besar dan kencang dari biasanya. Suara gemuruh ombak setinggi pokok kelapa membuat sang pertapa mengakhiri semedinya. Beliau beranjak ke arah pintu keluar gua sambil menggesek tongkat sepanjang jalan. Dengan tertatih-tatih, pertapa menghadap ke arah laut.
Tapak Tuan Tapa
(google.com)
Hening… laut kembali tenang, riakannya surut teratur ke belakang. Tak lama, terdengar suara langit yang menggelegar. “Wahai sang pertapa, sebentar lagi, engkau akan kedatangan tamu dari laut Cina Selatan. Rawatlah dia selayaknya anakmu sendiri. Kelak jika sudah besar, lepaskanlah…, biarkan dia menemukan jati diri yang akan mengantarkannya pada kebahagiaan.” Mendengar pernyataan tersebut, Tuan tapa kembali teringat tragedi penumpahan darah beberapa waktu silam. Namun, tak begitu lama, beliau kembali ke dalam, merebahkan badan untuk sekedar membunuh lelah.
Keesokan harinya, langit tampak lebih biru dari biasanya, ikan melompat-lompat layaknya pemain skyboard di tengah gurun salju. Tuan Tapa semakin yakin bahwa hari itu, dia akan kedatangan tamu istimewa. Benar saja, tak jauh dari tempat beliau berdiri, tampak seperti sisik ikan warna lumut yang timbul tenggelam di antara gulungan ombak. Semakin dekat ke pesisir, tampaklah itu seekor naga. “Apakah ini maksud suara aneh semalam?” Tuan Tapa menepuk-nepuk tongkatnya ke atas pasir, hingga terpancarlah air di sekitar tepukan. Kemudian Tuan Tapa menggesek pasir-pasir di seputaran air dengan kedua tangannya, lalu terciptalah sumur dengan mata air yang jernih.
“Assalam’alaikum wahai Tuan Tapa” makhluk bersisik itu memberi salam, ketika sudah benar-benar sampai di tepian. Dia mengibas-ngibas ekor ke atas air laut sebagai bentuk kehormatannya terhadap sang tuan.
Setelah menjawab salam, Tuan Tapa meminta naga tersebut untuk masuk ke dalam sumur yang baru saja dibuat. Tanpa menanya lebih dulu, naga pun menurut segala yang dititahkan. Setelah seluruh tubuhnya masuk ke dalam sumur, berubahlah dia menjadi seorang pemuda yang sangat tampan. Kulit putih bak mutiara Cina, hidung mancung, rambut legam sedikit ikal. Bodynya tegap berisi, tetapi tidak gemuk, Lee Min Hoo dan artis papan atas olahan oplas tak satu pun bisa menyainginya. Tuan Tapa lalu berujar seraya memajangkan deretan gigi putih tanpa sentuhan close up. “Ini adalah tubuhmu yang sebenarnya, anak muda. Jika engkau berhasil mematahkan kutukan raja Cina yang zalim, engkau akan hidup normal seperti wajahmu sekarang. Pergilah ke sebuah tempat bernama Kotafajar, temukan seorang perempuan yang menenteng bakul bocor setiap paginya di tepi pantai Kuala Bak U. Jangan tanyakan apapun padanya kecuali bacaan surah Ar-Rahman, lalu dengarlah apa yang dia ucapkan. Kemudian, sampaikan salamku seraya memberikan cincin zamrut khatulistiwa ini padanya. Sebelum engkau pergi meninggalkan tempat ini, engkau harus berpuasa daud selama satu bulan penuh. Segala jenis ikan di laut, boleh engkau tangkap dan makan, tetapi jangan berlebihan. mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Jangan merusak biota laut, apalagi membunuh makhluk yang tidak berdosa. Jika engkau menyanggupi semua persyaratannya, engkau boleh tinggal di sini. ingat, hanya satu bulan.
