Kali
petama melihatmu, aku langsung jatuh cinta
Meski banyak pasang mata yang meremehkan,
menjatuhkan bahkan hanya melihat tampilan luar saja, tak apa. Bagiku itu jauh
lebih menyenangkan daripada dipelopotin dari ujung rambut hingga ujung kaki
karna nafsu.
Memang, jika ditilik dari sisi manapun, aku tampak
begitu kolot dengan setelan baju kurung seperti goni. Tak ada rambut rebonding
atau curly di sana. Apalagi untuk
satu lekuk indah seperti biola. Mereka menyebutku Ninja Hatori. Penampilan
tertutup tanpa menampakkan satu aurat pun membuat mereka yang memandang segera
menekan tombol “merah” artinya No. Tapi, aku menikmatinya. Aku bersyukur sebab
diriku terhindar dari tatapan buaya darat.
“Mira, sampai kapan bergaya dengan setelan kolot begitu?”
Suatu hari Nelly temanku mengoceh, seolah aku tampak
begitu buruk dengan kerudung mengibar sampai lutut. Aku hanya membalas senyum.
Tak berniat menyahut atau membenarkan diri. Aku memang baru berhijrah, bukan
berarti lebih shalihah dibanding Rabiyah Al Adawiyah. Biarlah kata-kata mereka
kujadikan motivasi untuk terus memperbaiki.
Hingga suatu hari, seorang datang menemui orang
tuaku di kampung halaman. Katanya dia berniat menikahiku. Memang ibu tidak
memaksa harus jawab saat itu juga, tapi aku bisa merasakan kalau sebenarnya ibu
ingin menyegerakanku ikut sunnah nabi.
Besoknya aku menelpon ibu, memastikan kembali kalau orang
yang menghubungi beliau beberapa waktu lalu sangat serius, bukan modal modus.
Ibu kembali mengiyakan sambil mengangguk, meskipun aku tidak melihat anggukannya
langsung.
Tak lama, hp tet tot peninggalan Jepang milikku
kembali berdering setelah lima menit percakapan dengan ibu berakhir. Aku tidak
mengenali nomornya, meski ragu, aku tetap menekan tombol “ok”.
“Assalamu’alaikum, saya Furqan. Beberapa waktu lalu sudah
menemui keluarga di kampung Asahan, meminta izin untuk segera mengkhitbahmu.
Sekarang, saya ingin menanyakan langsung kepada dek Mira. Bagaimana, apa boleh
saya kenal lebih dekat dengan adik. In syaa Allah, sabtu depan saya akan
berkunjung ke tempat dik Mira dengan abang. Tolong berikan alamat lengkapnya
saja.”
Seperti halilintar yang menari di gendang telinga.
Perasaan kaget bercampur aduk dengan mimpi siang bolong pecah berbaur jadi
satu. Tak tahu jawab apa. Hingga kembali suara di seberang memecah lamunan
“Kita bertemu di mesjid Fathun Qarib saja, di
belakang Universitas Ar-Raniry, tetangganya fakultas Syari’ah. Di sana tidak
hanya kita. Ada saya, adik, juga murabbi kita berdua.”
Deg…
Apa itu artinya proposalku di-ACC. Mustahil.
Proposal itu sudah hampir lima tahun tak ada kabar. Aku bahkan sudah
melupakannya. Lagi, waktu itu aku juga tidak berniat serius.
“Emmm, baiklah. Aku juga membawa teman.”
Percakapan singkat lagi padat itu pun berakhir.
Keringat sebesar biji jagung mulai tumbuh di kening tak berjerawat. Aneh, aku
bahkan tak bermimpi ada ular bertamu ke rumah. Jika memang dia adalah jodoh
yang Allah pilihkan untukku, tiada alasan untuk menolak atau memalingkannya
sekalipun.
***
“Mira? Kamu yakin
laki-laki itu orangnya?” Nelly bertanya setengah membentak lantaran tak
percaya. Kok bisa orang yang selama ini dianggap paling cool di kalangan anak Adam memilih Mira dengan setelan karung goni.
“Entahah, Nel. Jika
memang itu orangnya, sebentar lagi dia akan mendekat lalu menyapa.”
“Kamu kah dik Mira?” Laki-laki
itu memamerkan deret gigi putih bebas asap rokok. Dua kawah kecil terbentuk di
kedua pipinya.
Aku hanya mengangguk,
membiarkan dia larut dalam sejuta penilaian. Sementara Nelly hanya tersenyum
kecut menelan ludah seraya berkata. “Haruskah aku berpakaian sepertimu untuk
akhiri kutukan jomblo ini?”
![]() |
| Gambar copy @IntagramAyhumaeni |

0 komentar:
Posting Komentar