Rabu, 17 Februari 2016

Merayakan Maulid Dengan Memperbanyak Shalawat Rasul

Banyak cara untuk berbahagia atas kelahiran nabi penutup sekaligus Rahmatal lil ‘alamin ini. Salah satunya dengan merayakan maulid.
Kata maulid berasal dari bahasa Arab, yang artinya lahir atau kelahiran. Sedangkan dalam bahasa Aceh, dikenal dengan sebutan molod.
Maulid atau molod merupakan sebuah perayaan atas kelahiran Rasulullah Muhammad bin Abdullah, seorang nabi terakir penutup segala nabi dan rasul yang sering dilaksanakan setiap tanggal 12 rabiul awal. Dimana seluruh masyarakat akan berbondong-bondong memeriahkannya dengan membuat kanduri atau sukuran di rumah-rumah, meunasah-meunasah, di TPA-TPA dan di Gampong-Gampong. Hal ini bertujuan agar seluruh umat manusia bisa ikut andil dalam merayakan moment yang paling ditunggu, kususnya bagi umat islam.
Merayakan Maulid bukan semata-mata untuk menunjukkan siapa paling mampu di antara sesama ummat manusia, tidak. Justru dengan adanya perayaan maulid di suatu daerah, akan merekatkan ukhuwah atau tali persaudaraan antar sesama.
Perayaan maulid pun bisa berbeda-beda di masing-masing daerah.
Sebut saja di daerah Banda Aceh-Aceh Besar. Pelaksanaan maulidnya dengan membuat kanduri di tiap-tiap rumah, kemudian mengundang seluruh kerabat terdekat, teman, sahabat dan lain-lain, supaya bisa saling berbagi dan wujud rasa syukur kepada Allah Swt. 
Kuah belangong merupakan menu pamungkas yang paling digemari oleh masyarakat sana. Campuran daging lembu yang empuk dengan potongan buah kulu atau nangka yang dimasak di dalam kuali besar, menambah sensasi tersendiri yang menggiurkan. Jus papaya yang dicampur nenas juga tak kalah segar, apalagi dinikmati di tengah terik.  Di samping itu, sebagai makanan penutup selalu ada kuah tuheh, bue leukat, apam, agar-agar dan masih banyak lagi.  
Diundang oleh orang Aceh Besar adalah hadiah paling indah bagi mahasiswa berstatus anak kost. Disamping bisa memperbaiki gizi, juga menghemat uang saku dan pastinya ikut berpartisipasi merayakan maulid.
Berbeda dengan di daerah saya, Aceh Selatan. Tepatnya di Kotafajar. Merayakan molod dengan menghias bale yang diisi buah dan lauk-pauk. Di sana, perayaan molod atau maulid juga digilir per lorong. Sementara tamu undangannya disesuaikan dengan nomor undian yang dicabut atau kesepakatan bersama. Misalnya lorong mushalla sebagai tuan rumah pelaksanaan maulid, maka yang menjadi tamu undangan adalah lorong Taqwa, lorong Mawar dan sebagainya. Di samping undangan lorong, pelaksana maulid juga mengundang anak-anak pesantren terdekat, seperti pesantren Darussa’dah, Darurrahmah, Kuala Bak U, dan pesantren lainnya.
Di sana, para undangan akan berdalail atau berzikir bersama di tempat atau di teratak yang disediakan panitia maulid. Setelah selesai acara, barulah undangannya dipersilahkan mencicipi hidangan yang sudah disediakan. Biasanya, setiap 5-7 orang mendapat satu jatah bale. 
Pemandangan yang taka sing disaat maulid sendiri adalah, para penontonnya yang tidak hanya dihadiri oleh bapak-bapak dan anak-anak saja, tapi ibu-ibu bahkan nenek-nenek pun ikut menghadiri. Sebagai ole-ole sebelum pulang ke rumah, mereka biasa membawa pulang buah dan lauk dari panitia sendiri. Namun, tak dipungkiri, rebutan dan adu cepat sigap juga tak terelakkan.
Bagaimanapun cara merayakannya, di manapun itu, yang jelas, semuanya adalah bagian dari kecintaan kepada rasul Muhammad. Tapi yang harus tetap dicatat bahwa mengingat rasul bukan saja ketika mauled atau di bulan rabiul awal saja. Karna jika engkau mengaku cinta kepada Rasulullah, sungguh engkau lebih banyak menyebut dan mengingat daripada duduk diam mendengar nyanyian yang entah apa isinya.
Wallahu’alam…


Balai buah dan balai nasi keluarga saya

Panitia maulid sedang mengangkat balai buah 

Balai buah

Penampakan Balai Nasi

Panitia sedang membagikan buah

Anak-anak yang antusias menunggu dibagikan buahan oleh panitia maulid

0 komentar:

Posting Komentar