Sabtu, 27 Februari 2016

Sebening Cinta Az-Zahra


Cinta… seperti jatuhnya rintik pada setangkai mawar
Hingga kuncup mekar disepanjang musim
Seperti itulah cinta aku padamu
Tak banyak yang kutau tentangmu, Za. Namun cinta adalah satu dari sekian alasan, mengapa aku memilihmu. Bahkan hingga bayang tinggal kenang, dan senja pulang ke Barat. Aku tak tahu jawab apa.Yang jelas, saat kudengar nama itu disebut, seolah ada aliran listrik seribu volt yang menarik hatiku untuk ikut bergetar.
“Za, apa cuma aku yang merasa sesakit ini?”
***
            Aku adalah Rama, mahasiswa tingkat akhir yang diPHP-in buat wisuda tahun ini. Namun kenyataannya, aku adalah sebutir pasir yang hampir tak dianggap ada. Berkali menjumpai pembimbing, berkali menunggu tanpa ada pencerahan dan berkali pula aku harus pulang bawa tangan kosong. Pembimbingnya keluar kota, ada acara keluarga, nikah tetangga, ngelahirin cucu dan lain sebagainya. Jujur, itu adalah dilema tahun-tahun terakir berstatus mahasiswa.
            Namun, penantian itu tak lagi membosankan saat pertama kali aku menemukanmu ikut mengantri di sebelah kanan, engkau tersenyum sebagai pengganti salam basa-basi. Aku terima senyum itu, lalu menyimpannya di bilik paling dalam. Agar suaktu-waktu lupa, aku bisa menariknya keluar, tanpa perlu khawatir izinmu.
            Sekitar dua jam duduk manis di depan prodi Bahasa Inggris, engkau meminta izin lebih dulu untuk shalat zuhur. Aku mengangguk, ikut mengiyakan.
Pelan namun pasti, engkau berbisik.“Akh, sudah azan. Lebih baik kita shalat dulu. Berdo’a semoga dosennya cepat datang dan bisa konsul lebih cepat.”
Engkau berlalu bak angin musim semi yang menampar-nampar pipi coklatku dengan mawar. Begitu harum. Saat itu, aku belum bergerak seperti katamu sebelumnya. Aku memilih untuk tetap di sana, bahkan kini, berganti posisi bersandar di salah satu tiang prodi.
“Za, bagaimana aku shalat. Kalau whuduk saja aku tak bisa.”
Lima belas menit kemudian, aku ikut beranjak. Aneh, hatiku lagi-lagi tidak tergerak untuk shalat. Sebaliknya, kaki kuseret untuk menaiki anak tangga hingga ke lantai dua. Aku terhenti tepat di depan mushalla khusus perempuan.
“Za, kaukah itu? Wajahmu tampak lebih ranum dalam balutan pakaian serba putih, kata temanmu, itu adalah mukena.”
“Za, andai engkau mau menjadi pasanganku, sungguh, akan berterima kasih. Bahkan tidak keberatan bila harus menanggalkan skripsi yang entah kapan siapnya.”
Sayup-sayup, aku mendengar engkau merapal do’a. Meski gendangku jarang dikorek, kupastikan ia tidak bermasalah.
“Rama. Andai engkau tahu bahwa surga tak bisa disentuh hanya dengan mimpi siang bolong, walau segala amal kau timbun hingga sebesar gunung Uhud. Tak kan bisa menempatimu pada posisi mulia. Lalu, bagaimana engkau ingin memimpin mahligai rumah tangga, padahal engkau sendiri belum bisa berjalan.”
“Rama. Sudah hampir lima tahun aku mengagumimu, mengamati setiap gerak tanpa izin, mendengar segala celoteh yang bahkan menghibur kesendirian, menghitung jumlah cinta yang menguap karna ketidak openanmu, mengabaikan seseorang yang diam-diam menyimpan rasa.”
 “Ah Rama. Bicara apa aku ini. Tak berhak aku mengaku suka pada seorang yang tidak mencintai Rabbnya. Tapi apa, aku bahkan selalu menghadirkanmu setiap detak nafas bersama zikrullah. Terlalu berlebihan, bukan? Namun, ini adalah mampuku. Meski kelak aku bukan orang yang dipilihkan Allah untuk melengkapi tulang rusukmu, kudo’akan semoga engkau kembali ke jalan-Nya. Semoga hidayah mendekapmu selalu, selamanya.”
Tak lama, langkah itu menghilang di balik tangga.
Setelah shalat zuhur. Aku tak berniat lagi kembali ke prodi. Aku malu. Benar-benar malu. Meski sekedar berpapasan dengan Za pun aku tak bisa. Berbeda dengan lima belas menit lalu.
