Langit tampak berarak pagi itu. Tapi tidak seperti
biasanya. Merah kehitaman menjadi warna paling dominan diantara kelabu dan
hitam. Seluruh ummat manusia tiba-tiba ikut berhamburan menyaksikan fenomena
yang sangat langka, bahkan tidak pernah terjadi pada masa nenek monyang mereka
dahulu.
“Ada apa gerangan?” mereka saling bertanya satu sama
lain. Namun tak satu pun dari mereka yang angkat bicara karna faham, melainkan
hanya tebak-tebak semata.
Takut…
Gelisah…
Tak lama, mereka yang tidak tahu itu berhamburan
mencari masjid. Ada yang langsung masuk tanpa wudhuk, pakai mukena, lalu ambil
posisi di pojok untuk tilawah. Ada yang sempat membawa bekal, seperti makanan,
minuman untk persiapan lapar nanti, ada yang benar-benar khusyuk dalam
sujud-sujud panjang, kala itu.
Takut…
Gelisah…
“Apa ini sudah dekat waktunya?” aku tidak beranjak
selangkah pun dari rumah. Sebisa mungkin merangkak ke kamar mandi untuk berwhuduk.
Tak lama kemudian, terdengar suara gemuruh dari langit yang memekakkan telinga.
Segera setelah selesai, aku langsung mendirikan shalat sunnah whuduk dan shalat
taubat.
Usai dua salam, aku tidak melepas mukena. Dengan
tertatih, kembali merangkak ke daun pintu.
“Allaahu Akbar” Hatiku kaget, hendak meloncat
keluar. Ratusan bahkan ribuan ummat manusia mulai terseret dari masjid
satu-satu. Mereka bergerak seakan bukan maunya. “Dan lagi, siapa makhluk
bermata satu itu?” hatiku terus bertanya tanpa jawaban
Dari jauh, aku melihat di kening makhluk tersebut
tertulis “KAFIR”. Mungkinkah dia Dajjal yang pernah dicerita Ust dulu.
Di tangannya tergenggam syurga dan neraka. Kanan
adalah neraka yang terlihat oleh orang-orang yang tidak beriman. Dan surga di
sebelah kiri. Sementara orang-orang yang dekat dengan Rabb-Nya, justru melihat sebaliknya.
“Allah, apakah ini sudah waktunya?” “Apakah ini
kiamat?” “Apakah amalku bisa menyelamatkan aku dari fitnah Dajjal tersebut?”
Tak lama, langit kembali normal. Tak ada lakon merah
darah di sana, tak ada masjid yang berisi orang-orang shalih kecuali hitungan
anak jari. Tak ada lantunan ayat suci Al-qur’an dan zikir-zikir pengingat mati.
Tidak ada. Dunia seolah tanpak begitu tenang, padahal sedang diuji. Pemimpin
zalim semakin meraja, sedang orang beriman, lagi shaleh dipanggil satu-satu
keharibaan Allah.
“Lalu, aku bagaimana?”
Entah mengapa, di kota yang menjadi tanah kelahiran tidak
seramah dulu. Perasaan tak dianggap lagi sering berkecamuk, bahkan sudah mati.
Tak ada yang peduli atas lemah, atas fisik pun yang mau meluangkan waktu untuk
sekedar memapah menyebrang jalan. Tidak ada. Aku benar-benar sendiri sekarang.
“Dimana orang-orang yang menyebut diri mereka
sahabat dunia-akhirat?”
“Teman sehidup-semati?”
“Kekasih selama-lamanya?” Tidak ada. Aku sendiri.
Entah mengapa, tanah hijau di kampung halaman
membuatku rindu. Hempasan ombak menerpa karang membuat jantungku deg-degan.
Aliran Krung Sawang yang terlihat mengalir berkotak lurus membuatku ingin
segera meninggalkan tempat ini.
Aku sudah tak punya siapa. Andai aku kembaran
Doraemon, mungkin bisa melakukannya. Atau paling tidak, bisa meminjam pintu
kemana saja tanpa harus repot menunggu pangeran berkuda putih menjemput.
“Ah… ini mustahil.”
Aku kembali masuk ke dalam. Merogoh mushaf yang
sudah kusam karna sering dibuka. Aku membaca surat Al-Waqi’ah. Surat yang
membuat mata tak tertahankan. Surat yang mengingatkan pada hari kiamat.
Bagaimana bumi dgoncangkan sedahsyat-dahsyatnya dan gunung-gunung dihancur
luluhkan, seluluh-luluhnya. Hingga tak ada yang tersisa selain butiran debu
yang beterbangan.
