Cinta… seperti
jatuhnya rintik pada setangkai mawar
Hingga kuncup
mekar disepanjang musim
Seperti itulah
cinta aku padamu
Tak banyak yang kutau tentangmu, Za. Namun cinta
adalah satu dari sekian alasan, mengapa aku memilihmu. Bahkan hingga bayang
tinggal kenang, dan senja pulang ke Barat. Aku tak tahu jawab apa.Yang jelas,
saat kudengar nama itu disebut, seolah ada aliran listrik seribu volt yang
menarik hatiku untuk ikut bergetar.
“Za, apa cuma aku yang merasa sesakit ini?”
***
Aku
adalah Rama, mahasiswa tingkat akhir yang diPHP-in buat wisuda tahun ini. Namun
kenyataannya, aku adalah sebutir pasir yang hampir tak dianggap ada. Berkali
menjumpai pembimbing, berkali menunggu tanpa ada pencerahan dan berkali pula
aku harus pulang bawa tangan kosong. Pembimbingnya keluar kota, ada acara
keluarga, nikah tetangga, ngelahirin cucu dan lain sebagainya. Jujur, itu
adalah dilema tahun-tahun terakir berstatus mahasiswa.
Namun,
penantian itu tak lagi membosankan saat pertama kali aku menemukanmu ikut
mengantri di sebelah kanan, engkau tersenyum sebagai pengganti salam basa-basi.
Aku terima senyum itu, lalu menyimpannya di bilik paling dalam. Agar
suaktu-waktu lupa, aku bisa menariknya keluar, tanpa perlu khawatir izinmu.
Sekitar
dua jam duduk manis di depan prodi Bahasa Inggris, engkau meminta izin lebih
dulu untuk shalat zuhur. Aku mengangguk, ikut mengiyakan.
Pelan namun pasti, engkau berbisik.“Akh, sudah azan.
Lebih baik kita shalat dulu. Berdo’a semoga dosennya cepat datang dan bisa
konsul lebih cepat.”
Engkau berlalu bak angin musim semi yang
menampar-nampar pipi coklatku dengan mawar. Begitu harum. Saat itu, aku belum
bergerak seperti katamu sebelumnya. Aku memilih untuk tetap di sana, bahkan
kini, berganti posisi bersandar di salah satu tiang prodi.
“Za, bagaimana aku shalat. Kalau whuduk saja aku tak
bisa.”
Lima belas menit kemudian, aku ikut beranjak. Aneh,
hatiku lagi-lagi tidak tergerak untuk shalat. Sebaliknya, kaki kuseret untuk
menaiki anak tangga hingga ke lantai dua. Aku terhenti tepat di depan mushalla
khusus perempuan.
“Za, kaukah itu? Wajahmu tampak lebih ranum dalam
balutan pakaian serba putih, kata temanmu, itu adalah mukena.”
“Za, andai engkau mau menjadi pasanganku, sungguh,
akan berterima kasih. Bahkan tidak keberatan bila harus menanggalkan skripsi
yang entah kapan siapnya.”
Sayup-sayup, aku mendengar engkau merapal do’a.
Meski gendangku jarang dikorek, kupastikan ia tidak bermasalah.
“Rama. Andai engkau tahu bahwa surga tak bisa
disentuh hanya dengan mimpi siang bolong, walau segala amal kau timbun hingga
sebesar gunung Uhud. Tak kan bisa menempatimu pada posisi mulia. Lalu,
bagaimana engkau ingin memimpin mahligai rumah tangga, padahal engkau sendiri
belum bisa berjalan.”
“Rama. Sudah hampir lima tahun aku mengagumimu,
mengamati setiap gerak tanpa izin, mendengar segala celoteh yang bahkan
menghibur kesendirian, menghitung jumlah cinta yang menguap karna ketidak
openanmu, mengabaikan seseorang yang diam-diam menyimpan rasa.”
“Ah Rama.
Bicara apa aku ini. Tak berhak aku mengaku suka pada seorang yang tidak
mencintai Rabbnya. Tapi apa, aku bahkan selalu menghadirkanmu setiap detak
nafas bersama zikrullah. Terlalu berlebihan, bukan? Namun, ini adalah mampuku.
Meski kelak aku bukan orang yang dipilihkan Allah untuk melengkapi tulang
rusukmu, kudo’akan semoga engkau kembali ke jalan-Nya. Semoga hidayah
mendekapmu selalu, selamanya.”
Tak lama, langkah itu menghilang di balik tangga.
Setelah shalat zuhur. Aku tak berniat lagi kembali
ke prodi. Aku malu. Benar-benar malu. Meski sekedar berpapasan dengan Za pun
aku tak bisa. Berbeda dengan lima belas menit lalu.
