![]() |
| Wajah Rasa Kasur -_- |
Entah kapan ide mandi di Ie Suum itu direncanakan,
yang jelas pagi-pagi buta dua motor kecye sudah mejeng di sana. Perjalanan yang
hampir memakan lebih kurang setengah jam itu pun tak sia-sia manakala mata
menyapu kepulan uap air. Tak berapa lama, kak Aya yang memegang hp keren segera
mengambil alih dan mengabadikannya dalam puluhan poto.
Di sana ada kejadian memalukan yang tak pernah lupa
oleh ingatanku, bagaimana tidak, saat berlari menuruni bukit, kurasakan tubuh
itu seolah melayang, tak lama disambut hangat oleh tanah yang sedikit berkerikil.
Wal-hasil, jadilah aku mencium bumi beberapa saat lamanya, sebelum gelak tawa
pecah berhambur, tersapu asap Ie Suum. Saat itu, kak Tyna yang berjarak satu
meter denganku datang lebih dulu. Wajahnya seperti mayat hidup, kaget bukan
kepalang, menyusul kak Aya yang juga gak kalah pucat. Sayang sekali, kagetnya
gak lama, dan sisanya hanya tawa terpingkal berguling-guling.
Setelah empat tahun di Banda Aceh, baru sekali
berkesempatan mengunjungi air panas dan sudah bawa pulang malu. Ah, memalukan
memang kalau pergi bareng diriku. Mungkin karna terlalu bersemangat atau juga
karna aku yang lupa menempatkan posisi sampai lupa bawa pengaman.
Hal sial kedua adalah saat pulang dari pemandian Ie
Suum, aku bahkan lupa kalau dompet hanya sisa kertas saldo. Lebih sial lagi,
minyak beat yang kukendarai hanya tersisa di kotak merah. Sementara dua orang
seniorku sudah jauh menikung di depan, meninggalkan kepulan butiran debu. Ah,
aku kalut, berniat mengejar, tapi tak punya modal. Takut juga jika tiba-tiba
motornya ngambek dan ninggalin aku di tengah jalan. Tak lama, motor merah itu
kupaksa juga melaju kencang, paling kuat bergerak di angka 60. Ehm, bolehlah.
Meski hati sudah jauh hari meninggalkan tempat asalnya.
Sepanjang jalan aku terus berdo’a, memohon ampunan,
jikapun nanti aku harus berhenti, setidaknya jangan di tempat sepi, atau boleh
di tempat sepi asalkan ada pangeran yang baik hati nyumbangin duit satu gepok
buat isi minyak dan bertahan hidup selama sebulan ke depan. Meskipun demikian,
usahaku tetap tidak berhenti di situ, berkali aku menekan klakson berharap dua
sejoli muslimah itu menengokku di belakang sambil melempar bunga. Lagi-lagi
mereka terus berpacu dengan melodi asap knalpot.
Aku pasrah, kemudian sesak nafas tiba-tiba. Tak lama
kemudian, aku mendapati tubuhku sudah terduduk di antara mereka berdua, Old
Town Coffe. Meski bukan pangeran dengan uang segepok, motor beat tetap
memilihku dan bertahan hingga sampai di Darussalam. Ya, aku mendarat dengan
selamat.
Kau tahu, sempat tiba di sana aku menceritakan
segala kegalauan selama perjalanan, hasilnya negative. Mereka tetap tak ambil
peduli, bahkan memilih menggodaku dengan gelak yang lagi-lagi bikin aku
depresi.
Inilah resiko kalau perginya bareng senior. Di
mana-mana, junior tetap harus diberi pelajaran.
Oh, tidaaakkk…
Lain kali, aku ingin pergi dengan adik-adik saja
lah. Biar kalau motor mogok bisa gertak teri buat dibalenin, atau minimal
mereka bakalan kasian liat wajah seniornya yang gak berbentuk lagi. :D
![]() |
| Photo by kak Hayatul Maulina |
![]() |
| Pemandian Ie Suum untuk anak-anak |



Idenya tuh muncul jam 00:00 sebelum kita nobar berdua dalam gelap... hahaha
BalasHapusBiasanya yang dadakan memang hayeu, kak :D
HapusHahaha. Ide yang tiba-tiba muncul emang kece, ya. Sayang kami gak bisa ikutan. Irilah waktu itu. Huhu.
BalasHapusItulah kak Sanah, lain kali kak mesti ikutan ya.
HapusBiar serunya awet :D