Kamis, 10 November 2016

Minggu Pagi di Pemandian Ie Suum

Wajah Rasa Kasur -_-
Entah kapan ide mandi di Ie Suum itu direncanakan, yang jelas pagi-pagi buta dua motor kecye sudah mejeng di sana. Perjalanan yang hampir memakan lebih kurang setengah jam itu pun tak sia-sia manakala mata menyapu kepulan uap air. Tak berapa lama, kak Aya yang memegang hp keren segera mengambil alih dan mengabadikannya dalam puluhan poto.
Di sana ada kejadian memalukan yang tak pernah lupa oleh ingatanku, bagaimana tidak, saat berlari menuruni bukit, kurasakan tubuh itu seolah melayang, tak lama disambut hangat oleh tanah yang sedikit berkerikil. Wal-hasil, jadilah aku mencium bumi beberapa saat lamanya, sebelum gelak tawa pecah berhambur, tersapu asap Ie Suum. Saat itu, kak Tyna yang berjarak satu meter denganku datang lebih dulu. Wajahnya seperti mayat hidup, kaget bukan kepalang, menyusul kak Aya yang juga gak kalah pucat. Sayang sekali, kagetnya gak lama, dan sisanya hanya tawa terpingkal berguling-guling.
Setelah empat tahun di Banda Aceh, baru sekali berkesempatan mengunjungi air panas dan sudah bawa pulang malu. Ah, memalukan memang kalau pergi bareng diriku. Mungkin karna terlalu bersemangat atau juga karna aku yang lupa menempatkan posisi sampai lupa bawa pengaman.
Hal sial kedua adalah saat pulang dari pemandian Ie Suum, aku bahkan lupa kalau dompet hanya sisa kertas saldo. Lebih sial lagi, minyak beat yang kukendarai hanya tersisa di kotak merah. Sementara dua orang seniorku sudah jauh menikung di depan, meninggalkan kepulan butiran debu. Ah, aku kalut, berniat mengejar, tapi tak punya modal. Takut juga jika tiba-tiba motornya ngambek dan ninggalin aku di tengah jalan. Tak lama, motor merah itu kupaksa juga melaju kencang, paling kuat bergerak di angka 60. Ehm, bolehlah. Meski hati sudah jauh hari meninggalkan tempat asalnya.
Sepanjang jalan aku terus berdo’a, memohon ampunan, jikapun nanti aku harus berhenti, setidaknya jangan di tempat sepi, atau boleh di tempat sepi asalkan ada pangeran yang baik hati nyumbangin duit satu gepok buat isi minyak dan bertahan hidup selama sebulan ke depan. Meskipun demikian, usahaku tetap tidak berhenti di situ, berkali aku menekan klakson berharap dua sejoli muslimah itu menengokku di belakang sambil melempar bunga. Lagi-lagi mereka terus berpacu dengan melodi asap knalpot.
Aku pasrah, kemudian sesak nafas tiba-tiba. Tak lama kemudian, aku mendapati tubuhku sudah terduduk di antara mereka berdua, Old Town Coffe. Meski bukan pangeran dengan uang segepok, motor beat tetap memilihku dan bertahan hingga sampai di Darussalam. Ya, aku mendarat dengan selamat.
Kau tahu, sempat tiba di sana aku menceritakan segala kegalauan selama perjalanan, hasilnya negative. Mereka tetap tak ambil peduli, bahkan memilih menggodaku dengan gelak yang lagi-lagi bikin aku depresi.
Inilah resiko kalau perginya bareng senior. Di mana-mana, junior tetap harus diberi pelajaran.
Oh, tidaaakkk…

Lain kali, aku ingin pergi dengan adik-adik saja lah. Biar kalau motor mogok bisa gertak teri buat dibalenin, atau minimal mereka bakalan kasian liat wajah seniornya yang gak berbentuk lagi. :D
Photo by kak Hayatul Maulina

Pemandian Ie Suum untuk anak-anak

4 komentar:

  1. Idenya tuh muncul jam 00:00 sebelum kita nobar berdua dalam gelap... hahaha

    BalasHapus
  2. Hahaha. Ide yang tiba-tiba muncul emang kece, ya. Sayang kami gak bisa ikutan. Irilah waktu itu. Huhu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah kak Sanah, lain kali kak mesti ikutan ya.
      Biar serunya awet :D

      Hapus