![]() |
| (google.com) |
Laut berubah merah, sedang langit berarak kelabu
ketika pertempuran sengit antara dua ekor naga dari Cina melawan sang petapa di
tepi laut Selatan. Tak ada tanda-tanda kehidupan selain sang pertapa di sana.
Ya, beliau berhasil memenangkan pertempuran dalam mempertahankan tuan putri
kembali kepada kedua orang tua asli. Naasnya, kedua naga telah tewas lebih dulu
dengan kepala terpisah dari badan. Hatinya terlempar di daerah pesisir pantai
yang banyak bebatuan. Bertahun-tahun hati itu mengeras lalu berubah kehitaman.
Sehingga masyarakat sekitar menamai tempat tersebut Batu hitam.
Setahun kejadian maha dahsyat itu berlalu. Tuan tapa
kembali bersemedi di dalam gua, tak jauh dari pantai Selatan. Rambutnya tampak
rapi sebahu dengan warna latar keperakan. Sesekali memancar cahaya putih, bila
matahari diam-diam memantul sinar UV
white, kulitnya sedikit kasar dan
kusam, sebagai bukti, bahwa laut telah menjinakkannya siang-malam. Meskipun
begitu, perawakannya yang tinggi-besar, tidak memperlihatkan tanda-tanda
penuaan sama sekali. Beliau tampak masih gagah dengan tongkat berukir kepala
naga di sebelah kanan. Selama berhari-hari beliau terus bersemedi di sana, tak
pernah makan dan minum. Larut dalam zikir-zikir hingga runtuh segala syahwat
yang melenakan jiwanya. Ditengah-tengah kekhusyukannya bertaqarrub dengan sang
Pencipta, tiba-tiba air laut beriak lebih besar dan kencang dari biasanya.
Suara gemuruh ombak setinggi pokok kelapa membuat sang pertapa mengakhiri
semedinya. Beliau beranjak ke arah pintu keluar gua sambil menggesek tongkat
sepanjang jalan. Dengan tertatih-tatih, pertapa menghadap ke arah laut.
![]() |
| Tapak Tuan Tapa (google.com) |
Hening… laut kembali tenang, riakannya surut teratur
ke belakang. Tak lama, terdengar suara langit yang menggelegar. “Wahai sang
pertapa, sebentar lagi, engkau akan kedatangan tamu dari laut Cina Selatan.
Rawatlah dia selayaknya anakmu sendiri. Kelak jika sudah besar, lepaskanlah…,
biarkan dia menemukan jati diri yang akan mengantarkannya pada kebahagiaan.”
Mendengar pernyataan tersebut, Tuan tapa kembali teringat tragedi penumpahan
darah beberapa waktu silam. Namun, tak begitu lama, beliau kembali ke dalam,
merebahkan badan untuk sekedar membunuh lelah.
Keesokan harinya, langit tampak lebih biru dari
biasanya, ikan melompat-lompat layaknya pemain skyboard di tengah gurun salju.
Tuan Tapa semakin yakin bahwa hari itu, dia akan kedatangan tamu istimewa.
Benar saja, tak jauh dari tempat beliau berdiri, tampak seperti sisik ikan warna
lumut yang timbul tenggelam di antara gulungan ombak. Semakin dekat ke pesisir,
tampaklah itu seekor naga. “Apakah ini maksud suara aneh semalam?” Tuan Tapa
menepuk-nepuk tongkatnya ke atas pasir, hingga terpancarlah air di sekitar
tepukan. Kemudian Tuan Tapa menggesek pasir-pasir di seputaran air dengan kedua
tangannya, lalu terciptalah sumur dengan mata air yang jernih.
“Assalam’alaikum wahai Tuan Tapa” makhluk bersisik
itu memberi salam, ketika sudah benar-benar sampai di tepian. Dia
mengibas-ngibas ekor ke atas air laut sebagai bentuk kehormatannya terhadap
sang tuan.
