Jumat, 11 November 2016

JUM’AT MOGOK

Google.com
Hari ini entah dosa apa yang kuperbuat, sehingga motor beat tiba-tiba mati tepat di belokan depan Polda. Kucoba terus menstarter hingga kebas, tak lama kucoba untuk mengengkolnya di tengah-tengah lalu lalang kendaraan. Sayangnya tak ada satupun kukenal melintas d depan, pun Hp yang seharusnya mangkal di tas selempeng juga terlupakan.
“Ah, benar-benar bukan hari keberuntunganku.”
Tak lama, seorang laki-laki menyeberang ke arahku dan menawarkan diri untuk membantu. Aku ikhlas motor beat merah berpindah ke tangan orang yang tak kukenal. Kini, motorku sudah berada di seberang jalan.
Ternyata laki-laki itu tidak sendiri, bersama temannya yang bertubuh lebih besar darinya pun ikut turun dari motor besar dan mencoba meringankan keringat si kawan.
Hampir 30 menit-an laki-laki itu menstarter dan terus mengulangi engkolannya, lagi-lagi masih naas. Terakir, ia meminta aku untuk duduk di belakang kemudi temannya yang bertubuh sedikit lebih besar darinya. Aku menolak dan memohon izin untuk berjalan kaki saja. Setelah berkonsultasi berdua, maka bangkitlah temannya untuk mencari bengkel terdekat. Tak lama setelah itu, ia pun kembali dengan keringat dan nafas yang terputus-putus.
“Belum ketemu” Ucapnya.
Aku pasrah, sementara aku harus mengajar privat di arah Pango. Tak bisa kulakukan apa-apa selain berdo’a, mengingat kembali kesalahan yang kulakukan tadi pagi. Terakir, aku memutuskan untuk menyeberang dan berjalan ke arah kost-an. Aku sempat pasrah juga, namun kedua orang baru itu lagi-lagi menawarkan bantuan yang tak terduga.
“Bagaimana kalau kami antar saja motornya sampai ke tempat tinggal kakak?” Tanya salah satu dari keduanya.
Aku hanya mengangguk setuju. Sementara aku berjalan kaki, di samping jalan Jeulingke dekat orang jual kuota internet, kami menemukan bengkel. Jadilah motorku dibongkar dan dibedah di bagian penyimpanan baterai.
Selama pembongkaran, barulah aku tahu bahwa kedua laki-laki yang menolongku sama-sama mahasiswa UIN Ar-Raniry jurusan HES (Hukum Ekonomi Islam), Fakultas Syari’ah. Terlebih yang membuatku terkejut, mereka ketua dan sekretaris HMJ, temannya umi Ilka Sandela, salah satu pengajar di TPA Al-Mukhayyarah, tempat aku mengajar.
Aku benar-benar bersukur, dan dunia pun seolah mengecil seketika.
Ketua HMJ yang kutahu bernama Ikhwan itu juga mengenal Ihsan, salah satu teman di sekolah menengah dulu. Sementara temannya yang bertubuh agak besar itu bernama Fauzan, abang sepupunya salah satu santriku di Al-Mukhayyarah, Afdila Nahtadia.
See? Ternyata di manapun kita berada, selalu ada orang baik yang siap menolong. Entah itu teman atau bahkan orang tak dikenal.
Aku berterimakasih banyak kepada keduanya, dan tulisan ini hanyalah perwailan kecil dari ucapan sukur itu.
Untuk Fauzan dan Ikhwan semangat terus belajarnya, semoga cepat sarjana, cepat menjadi orang sukses dan bermanfaat dari orang lain, serta dipertemukan dengan orang-orang hebat yang jauh lebih baik.

Aceh, terimakasih juga telah membesarkan dan mendidikku menjadi seorang yang tidak gampang menyerah dan putus asa. 

4 komentar:

  1. Sama-sama Kak, Semoga Apa yg kami lakukan dapat bermanfaat dan Di ridhai oleh Allah Swt. Terimakasih juga kami sampaikan kak krn telah mengabadikan moment hari itu lewat tulisan nya, mantap, salut kami sama buk guru ataw ustazah naura..salaam..hehe :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha...
      Akhirnya jumpa di Dumay kita.
      Tak sangka tulisan kakak dibaca sama orang tertinggi di kampus macam adik.
      :D

      Hapus
  2. Hahahahahaa mantap panglima... Ikhwan

    BalasHapus