Ah, leganya…
Kawan, kemarilah. Beristirahat di sampingku dan
nikmati pemandangan yang hijau membentang di sepanjang jalan Kotafajar-Tapaktuan.
Aku yakin, engkau pasti akan ketagihan tuk kembali, lagi dan lagi.
Pulang kampung adalah cita-cita yang selalu dinanti
oleh rantauwers dimana pun berada. Bagaimana
tidak. Berkumpul dengan keluarga, ngeledek adik-adik sampai ada yang nangis
adalah bagian dari hiburan yang tak didapat di rantau orang. Belum lagi makan
bisa kapan saja, selalu tersedia bahkan sampai 24 jam non stop. Sangat berbeda
bila berada di dunia nge-kost. Kalau ingat makan, kalau sempat masak.
Hari itu minggu, panasnya luar biasa. Bukan hanya
menyengat tutup kepala, bahkan sampai melelehkan pori-pori yang ketimbun lemak
berlebih. Cuaca seperti itu sangat cocok untuk latihan ngelangsingin diri,
seperti aku #eh
Tepat jam 12 teng, aku tiba di Kandang, daerah yang
terletak sebelah selatan dari tempat tinggalku. Ada apa di sana, kok aku ngebet
pengen ikut.
![]() |
| Fathma lagi coba ngecathwalk di atas lantai jembatan |
![]() |
| Mohon maaf kalau saya suka dipoto dari belakang :3 #FokusinJembatanAja |
![]() |
| Gak kebayang itu tempat duduk sepanas apa:/ Tar kalau pembaca kesana, coba aja sendiri :D Tapi jangan pergi jam 12 ya, konsekuensinya hanya dua, kalau bukan kesurupan ya kelangsungan. #eh |
Tada….
Di sana ada jembatan gantung dengan jarak ±15-20 meter. Jembatan yang dikelilingi pepohonan menambah nuansa go green memanjakan
mata. Belum lagi sejuknya air sungai yang tampak kehijuan, tenang, di bawah
jembatan.
![]() |
| Pemandangan di balik jembatan gantung #Kandang |
![]() |
| Seorang bapak sedang naik perahu #Kandang |
Pertama kali kesana, cuaca panas bahkan membakar itu
terlupakan sejenak. Sebagai gantinya, jadilah Fathma, adikku sebagai
photogrefer amatiran. Em, bolehlah, sekadar pelepas hawa.
Setelah puas berkodak ria, aku dan adik berpindah
haluan ke pasar minggu. Pemandangan orang-orang lalu lalang tak terelakkan. Beruntung
kami perginya agak siang, jadi desak, dorong dan tolak tak terjadi di sana.
Matahari semakin terik ketika azan zuhur
berkumandang. Acara hunting barang murahpun berakhir. Bawaan mulai penuh kiri-kanan.
Tempat nasi, 3 buah Rp.10.000 sudah ditangan, kaus Rp. 5.000 sepasang pun
dibawa pulang adik, dan beberapa barang dengan harga miring lainnya yang kami
bopong ke rumah.
Lelah? Belum lagi. Setelah shalat, makan dan
beristirahat sebentar. Perjalanan pun berlanjut ke daerah Kuala Bak U, pantai
yang terkenal dengan jumlah pohon kelapa berdiri teguh di sepanjang pantai,
kadang buahnya dimakan tupai, tak jarang terbawa arus hingga ke hulu sungai. Pantai
Kuala Bak U sendiri menjadi salah satu
bagian dari cerita adanya kota Tapaktuan.
![]() |
| Kapan Engkau ke sini? #Kuba |
![]() |
| photo Fathma luar biasa #Kuba |
![]() |
| Sok candit, padahal emang iya :D |
Selama di sana, pemandangan tak kalah menggiurkan
juga ada. Di sana terpampang laut dengan pasirnya yang menggelitik,
hamparan rumput seperti di bukit teletubis membuat aku dan adik betah
berlama-lama, sementara di sebelah kanan, agak menjorok ke bawah, bentang kuala
mengajak aku untuk terus mengabadikan setiap jengkalnya di dalam kamera hp.
Ternyata bergaya di sana, lebih romantis dari
sekadar berjalan di atas cathwalk yang ada di tipi-tipi. Aku senang menjadi
salah satu bagian dari anak pesisir. Selain bau laut, aku juga terbiasa dengan
nuansa sejuk pegunungan. Semoga kamu juga betah, jika ke sana nanti.








0 komentar:
Posting Komentar