Setelah menjawab salam, Tuan Tapa meminta naga
tersebut untuk masuk ke dalam sumur yang baru saja dibuat. Tanpa menanya lebih
dulu, naga pun menurut segala yang dititahkan. Setelah seluruh tubuhnya masuk
ke dalam sumur, berubahlah dia menjadi seorang pemuda yang sangat tampan. Kulit
putih bak mutiara Cina, hidung mancung, rambut legam sedikit ikal. Bodynya
tegap berisi, tetapi tidak gemuk, Lee Min Hoo dan artis papan atas olahan oplas
tak satu pun bisa menyainginya. Tuan Tapa lalu berujar seraya memajangkan
deretan gigi putih tanpa sentuhan close up. “Ini adalah tubuhmu yang sebenarnya,
anak muda. Jika engkau berhasil mematahkan kutukan raja Cina yang zalim, engkau
akan hidup normal seperti wajahmu sekarang. Pergilah ke sebuah tempat bernama
Kotafajar, temukan seorang perempuan yang menenteng bakul bocor setiap paginya
di tepi pantai Kuala Bak U. Jangan tanyakan apapun padanya kecuali bacaan surah
Ar-Rahman, lalu dengarlah apa yang dia ucapkan. Kemudian, sampaikan salamku seraya
memberikan cincin zamrut khatulistiwa ini padanya. Sebelum engkau pergi
meninggalkan tempat ini, engkau harus berpuasa daud selama satu bulan penuh.
Segala jenis ikan di laut, boleh engkau tangkap dan makan, tetapi jangan
berlebihan. mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Jangan merusak
biota laut, apalagi membunuh makhluk yang tidak berdosa. Jika engkau
menyanggupi semua persyaratannya, engkau boleh tinggal di sini. ingat, hanya
satu bulan.
“Baik Tuan, terima kasih atas nasihat dan jamuannya.
Akan saya laksanakan semua persyaratannya dengan baik.”
“Pergilah ke sebelah timur gua, aku sudah
menyediakan tempatmu untuk beristirahat. Satu lagi, jangan ganggu aku selama di
dalam gua. Jika engkau tidak mengerti, maka belajarlah, berpikirlah dan temukan
jawabannya sendiri. Ini adalah rumahmu yang baru, bersenang-senanglah tapi
tetap menjaga.” Tuan Tapa pergi meninggalkan pemuda tampan tersebut, kembali
dalam kalutnya.
Sebelum beranjak menuju rumah barunya, naga Cina
membelah laut untuk menemukan beberapa ekor ikan segar sebagai menu sahurnya,
besok adalah hari pertamanya berpuasa Daud. Barulah setelah merasa cukup
kenyang, naga berisitirahat di gua yang mengalir air di dalamnya. Nyanyian
gemericik air dari dalam gua, mengantarkan sang naga ke sebuah dimensi baru,
dimensi manusia. Seorang perempuan dengan pakaian sederhana menutupi seluruh
tubuhsedang sibuk membawa air laut dengan bakul bocornya. Keringat dingin
sebesar biji jagung tidak melunturkan semangat terus bekerja, meski tanpa alas
kaki sekalipun. Tak jauh dari perempuan itu menenteng air laut dalam bakul
bocor, ada seekor bayi naga menangis terisak-isak. Bayi itu ditempatkan di sebuah
kolam kecil yang airnya masih semata kaki. Tak lama, pemuda tampan ini
menghampirinya sambil bertanya. “Bolehkah saya membantumu, duhai perempuan yang
tertutup?” tak lama, bayi naga itu berubah besar, seperti raksasa. Lalu
menelanannya bulat-bulat dengan sekali hentakan.
“Astagfirullaahal ‘adzim. Mimpi apa ini?” Naga
terjaga dari tidurnya. Ingin sekali dia datang menemui sang pertapa, menanyakan
takwil mimpi yang baru saja dialami. Niat itu pun memudar, saat teringat
kembali pesan yang disampaikan sang Tuan kepadanya pagi tadi. Dia bergerak ke
arah aliran air yang berisi ikan-ikan. Setelah membaca do’a sebelum makan dan
berniat untuk puasa Daud esok hari, naga pun melahap ikan-ikan tersebut dengan
rasa syukur yang berlipat-lipat.
“Terima kasih Allah atas segala nikmat yang Engkau
berikan padaku. Mudah-mudahan, ini tidak menjadikan aku lupa diri atas segala
Rahmat dan Maghfirah-Mu kepadaku.” Tutup naga hingga potongan ikan terakhir.
Begitulah seterusnya. Sang naga terus berpuasa Daud selang satu hari, hingga
sebulan penuh. Tepat ketika hari terakhirnya tinggal di Pantai Barat Selatan,
barulah tuan Tapa keluar dari guanya.
“Anak muda, pergilah. Temukan jati dirimu sebenarnya.
Ingatlah selalu nasehatku. Mengenai mimpimu sebulan lalu, itu pertanda engkau akan terpengaruh
dan merasa kasihan terhadap perempuan yang akan kau temui kelak. Jika engkau
sempat bertanya dan menawarkan bantuan, artinya, engkau akan berubah menjadi
seekor naga untuk selama-lamanya. Namun begitu, engkau tetap harus teguh pada
pendirian. Jangan goyah meski engkau lihat perempuan malang itu merangkak sekalipun. Ambilah musabah ini,
berzikirlah kepada Allah Swt. Mohon perlindungan kepada-Nya, agar dimudahkan
segala urusan.
