Rabu, 24 Februari 2016

“Surat Dari Tahun 2099”

Langit tampak berarak pagi itu. Tapi tidak seperti biasanya. Merah kehitaman menjadi warna paling dominan diantara kelabu dan hitam. Seluruh ummat manusia tiba-tiba ikut berhamburan menyaksikan fenomena yang sangat langka, bahkan tidak pernah terjadi pada masa nenek monyang mereka dahulu.
“Ada apa gerangan?” mereka saling bertanya satu sama lain. Namun tak satu pun dari mereka yang angkat bicara karna faham, melainkan hanya tebak-tebak semata.
Takut…
Gelisah…
Tak lama, mereka yang tidak tahu itu berhamburan mencari masjid. Ada yang langsung masuk tanpa wudhuk, pakai mukena, lalu ambil posisi di pojok untuk tilawah. Ada yang sempat membawa bekal, seperti makanan, minuman untk persiapan lapar nanti, ada yang benar-benar khusyuk dalam sujud-sujud panjang, kala itu.
Takut…
Gelisah…
“Apa ini sudah dekat waktunya?” aku tidak beranjak selangkah pun dari rumah. Sebisa mungkin merangkak ke kamar mandi untuk berwhuduk. Tak lama kemudian, terdengar suara gemuruh dari langit yang memekakkan telinga. Segera setelah selesai, aku langsung mendirikan shalat sunnah whuduk dan shalat taubat.
Usai dua salam, aku tidak melepas mukena. Dengan tertatih, kembali merangkak ke daun pintu.
“Allaahu Akbar” Hatiku kaget, hendak meloncat keluar. Ratusan bahkan ribuan ummat manusia mulai terseret dari masjid satu-satu. Mereka bergerak seakan bukan maunya. “Dan lagi, siapa makhluk bermata satu itu?” hatiku terus bertanya tanpa jawaban
Dari jauh, aku melihat di kening makhluk tersebut tertulis “KAFIR”. Mungkinkah dia Dajjal yang pernah dicerita Ust dulu.
Di tangannya tergenggam syurga dan neraka. Kanan adalah neraka yang terlihat oleh orang-orang yang tidak beriman. Dan surga di sebelah kiri. Sementara orang-orang yang dekat dengan Rabb-Nya, justru melihat sebaliknya.
“Allah, apakah ini sudah waktunya?” “Apakah ini kiamat?” “Apakah amalku bisa menyelamatkan aku dari fitnah Dajjal tersebut?”
Tak lama, langit kembali normal. Tak ada lakon merah darah di sana, tak ada masjid yang berisi orang-orang shalih kecuali hitungan anak jari. Tak ada lantunan ayat suci Al-qur’an dan zikir-zikir pengingat mati. Tidak ada. Dunia seolah tanpak begitu tenang, padahal sedang diuji. Pemimpin zalim semakin meraja, sedang orang beriman, lagi shaleh dipanggil satu-satu keharibaan Allah.
“Lalu, aku bagaimana?”
Entah mengapa, di kota yang menjadi tanah kelahiran tidak seramah dulu. Perasaan tak dianggap lagi sering berkecamuk, bahkan sudah mati. Tak ada yang peduli atas lemah, atas fisik pun yang mau meluangkan waktu untuk sekedar memapah menyebrang jalan. Tidak ada. Aku benar-benar sendiri sekarang.
“Dimana orang-orang yang menyebut diri mereka sahabat dunia-akhirat?”
“Teman sehidup-semati?”
“Kekasih selama-lamanya?” Tidak ada. Aku sendiri.
Entah mengapa, tanah hijau di kampung halaman membuatku rindu. Hempasan ombak menerpa karang membuat jantungku deg-degan. Aliran Krung Sawang yang terlihat mengalir berkotak lurus membuatku ingin segera meninggalkan tempat ini.
Aku sudah tak punya siapa. Andai aku kembaran Doraemon, mungkin bisa melakukannya. Atau paling tidak, bisa meminjam pintu kemana saja tanpa harus repot menunggu pangeran berkuda putih menjemput.
“Ah… ini mustahil.”
Aku kembali masuk ke dalam. Merogoh mushaf yang sudah kusam karna sering dibuka. Aku membaca surat Al-Waqi’ah. Surat yang membuat mata tak tertahankan. Surat yang mengingatkan pada hari kiamat. Bagaimana bumi dgoncangkan sedahsyat-dahsyatnya dan gunung-gunung dihancur luluhkan, seluluh-luluhnya. Hingga tak ada yang tersisa selain butiran debu yang beterbangan.
105 tahun. Bukanlah usia untuk bersenang-senang. Apalagi sibuk mengupdate status aku begini dan begitu. Usia seperti itu, kebanyakan sudah bersedekap dengan bumi. Tapi aku, Allah masih memberi izin untuk hidup dan bernafas. Meskipun di sisi lain, aku tidak sekuat usia 21 tahun. Syukur kepada yang Maha Esa. Diusia tersebut, aku sudah menikmati segala jenis asam garam. Memiliki anak cucu, bahkan cicit. Membangun rumah sendiri walau sederhana. Hidup rukun dengan selusin menantu.
Tapi kini, aku tidak membutuhkan mereka. Egois memang. Kenikmatan bersua dengan manusia sudah musnah. Tidak seperti dulu, dimana tangisan bayi lebih kurindukan daripada dendang lagu Bergek yang tidak ada pesan moral sama sekali.
Aku rindu pulang. Tongkat dan batu yang bisa tumbuh, gubuk kecil di tengah kebun, langit malam selalu ada menemani. Yang jelas, di sana, aku tidak sendirian. Alam merinduiku. Tanah basah membaui indra penciuman. Derai hujan adalah nyair yang memberiku mantra ketenangan. Aku suka. Aku rindu.
Tak lama, pintu terbuka tiba-tiba. Air mata terus saja menetes di atas mushaf. Rindu itu sudah tak tertahankan. Tepat, ketika Al-qur’an kukatupkan. Aku sudah berada di sebuah gubuk sederhana. Sekeliling adalah tumbuhan hijau yang menyegarkan. Dan seekor kucing yang juga terlihat tua sepertiku. Mustahil. Siapa yang membawa tubuh dhaif ke sini. Bukakah aku masih menginjak langit kota 5 menit lalu.
Keanehan lain kembali menggerogoti otak. Seorang pemuda berpakaian putih bersih tersenyum ke arahku. Tidak bicara. Dia hanya menitip sesuatu di dalam amplop, lalu pergi begitu saja. Aku menerima surat tersebut dengan hati-hati. Meski usiaku sudah ratusan, tetap saja perasaan waspada kerap kali muncul mana kala bertemu dengan orang baru.
Pelan tapi pasti. Aku mengeja kata demi kata surat tersebut hingga selesai. Mataku kembali menetes. Ini bukan surat kematian, memang. Namun jauh lebih menampar dibandingkan surat cinta yang kuterima ratusan silam.

