Google.com
Hari
ini entah dosa apa yang kuperbuat, sehingga motor beat tiba-tiba mati tepat di
belokan depan Polda. Kucoba terus menstarter hingga kebas, tak lama kucoba
untuk mengengkolnya di tengah-tengah lalu lalang kendaraan. Sayangnya tak ada
satupun kukenal melintas d depan, pun Hp yang seharusnya mangkal di tas
selempeng juga terlupakan.
“Ah,
benar-benar bukan hari keberuntunganku.”
Tak
lama, seorang laki-laki menyeberang ke arahku dan menawarkan diri untuk
membantu. Aku ikhlas motor beat merah berpindah ke tangan orang yang tak
kukenal. Kini, motorku sudah berada di seberang jalan.
Ternyata
laki-laki itu tidak sendiri, bersama temannya yang bertubuh lebih besar darinya
pun ikut turun dari motor besar dan mencoba meringankan keringat si kawan.
Hampir
30 menit-an laki-laki itu menstarter dan terus mengulangi engkolannya,
lagi-lagi masih naas. Terakir, ia meminta aku untuk duduk di belakang kemudi
temannya yang bertubuh sedikit lebih besar darinya. Aku menolak dan memohon
izin untuk berjalan kaki saja. Setelah berkonsultasi berdua, maka bangkitlah
temannya untuk mencari bengkel terdekat. Tak lama setelah itu, ia pun kembali
dengan keringat dan nafas yang terputus-putus.
“Belum
ketemu” Ucapnya.
Aku
pasrah, sementara aku harus mengajar privat di arah Pango. Tak bisa kulakukan
apa-apa selain berdo’a, mengingat kembali kesalahan yang kulakukan tadi pagi. Terakir,
aku memutuskan untuk menyeberang dan berjalan ke arah kost-an. Aku sempat
pasrah juga, namun kedua orang baru itu lagi-lagi menawarkan bantuan yang tak
terduga.
“Bagaimana
kalau kami antar saja motornya sampai ke tempat tinggal kakak?” Tanya salah
satu dari keduanya.
Aku
hanya mengangguk setuju. Sementara aku berjalan kaki, di samping jalan
Jeulingke dekat orang jual kuota internet, kami menemukan bengkel. Jadilah
motorku dibongkar dan dibedah di bagian penyimpanan baterai.
Selama
pembongkaran, barulah aku tahu bahwa kedua laki-laki yang menolongku sama-sama
mahasiswa UIN Ar-Raniry jurusan HES (Hukum Ekonomi Islam), Fakultas Syari’ah.
Terlebih yang membuatku terkejut, mereka ketua dan sekretaris HMJ, temannya umi
Ilka Sandela, salah satu pengajar di TPA Al-Mukhayyarah, tempat aku mengajar.
Aku
benar-benar bersukur, dan dunia pun seolah mengecil seketika.
Ketua
HMJ yang kutahu bernama Ikhwan itu juga mengenal Ihsan, salah satu teman di
sekolah menengah dulu. Sementara temannya yang bertubuh agak besar itu bernama
Fauzan, abang sepupunya salah satu santriku di Al-Mukhayyarah, Afdila Nahtadia.
See?
Ternyata di manapun kita berada, selalu ada orang baik yang siap menolong.
Entah itu teman atau bahkan orang tak dikenal.
Aku
berterimakasih banyak kepada keduanya, dan tulisan ini hanyalah perwailan kecil
dari ucapan sukur itu.
Untuk
Fauzan dan Ikhwan semangat terus belajarnya, semoga cepat sarjana, cepat menjadi
orang sukses dan bermanfaat dari orang lain, serta dipertemukan dengan
orang-orang hebat yang jauh lebih baik.
Aceh,
terimakasih juga telah membesarkan dan mendidikku menjadi seorang yang tidak
gampang menyerah dan putus asa.

Sama-sama Kak, Semoga Apa yg kami lakukan dapat bermanfaat dan Di ridhai oleh Allah Swt. Terimakasih juga kami sampaikan kak krn telah mengabadikan moment hari itu lewat tulisan nya, mantap, salut kami sama buk guru ataw ustazah naura..salaam..hehe :D
BalasHapusHahaha...
HapusAkhirnya jumpa di Dumay kita.
Tak sangka tulisan kakak dibaca sama orang tertinggi di kampus macam adik.
:D
Hahahahahaa mantap panglima... Ikhwan
BalasHapusHehehe...
HapusHayeu meunan ken?