Senin, 28 Maret 2016

Kutukan Jomblo

Kali petama melihatmu, aku langsung jatuh cinta
Meski banyak pasang mata yang meremehkan, menjatuhkan bahkan hanya melihat tampilan luar saja, tak apa. Bagiku itu jauh lebih menyenangkan daripada dipelopotin dari ujung rambut hingga ujung kaki karna nafsu.
Memang, jika ditilik dari sisi manapun, aku tampak begitu kolot dengan setelan baju kurung seperti goni. Tak ada rambut rebonding atau curly di sana. Apalagi untuk satu lekuk indah seperti biola. Mereka menyebutku Ninja Hatori. Penampilan tertutup tanpa menampakkan satu aurat pun membuat mereka yang memandang segera menekan tombol “merah” artinya No. Tapi, aku menikmatinya. Aku bersyukur sebab diriku terhindar dari tatapan buaya darat.
“Mira, sampai kapan bergaya dengan setelan kolot begitu?”
Suatu hari Nelly temanku mengoceh, seolah aku tampak begitu buruk dengan kerudung mengibar sampai lutut. Aku hanya membalas senyum. Tak berniat menyahut atau membenarkan diri. Aku memang baru berhijrah, bukan berarti lebih shalihah dibanding Rabiyah Al Adawiyah. Biarlah kata-kata mereka kujadikan motivasi untuk terus memperbaiki.
Hingga suatu hari, seorang datang menemui orang tuaku di kampung halaman. Katanya dia berniat menikahiku. Memang ibu tidak memaksa harus jawab saat itu juga, tapi aku bisa merasakan kalau sebenarnya ibu ingin menyegerakanku ikut sunnah nabi.
Besoknya aku menelpon ibu, memastikan kembali kalau orang yang menghubungi beliau beberapa waktu lalu sangat serius, bukan modal modus. Ibu kembali mengiyakan sambil mengangguk, meskipun aku tidak melihat anggukannya langsung.
Tak lama, hp tet tot peninggalan Jepang milikku kembali berdering setelah lima menit percakapan dengan ibu berakhir. Aku tidak mengenali nomornya, meski ragu, aku tetap menekan tombol “ok”.
“Assalamu’alaikum, saya Furqan. Beberapa waktu lalu sudah menemui keluarga di kampung Asahan, meminta izin untuk segera mengkhitbahmu. Sekarang, saya ingin menanyakan langsung kepada dek Mira. Bagaimana, apa boleh saya kenal lebih dekat dengan adik. In syaa Allah, sabtu depan saya akan berkunjung ke tempat dik Mira dengan abang. Tolong berikan alamat lengkapnya saja.”
Seperti halilintar yang menari di gendang telinga. Perasaan kaget bercampur aduk dengan mimpi siang bolong pecah berbaur jadi satu. Tak tahu jawab apa. Hingga kembali suara di seberang memecah lamunan
“Kita bertemu di mesjid Fathun Qarib saja, di belakang Universitas Ar-Raniry, tetangganya fakultas Syari’ah. Di sana tidak hanya kita. Ada saya, adik, juga murabbi kita berdua.”
Deg…
Apa itu artinya proposalku di-ACC. Mustahil. Proposal itu sudah hampir lima tahun tak ada kabar. Aku bahkan sudah melupakannya. Lagi, waktu itu aku juga tidak berniat serius.
“Emmm, baiklah. Aku juga membawa teman.”
Percakapan singkat lagi padat itu pun berakhir. Keringat sebesar biji jagung mulai tumbuh di kening tak berjerawat. Aneh, aku bahkan tak bermimpi ada ular bertamu ke rumah. Jika memang dia adalah jodoh yang Allah pilihkan untukku, tiada alasan untuk menolak atau memalingkannya sekalipun.
***
“Mira? Kamu yakin laki-laki itu orangnya?” Nelly bertanya setengah membentak lantaran tak percaya. Kok bisa orang yang selama ini dianggap paling cool di kalangan anak Adam memilih Mira dengan setelan karung goni.
“Entahah, Nel. Jika memang itu orangnya, sebentar lagi dia akan mendekat lalu menyapa.”
“Kamu kah dik Mira?” Laki-laki itu memamerkan deret gigi putih bebas asap rokok. Dua kawah kecil terbentuk di kedua pipinya.

Aku hanya mengangguk, membiarkan dia larut dalam sejuta penilaian. Sementara Nelly hanya tersenyum kecut menelan ludah seraya berkata. “Haruskah aku berpakaian sepertimu untuk akhiri kutukan jomblo ini?”

Gambar copy @IntagramAyhumaeni

0 komentar:

Posting Komentar