“Arkan? Ya! Aku harus mencari Arkan. Memintanya
untuk mengajarkan whuduk, lalu shalat. Ah, tidak. Bukan hanya itu. Mungkin aku
harus bersyahadat kedua kalinya untuk memastikan aku benar-benar seorang
muslim.” Hatiku terus bergejolak sepanjang jalan, meninggalkan kampus biru
Ar-Raniry.
“Arkan, lagi dimana?” Terdengar suara ngebas milikku
di balik gagang Android.
“Masih di masjid, Ma. Kenapa? Apa kamu baik-baik
saja?” Kali ini justru Arkan yang tampak gelisah mendengar suara tanya di ujung
seberang.
“Tunggu, aku ke sana sekarang” Klik. Tanpa menunggu
jawaban dari lawan bicara, telpon pun diputus Rama begitu saja.
Bagaimana pun aku harus menemui Arkan saat ini juga.
Tak peduli cuaca panas membakar ubun-ubun siang itu. Aku memutar laju beat,
menuju masjid kampus Fathun Qarib. Di belokan kiri, tak sengaja aku melihat
kaca sepion. Di sana tampak wajah ranum milik Zahra yang ditimpa panas berlari
dengan nafas terengah.
“Rama… Rama… !!! Suara Za tertelan lalu lalang suara
kenalpot.”
“Rama… Rama…!!! Kali ini disusul dengan batuk-batuk
pertanda dia mulai lelah.
Aku tak jadi berbelok. Tak lama, segera menghentikan
laju motor dan memarkirkan sembarang di samping jalan. Orang-orang mulai
berlari mengerumuni tempat Za berada.
“Tidakkkkk…. Zahra, apa yang terjadi?” Kali ini aku
tidak lagi berjalan pelan. Kupaksa kaki berlari kencang untuk menemui Zahra, segera.
Kekasih yang mulai membuka pintu cahaya iman di hatinya.
“Zahra….!” Aku menggeser paksa kerumunan. Sementara
darah segar mulai bersimbah memenuhi perut jalan.
“Dia ditabrak lari oleh seorang pengendara Kawasaki.
Aku sempat mendengar dia meneriaki laki-laki itu dengan Rama. Sebelum semuanya
menjadi begini” seorang ibu agak tembun mencertakan kronologis yang baru saja
terjadi.
Aku benar-benar bersalah. Jadi, Zahra memanggilku,
bermaksud mengejar si pengendara yang membuatnya berdarah. “Aghhh…. Aku bodoh!”
“Tidak Rama. Aku senang engkau datang. Itu artinya,
engkau percaya padaku. Kemarilah, dekatkan telingamu.” Suara Zahra mulai
terdengar terbata.
“Andai aku
pergi sekarang, apa engkau siap kehilangan? Apakah Tuhan akan menerima cintaku
pada seorang yang tidak pernah shalat? Apa kita bisa bertemu lagi? Ah, ini bukanlah
kata-kata yang ingin kuutarakan. Tapi,
jujur. Aku mencintaimu Rama. Mencintai seperti jatuhnya rintik pada setangkai
mawar. Hingga kuncup mekar di sepanjang musim. Seperti itulah cinta aku
padamu.”
Za menutup mata buat selamanya. Lantunan tahlil terdengar
disisa nafas terakir. Dia pergi, benar-benar pergi, menyisakan senyum penuh
kedamaian.
Sementara khalayak mulai melihat ke arahku. Entah
pandangan itu menunjuk simpati, kasihan atau bahkan mencela atas segala lakonku
selama ini, tentu saja bagi yang mengenali siapa aku sebenarnya.
Tiba-tiba, seseorang menepuk pundakku seraya
berkata, “Cinta memang luar biasa. Mampu merobohkan benteng yang kokoh,
melunakkan besi, hingga meruntuhkan kesaksian seorang sahabat yang anti whuduk.
Rama, andai engkau bisa melihat sejauh mana cinta Zahra kepadamu, maka lihatlah
dengan ini.” Laki-laki yang tak lain adalah Arkan, sahabatnya menyodorkan
sarung dan peci kepada Rama.
“Cinta telah membawa Za menemukan cinta Rabbnya.
Mengapa engkau tidak menyusulnya, ikut bertaqarrub dengan Allah. Do’akan Za,
sungguh, sebenar-benar cinta adalah saling mendo’akan. Kematian memang
memisahkan, tapi yakinlah, amal yang baik akan mempertemukan kalian kelak di Surganya.”
Tutur Arkan, kembali menepuk punggung Rama, menenangkan.
![]() |
| Photo ilustrasi dari guel |
Langit Banda Aceh kembali rebah. Bayang-bayang hanya
tinggal kenang pada simpul hawa, hingga hapus akan kabung dalam tiap tetes
basah. Sebelum benar-benar pergi, biarkan angin berbisik mantra cinta.
“Gugur…gugur… biarlah rabithah berbaur.
Peluk segala sendu, dalam dekap As-syifa”


0 komentar:
Posting Komentar