105 tahun. Bukanlah usia untuk bersenang-senang.
Apalagi sibuk mengupdate status aku begini dan begitu. Usia seperti itu,
kebanyakan sudah bersedekap dengan bumi. Tapi aku, Allah masih memberi izin
untuk hidup dan bernafas. Meskipun di sisi lain, aku tidak sekuat usia 21
tahun. Syukur kepada yang Maha Esa. Diusia tersebut, aku sudah menikmati segala
jenis asam garam. Memiliki anak cucu, bahkan cicit. Membangun rumah sendiri
walau sederhana. Hidup rukun dengan selusin menantu.
Tapi kini, aku tidak membutuhkan mereka. Egois
memang. Kenikmatan bersua dengan manusia sudah musnah. Tidak seperti dulu,
dimana tangisan bayi lebih kurindukan daripada dendang lagu Bergek yang tidak
ada pesan moral sama sekali.
Aku rindu pulang. Tongkat dan batu yang bisa tumbuh,
gubuk kecil di tengah kebun, langit malam selalu ada menemani. Yang jelas, di
sana, aku tidak sendirian. Alam merinduiku. Tanah basah membaui indra
penciuman. Derai hujan adalah nyair yang memberiku mantra ketenangan. Aku suka.
Aku rindu.
Tak lama, pintu terbuka tiba-tiba. Air mata terus
saja menetes di atas mushaf. Rindu itu sudah tak tertahankan. Tepat, ketika
Al-qur’an kukatupkan. Aku sudah berada di sebuah gubuk sederhana. Sekeliling
adalah tumbuhan hijau yang menyegarkan. Dan seekor kucing yang juga terlihat
tua sepertiku. Mustahil. Siapa yang membawa tubuh dhaif ke sini. Bukakah aku
masih menginjak langit kota 5 menit lalu.
Keanehan lain kembali menggerogoti otak. Seorang
pemuda berpakaian putih bersih tersenyum ke arahku. Tidak bicara. Dia hanya
menitip sesuatu di dalam amplop, lalu pergi begitu saja. Aku menerima surat
tersebut dengan hati-hati. Meski usiaku sudah ratusan, tetap saja perasaan
waspada kerap kali muncul mana kala bertemu dengan orang baru.
Pelan tapi pasti. Aku mengeja kata demi kata surat
tersebut hingga selesai. Mataku kembali menetes. Ini bukan surat kematian,
memang. Namun jauh lebih menampar dibandingkan surat cinta yang kuterima
ratusan silam.
“Adakah mawar itu
harum, setelah ditinggal pemiliknya di atas meja, tergeletak pasrah hingga
berubah warna?
Adakah air itu suci, setelah bercampur darah para
syuhada yang terbunuh dalam peperangan melawan kaum zionis?
Adakah kopi itu pahit, setelah sianida menelan
korban dan terkenal?
Adakah malam itu gelap, sedang di dalamnya lantunan
zikir bergemuruh di tiap-tiap surau?
Adakah langit itu indah, padahal hanya biru yang
mendominasi?
Adakah kita, anak Adam dan Hawa itu abadi sedang
bekal tak terbawa sedikitpun selain amal?
Adakah Surga memilih amalan baik selama di dunia,
sedang hati menyulut api dalam diam?
Adakah cinta membahagiakan, setelah tetes darah paksa
keluar dari salah satu jasad saudara di sana?
Adakah hati itu batu, hingga kebaikan tak buat luruh
dan sungkur menghadapnya?
Adakah kubur itu sempit, dimasuki orang-orang
yang tak mau bersyukur?
Adakah malaikat itu kejam, padahal kesempatan
bertaubat selalu diberi sebelum nyawa ditarik keluar?
Duh…
Ini sudah terlalu panjang!
Pilih saja yang membuatmu paling menarik dan
terapkan
Sebelum benar-benar pergi
Tempat sujud masih merinduimu
![]() |
| Dari seseorang yang buta dunia |
Surat tertutup. Tetesnya masih bergelantungan.
Aku bertanya.“Apakah usia membuatku enggan
bertaubat?”
“Tuhan, jangan panggil dulu. Aku ingin kembali ke jalan
lurus. Biarkanlah sungkur tuk terakhir kali,sebelum nyawa terpisah
raga.”
Langit kembali hening. Tak ada makhluk yang bersuka.
“Laa ilaa ha illallah… Muhammadurrasulullah”
Pulang… tanah menunggu hadirku, sedang Kafan sudah
tak sesabar dulu.
Aku pulang….

0 komentar:
Posting Komentar