Adakah mawar itu harum, setelah ditinggal pemiliknya di atas meja, tergeletak pasrah hingga berubah warna?
Adakah air itu suci, setelah bercampur darah para syuhada yang terbunuh dalam peperangan melawan kaum zionis?
Adakah kopi itu pahit, setelah sianida menelan korban dan terkenal?
Adakah malam itu gelap, sedang di dalamnya lantunan zikir bergemuruh di tiap-tiap surau?
Adakah langit itu indah, padahal hanya biru yang mendominasi?
Adakah kita, anak Adam dan Hawa itu abadi sedang bekal tak terbawa sedikitpun selain amal?
Adakah Surga memilih amalan baik selama di dunia, sedang hati menyulut api dalam diam?
Adakah cinta membahagiakan, setelah tetes darah paksa keluar dari salah satu jasad saudara di sana?
Adakah hati itu batu, hingga kebaikan tak buat luruh dan sungkur menghadapnya?
Adakah kubur itu sempit, dimasuki orang-orang yang tak mau bersyukur?
Adakah malaikat itu kejam, padahal kesempatan bertaubat selalu diberi sebelum nyawa ditarik keluar?
Duh…
Ini sudah terlalu panjang!
Pilih saja yang membuatmu paling menarik dan terapkan
Sebelum benar-benar pergi
Tempat sujud masih merinduimu

Dari seseorang yang buta dunia

Surat tertutup. Tetesnya masih bergelantungan.
Aku bertanya.“Apakah usia membuatku enggan bertaubat?”
“Tuhan, jangan panggil dulu. Aku ingin kembali ke jalan lurus. Biarkanlah sungkur tuk terakhir kali,sebelum nyawa terpisah raga.”
Langit kembali hening. Tak ada makhluk yang bersuka.
“Laa ilaa ha illallah… Muhammadurrasulullah”
Pulang… tanah menunggu hadirku, sedang Kafan sudah tak sesabar dulu.
Aku pulang….

0 komentar:

Posting Komentar