Rabu, 09 Maret 2016

Harga Sebuah Komitmen

            20 Januari 2020
Jam 20.00 kita resmi menjadi sepasang sahabat.

Aku seorang perempuan biasa yang lahir di pinggiran sungai Permata. Tubuhku kecil, mataku hijau. Orang bilang aku keturunan kulit putih. Tapi kenyataannya, aku hidup sebatang kara.
Suatu hari aku bertemu kamu. Pakaian kekotaan dengan tas ransel warna pinky yang kamu kenakan, selalu menjadi sorotan tiap berpasan. Kamu orangnya ramah, periang, setidaknya itu yang kurasakan saat bersamamu. Tak butuh waktu berbulan untuk kemudian mengikrarkan diri sebagai sepasang sahabat.
“Kalau besar nanti, kamu ingin menjadi apa?”
“Ingin terus bersamamu sampai tua.”
“Apa kamu tidak mau jadi orang sukses?”
“Tentu, sukses untuk terus menjagamu di tiap waktu.”
“Bagaimana jika nanti kita terpisah?”
“Aku akan tetap bersamamu dalam do’a”
“Apa kamu tidak menyesal mengenalku?”
“Tidak, untuk sebuah persahabatan”
Bulan dan matahari bersaing sehat menempati posisi paling ditunggu tiap hari. Tanpa terasa, aku dan kamu pun tumbuh menjadi sepasang merpati yang dikagumi banyak orang. Selayak sepasang sandal newera, tanpa salah satunya, tatapan aneh akan menusuk paksa ke arahmu. Ketika aku tak ada, kamu gelisah dan khawatir. Apalagi saat kita berdua memutuskan untuk melanjutkan ke sekolah berbeda. Aku di kampus hijau, kamu memilih kampus biru.
Suatu hari, aku tetiba ingin bertemu. Aku rindu ocehan kamu yang kadang begitu mengesalkan. Sejak kita berjarak, kamu seolah ditelan masa. Memang kita masih sama-sama terkenal, tapi tidak untuk sebuah persahabatan. Aku terus memikirkanmu. Menghubungimu hingga kali ke puluhan tetap tak ada jawaban.
Keesokan harinya, aku masih dongkol. Kubiarkan langkah itu menari di atas escalator Suzuya. Sesekali mata ikut menerawangi barang baru. Hingga tak sengaja, mataku menangkap tubuh kurusmu di antara orang tak kukenal. Mereka cantik dan seksi. Polesan lip balm hiasi mulut mereka, yang menurutku terlihat ketuaan.
Aku benar-benar penasaran. Kuputuskan menemuimu dan melepas rindu yang membuncah. Gayung memang bersambut, sebelum benar-benar terlempar ke dalam selokan.
“Apa kamu baik-baik saja?”
“Ehm”
“Aku merindukan kamu.”
Kamu tak peduli. Jemari lentikmu sibuk menekan tut-tut android layar sentuh. Teman-teman sibuk mebisikkan kebodohanku. Kamu tetap saja tidak peduli. Aku geram. Kusentak kanan lenganmu agar mengikutiku meninggalkan mereka. Tapi apa, kamu dengan angkuh membentak, bahkan dengan suara tinggi. Darahku mendidih, kamu lebih menyeramkan dari seorang mak lampir, aku kehilangan jati dirimu, sosok kamu yang dulu lagi di sana.
“Pergilah. Tak ada yang harus dibicarakan. Tidak ada persahabatan kolot antara kita. Bebaskan keterikatan ini dengan memilih jalan masing-masing.”
Kamu pergi dengan menenteng tas kotak keluaran terbaru. Tak lupa sambil jalan, kamu menempel bedak Melati di sekujur wajah. Jujur, aku melihat kamu begitu norak saat itu. Jauh di hati kecil, aku mendo’akanmu agar kembali ke jalan orang-orang yang diberi nikmat namun tetap dalam syukur.
Seminggu kemudian, aku kembali jalan sendiri. Kali ini, Taman Sari menjadi tujuan utama. Tempat kita bertemu tiap malam minggu, dan sudah menjadi rumah kedua kita.
Lagi-lagi aku melihatmu dengan kawan baru yang lain. Setelannya agak sedikit jeansy, rada ketomboyan. Kembali kuperhatikan, kamu  begitu nikmati tiap perubahan penampilan itu, aku semakin tak suka. Wajah polos dengan bedak my baby sudah tak kutemukan lagi. Ya, hanya dua kata yang mewakili seluruh penilaianku, MENOR dan SANGAT MENOR.
Walau harus mendompol malu, aku tetap menjumpaimu. Kuputuskan hari kemarin hanyalah guyoan penolakan atas ajakanku, sebab sudah janji lebih dulu bersama kekawanan.
“Apa kamu menikmati perubahan diri itu? Kamu tampak berlebihan dengan potongan kain yang ditempel-tempel. Belum lagi gincu merah menambah sorot pribadimu, tampak begitu rendahan.”
Aku memutuskan untuk jujur. Karna kamu pernah berpesan jika aku tak suka dengan penampilanmu, aku boleh mengkritik habis-habisan, meskipun di depan kawan-kawanmu. Aku mengiyakan dan kuperaktikkan hari itu.
Kamu marah, ah tidak. Kamu sudah mendidih dan hampir meledak. Cairan kuning dingin dalam iklan nutrisari, meluncur indah di wajahku. Tidak hanya itu, kamu semakin menjadi dan membentak seenak jidat.
“Pergilah. Lupakan persahabatan aneh itu. Cukup saja tiga tahun aku hidup di bawah bayang kuper[1] dan kudet[2]. Jujur, sejak bersamamu, dunia itu hanya seukuran batok kelapa. Aku tak melihat langit biru, selain gelap. Kamu tahu, dunia terus mencibir ketertinggalan diri. Sekarang, lihat? Dengan mereka, aku menemukan dunia baru. Lingkungan yang tidak diisi dengan warna hitam atau putih saja. Pergilah. Aku muak dengan keluguanmu.”
Aku hanya bisa menelan ludah, mendengar ucapmu. Perasaan tak terima pun seolah menari dan menguliti isi kepala. Aku terdiam di tempat. Lagi-lagi temanmu ikut meneriaki kebodohan.
Lalu, untuk apa mendeklarasikan “Persahabatan” jika dinikmati hanya sebatas manis?
“Baiklah. Kita akhiri saja adegan Pikachu ini. Tak ada guna larut dalam andai-andai. Sekarang, kembalikan komitment yang dulu. Aku akan membelinya dan menyedekahkan kepada orang-orang yang berhak menerima, bukan sepertimu. Sebab itu lebih baik, daripada mempertahankan “Rasa teman, namun berbuah empedu”. Terima kasih. Jangan tanya apa tentangku, meski aku mati lebih dulu.[3]


google.com


[1] Kurang pergaulan
[2] Kurang update
[3] Jika sudah komit, gugurlah segala kesibukan. Namun aku tidak menemukan itu padamu

0 komentar:

Posting Komentar