“Baik Tuan, terima kasih atas nasihat dan jamuannya. Akan saya laksanakan semua persyaratannya dengan baik.”
“Pergilah ke sebelah timur gua, aku sudah menyediakan tempatmu untuk beristirahat. Satu lagi, jangan ganggu aku selama di dalam gua. Jika engkau tidak mengerti, maka belajarlah, berpikirlah dan temukan jawabannya sendiri. Ini adalah rumahmu yang baru, bersenang-senanglah tapi tetap menjaga.” Tuan Tapa pergi meninggalkan pemuda tampan tersebut, kembali dalam kalutnya.
Sebelum beranjak menuju rumah barunya, naga Cina membelah laut untuk menemukan beberapa ekor ikan segar sebagai menu sahurnya, besok adalah hari pertamanya berpuasa Daud. Barulah setelah merasa cukup kenyang, naga berisitirahat di gua yang mengalir air di dalamnya. Nyanyian gemericik air dari dalam gua, mengantarkan sang naga ke sebuah dimensi baru, dimensi manusia. Seorang perempuan dengan pakaian sederhana menutupi seluruh tubuhsedang sibuk membawa air laut dengan bakul bocornya. Keringat dingin sebesar biji jagung tidak melunturkan semangat terus bekerja, meski tanpa alas kaki sekalipun. Tak jauh dari perempuan itu menenteng air laut dalam bakul bocor, ada seekor bayi naga menangis terisak-isak. Bayi itu ditempatkan di sebuah kolam kecil yang airnya masih semata kaki. Tak lama, pemuda tampan ini menghampirinya sambil bertanya. “Bolehkah saya membantumu, duhai perempuan yang tertutup?” tak lama, bayi naga itu berubah besar, seperti raksasa. Lalu menelanannya bulat-bulat dengan sekali hentakan.
“Astagfirullaahal ‘adzim. Mimpi apa ini?” Naga terjaga dari tidurnya. Ingin sekali dia datang menemui sang pertapa, menanyakan takwil mimpi yang baru saja dialami. Niat itu pun memudar, saat teringat kembali pesan yang disampaikan sang Tuan kepadanya pagi tadi. Dia bergerak ke arah aliran air yang berisi ikan-ikan. Setelah membaca do’a sebelum makan dan berniat untuk puasa Daud esok hari, naga pun melahap ikan-ikan tersebut dengan rasa syukur yang berlipat-lipat.
“Terima kasih Allah atas segala nikmat yang Engkau berikan padaku. Mudah-mudahan, ini tidak menjadikan aku lupa diri atas segala Rahmat dan Maghfirah-Mu kepadaku.” Tutup naga hingga potongan ikan terakhir. Begitulah seterusnya. Sang naga terus berpuasa Daud selang satu hari, hingga sebulan penuh. Tepat ketika hari terakhirnya tinggal di Pantai Barat Selatan, barulah tuan Tapa keluar dari guanya.
“Anak muda, pergilah. Temukan jati dirimu sebenarnya. Ingatlah selalu nasehatku. Mengenai mimpimu sebulan  lalu, itu pertanda engkau akan terpengaruh dan merasa kasihan terhadap perempuan yang akan kau temui kelak. Jika engkau sempat bertanya dan menawarkan bantuan, artinya, engkau akan berubah menjadi seekor naga untuk selama-lamanya. Namun begitu, engkau tetap harus teguh pada pendirian. Jangan goyah meski engkau lihat perempuan malang itu  merangkak sekalipun. Ambilah musabah ini, berzikirlah kepada Allah Swt. Mohon perlindungan kepada-Nya, agar dimudahkan segala urusan.
“Baik Tuan, kalau begitu, saya pergi sekarang.” Pamit naga sambil memberi salam terakir kepada Tuan Tapa. Sebagai bentuk terima kasihnya kepada tuan, dia menanggalkan mahkota yang pernah diberikan orang tuanya selaku putra tunggal, yang akan memimpin kerajaan Cina. Tuan Tapa menerima pemberian tersebut sambil menepuk punggung naga. “Berjuanglah nak. Engkau pasti berhasil. Aku selalu mendo’akan kesuksesanmu.”