“Arkan? Ya! Aku harus mencari Arkan. Memintanya untuk mengajarkan whuduk, lalu shalat. Ah, tidak. Bukan hanya itu. Mungkin aku harus bersyahadat kedua kalinya untuk memastikan aku benar-benar seorang muslim.” Hatiku terus bergejolak sepanjang jalan, meninggalkan kampus biru Ar-Raniry.
“Arkan, lagi dimana?” Terdengar suara ngebas milikku di balik gagang Android.
“Masih di masjid, Ma. Kenapa? Apa kamu baik-baik saja?” Kali ini justru Arkan yang tampak gelisah mendengar suara tanya di ujung seberang.
“Tunggu, aku ke sana sekarang” Klik. Tanpa menunggu jawaban dari lawan bicara, telpon pun diputus Rama begitu saja.
Bagaimana pun aku harus menemui Arkan saat ini juga. Tak peduli cuaca panas membakar ubun-ubun siang itu. Aku memutar laju beat, menuju masjid kampus Fathun Qarib. Di belokan kiri, tak sengaja aku melihat kaca sepion. Di sana tampak wajah ranum milik Zahra yang ditimpa panas berlari dengan nafas terengah.
“Rama… Rama… !!! Suara Za tertelan lalu lalang suara kenalpot.”
“Rama… Rama…!!! Kali ini disusul dengan batuk-batuk pertanda dia mulai lelah.
Aku tak jadi berbelok. Tak lama, segera menghentikan laju motor dan memarkirkan sembarang di samping jalan. Orang-orang mulai berlari mengerumuni tempat Za berada.
“Tidakkkkk…. Zahra, apa yang terjadi?” Kali ini aku tidak lagi berjalan pelan. Kupaksa kaki berlari kencang untuk menemui Zahra, segera. Kekasih yang mulai membuka pintu cahaya iman di hatinya.
“Zahra….!” Aku menggeser paksa kerumunan. Sementara darah segar mulai bersimbah memenuhi perut jalan.
“Dia ditabrak lari oleh seorang pengendara Kawasaki. Aku sempat mendengar dia meneriaki laki-laki itu dengan Rama. Sebelum semuanya menjadi begini” seorang ibu agak tembun mencertakan kronologis yang baru saja terjadi.
Aku benar-benar bersalah. Jadi, Zahra memanggilku, bermaksud mengejar si pengendara yang membuatnya berdarah. “Aghhh…. Aku bodoh!”
“Tidak Rama. Aku senang engkau datang. Itu artinya, engkau percaya padaku. Kemarilah, dekatkan telingamu.” Suara Zahra mulai terdengar terbata.
 “Andai aku pergi sekarang, apa engkau siap kehilangan? Apakah Tuhan akan menerima cintaku pada seorang yang tidak pernah shalat? Apa kita bisa bertemu lagi? Ah, ini bukanlah  kata-kata yang ingin kuutarakan. Tapi, jujur. Aku mencintaimu Rama. Mencintai seperti jatuhnya rintik pada setangkai mawar. Hingga kuncup mekar di sepanjang musim. Seperti itulah cinta aku padamu.”
Za menutup mata buat selamanya. Lantunan tahlil terdengar disisa nafas terakir. Dia pergi, benar-benar pergi, menyisakan senyum penuh kedamaian.
Sementara khalayak mulai melihat ke arahku. Entah pandangan itu menunjuk simpati, kasihan atau bahkan mencela atas segala lakonku selama ini, tentu saja bagi yang mengenali siapa aku sebenarnya.
Tiba-tiba, seseorang menepuk pundakku seraya berkata, “Cinta memang luar biasa. Mampu merobohkan benteng yang kokoh, melunakkan besi, hingga meruntuhkan kesaksian seorang sahabat yang anti whuduk. Rama, andai engkau bisa melihat sejauh mana cinta Zahra kepadamu, maka lihatlah dengan ini.” Laki-laki yang tak lain adalah Arkan, sahabatnya menyodorkan sarung dan peci kepada Rama.  
“Cinta telah membawa Za menemukan cinta Rabbnya. Mengapa engkau tidak menyusulnya, ikut bertaqarrub dengan Allah. Do’akan Za, sungguh, sebenar-benar cinta adalah saling mendo’akan. Kematian memang memisahkan, tapi yakinlah, amal yang baik akan mempertemukan kalian kelak di Surganya.” Tutur Arkan, kembali menepuk punggung Rama, menenangkan.

Photo ilustrasi dari guel
Langit Banda Aceh kembali rebah. Bayang-bayang hanya tinggal kenang pada simpul hawa, hingga hapus akan kabung dalam tiap tetes basah. Sebelum benar-benar pergi, biarkan angin berbisik mantra cinta.
“Gugur…gugur… biarlah rabithah berbaur.

Peluk segala sendu, dalam dekap As-syifa”

0 komentar:

Posting Komentar