“Baik Tuan, kalau begitu, saya pergi sekarang.”
Pamit naga sambil memberi salam terakir kepada Tuan Tapa. Sebagai bentuk terima
kasihnya kepada tuan, dia menanggalkan mahkota yang pernah diberikan orang
tuanya selaku putra tunggal, yang akan memimpin kerajaan Cina. Tuan Tapa
menerima pemberian tersebut sambil menepuk punggung naga. “Berjuanglah nak.
Engkau pasti berhasil. Aku selalu mendo’akan kesuksesanmu.”
Naga mundur teratur, pergi meninggalkan sang tuan,
kembali dalam kesendirian. Perjalananya menuju pantai Kuala Bak U tidaklah
memerlukan waktu berbulan-bulan dan berminggu-minggu. Hanya tiga hari saja
melalui jalur laut. Setibanya di sana, pemandangan yang dilihat persis sama,
seperti yang dikatakan tuan bulan lalu. Namun, dia tidak menemukan seekor bayi
naga di sana. Keadaan berubah seratus delapan puluh derajat ketika yang ditemui
justru perempuan berkulit kuning langsat, mata sipit, hidung bengir dan kaki
lentik duduk di tepi pantai sedang menghitung jumlah pasir dengan tangannya.
Sang naga begitu penasaran, hingga dia lupa untuk berzikir. Tapi kekagetannya
semakin menjadi tatkala perempuan itu berceloteh sendiri.
“Duhai laut yang tak pernah kering… dan asin adalah
sisi romantis dalam luasmu. Bawalah segala duka yang menghinggapi, lemah yang
selalu kuabaikan, hingga rusukku tak lagi tegak memikul beban. Duhai pasir yang
tak terhitung jumlah… berapa banyak aku harus menunggu… cinta ini membutakan,
namun begitu indah bila kunikmati dengan secawan gorengan dan secangkir teh
manis yang masih mengepul asap. Hingga aku alpa, bahwa tanah merah, asalku.
Kemana harus kutemukan kejujuran hakiki, sedang kanan-kiri, depan-belakang hanyalah
kepalsuan yang mengatas namakan adil dan jujur. Andai butir dalam genggam ini
bisa meleleh, maka akan kuhirup sekalian agar lunas segala duka lara. Aku tidak
punya apa untuk kubanggakan, bahkan pasir pun tak betah berlama di sisi. Adakah
yang setia selain engkau ya Rabb? Adakah cinta sesuci Zahrana dalam karangan
novel kang Abik? Adakah penantian berujung gila seperti Majnun? Tidak… aku
tidak menemukan kenikmatan hakiki selain bersama-Mu. Sesungguh hidup hanyalah
bagaimana seseorang berterima kasih tanpa diminta.”
“Kemarilah anak muda, jangan bersembunyi di balik
sisik hijaumu. Katakanalah pesan apa yang dititipkan Tuan Tapa, untukku?”
![]() |
| Anjungan Aceh Selatan (Taken by kak Nur Hadis) |
“Assalamu’alaikum… Tuan Tapa menitip salam
kepadamu.” Sambil menyerahkan kotak merah yang berbalut bungkusan kuning, dia
tampak sedikit kikuk ketika perempuan yang diamati sejak tadi sudah mengetahui
kedatangannya lebih dulu, bahkan lebih dari sekedar tahu.
“Aku menerimanya. Tapi dengan satu syarat.”
“Apa itu?”
“Fabiayyialaa irabbikumaa tukadzibaan…. fabiayyialaa
irabbikumaa tukadzibaan….fabiayyialaa irabbikumaa tukadzibaan….nikmat
mana…nikmat mana… nikmat Tuhan yang mana lagi, engkau dustakan. Duhai… lengkapi
separuh agamaku dengan kedekatan cinta kepada Rabb-ku. Aku menerimamu karena
Allah.” Perempuan itu melepas selendeng yang mengikat pinggangnya yang ramping,
lalu melilitkannya ke tubuh naga. Tak lama, muncul seorang laki-laki tampan
dalam balutan selendang kuning kemerahan yang dipakaikan perempuan tertutup
sebelumnya.
“Tutup auratmu, aku bukan malaikat yang tak
bernafsu.” Kemudian pecahlah segala syukur-syukur kedua anak Adam hingga larut
dalam rengkuh sepasang kekasih halal.
(google.com)
_TAMAT_
NB : Ubahan dari versi aslinya (Tantangan 4. Super Writer III)




0 komentar:
Posting Komentar