Naga mundur teratur, pergi meninggalkan sang tuan, kembali dalam kesendirian. Perjalananya menuju pantai Kuala Bak U tidaklah memerlukan waktu berbulan-bulan dan berminggu-minggu. Hanya tiga hari saja melalui jalur laut. Setibanya di sana, pemandangan yang dilihat persis sama, seperti yang dikatakan tuan bulan lalu. Namun, dia tidak menemukan seekor bayi naga di sana. Keadaan berubah seratus delapan puluh derajat ketika yang ditemui justru perempuan berkulit kuning langsat, mata sipit, hidung bengir dan kaki lentik duduk di tepi pantai sedang menghitung jumlah pasir dengan tangannya. Sang naga begitu penasaran, hingga dia lupa untuk berzikir. Tapi kekagetannya semakin menjadi tatkala perempuan itu berceloteh sendiri.
“Duhai laut yang tak pernah kering… dan asin adalah sisi romantis dalam luasmu. Bawalah segala duka yang menghinggapi, lemah yang selalu kuabaikan, hingga rusukku tak lagi tegak memikul beban. Duhai pasir yang tak terhitung jumlah… berapa banyak aku harus menunggu… cinta ini membutakan, namun begitu indah bila kunikmati dengan secawan gorengan dan secangkir teh manis yang masih mengepul asap. Hingga aku alpa, bahwa tanah merah, asalku. Kemana harus kutemukan kejujuran hakiki, sedang kanan-kiri, depan-belakang hanyalah kepalsuan yang mengatas namakan adil dan jujur. Andai butir dalam genggam ini bisa meleleh, maka akan kuhirup sekalian agar lunas segala duka lara. Aku tidak punya apa untuk kubanggakan, bahkan pasir pun tak betah berlama di sisi. Adakah yang setia selain engkau ya Rabb? Adakah cinta sesuci Zahrana dalam karangan novel kang Abik? Adakah penantian berujung gila seperti Majnun? Tidak… aku tidak menemukan kenikmatan hakiki selain bersama-Mu. Sesungguh hidup hanyalah bagaimana seseorang berterima kasih tanpa diminta.”
“Kemarilah anak muda, jangan bersembunyi di balik sisik hijaumu. Katakanalah pesan apa yang dititipkan Tuan Tapa, untukku?”
Anjungan Aceh Selatan
(Taken by kak Nur Hadis)
“Assalamu’alaikum… Tuan Tapa menitip salam kepadamu.” Sambil menyerahkan kotak merah yang berbalut bungkusan kuning, dia tampak sedikit kikuk ketika perempuan yang diamati sejak tadi sudah mengetahui kedatangannya lebih dulu, bahkan lebih dari sekedar tahu.
“Aku menerimanya. Tapi dengan satu syarat.”
“Apa itu?”
“Fabiayyialaa irabbikumaa tukadzibaan…. fabiayyialaa irabbikumaa tukadzibaan….fabiayyialaa irabbikumaa tukadzibaan….nikmat mana…nikmat mana… nikmat Tuhan yang mana lagi, engkau dustakan. Duhai… lengkapi separuh agamaku dengan kedekatan cinta kepada Rabb-ku. Aku menerimamu karena Allah.” Perempuan itu melepas selendeng yang mengikat pinggangnya yang ramping, lalu melilitkannya ke tubuh naga. Tak lama, muncul seorang laki-laki tampan dalam balutan selendang kuning kemerahan yang dipakaikan perempuan tertutup sebelumnya.
“Tutup auratmu, aku bukan malaikat yang tak bernafsu.” Kemudian pecahlah segala syukur-syukur kedua anak Adam hingga larut dalam rengkuh sepasang kekasih halal.

(google.com)


_TAMAT_


 NB : Ubahan dari versi aslinya (Tantangan 4. Super Writer III)

0 komentar:

Posting Komentar