Rabu, 21 November 2018

Nyasar Lagi, Apes Lagi


Minggu Kedua [2]
Novel : Tikil ( Titipan Kilat), Kami Antar Kami Nyasar
Penulis : Iwok Abqary
Tahun Terbit. : 2008
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 203 hal.
-
-
Apa jadinya kalau sebuah perusahan tapi karyawannya pada gak normal semua?
Tikil ( Titipan Kilat) Cabang Tasikmalaya adalah salah satu jasa pengiriman barang yang hampir ditutup.
Lho, bagaimana bisa?
Dibanding jasa pengiriman barang lainnya, TIKIL Cab. Tasikmalaya ini termasuk yang paling tua umurnya.
Sayangnya, pendapatan di sana tidak mengalami peningkatan, bahkan sebaliknya terus saja menurun.
Ditambah lagi keadaan karyawannya yang rada eror bahkan mendekati taraf abnormal menjadi salah satu alasan kenapa TIKIL tidak berkembang sejak bertahun-tahun lamanya.
Sebut saja Lilis. Cewek manis yang menduduki bagian resepsionis di TIKIL tersebut tiada hari tanpa mengidolakan Ajie Massaid. Bahkan Lili yang gak suka pakai S di akhir namanya itu ngotot memanggil tukang sopir tersebut dengan Massaid. Si sopir yang gak terima dipanggil Adjie marah besar. Ia terus menerangkan bahwa namanya Bowo,  profesinya memang  Sopir. Bukan seorang artis apalagi pemain sinetron.
Lili (S) malah semakin ngotot, masa bodoh kalau sopir itu Bowo atau siapa.
Baginya Sopir itu tetap Adjie Massaid yang sedang memerankan tokoh menjadi seorang sopir.
Kurang waras apa lagi coba si Lili gak pakai S tersebut...
Tokoh selanjutnya itu Mang Dirman. Kurir yang satu ini, meski lebih tua dari yang lain, kerjaannya lap meja terus, dari masuk pagi ngelap sampai masuk kantor besok lagi masih ngelap. Sayangnya si Kasep ngelapnya bukan pakai hati, tapi pakai lap kotor. Jadinya meja Lili, buang S bukan tambah bebas debu dan kinclong justru bertambah lipat debu dan kusam.
Belum lagi si OB, Kusmin yang selalu merasa dirinya dirasuki roh superhero. Pemandangan yang tak lagi aneh, setiap pagi sebelum masuk kantor segala jenis pot anti pecah berserakan di teras kantor.
Waktu itu si Lili (s) hampir korban gebukannya si Kusmin yang lagi kesurupan roh Shaolin. Untung saja, Lili cepat tanggap, segera menangkis serangan si Kusmin dengan sebelah tangan.
Dan begitu roh tersebut minggat, maka dengan cepat kilat ingatannya kembali. "Waduh? Kenapa terguling begitu?"( hal. 12)
Seterusnya ada si Kasep, Asep, eh Dasep maksudnya, seorang pembalap dikutuk. Karena cita-citanya gagal di tengah jalan, ia pun melampiaskan ambisi  tersebut untuk bekerja di TIKIL.
Kemampuan ngebutnya masih belum hilang sepenuhnya. Dengan modal motor milik perusahan, Dasep mengantar paket-paket kiriman dengan cepat. Ngebut! Sangking ngebutnya, banyak alamat rumah yang terlewat.
Sudah jelas, kiriman yang seharusnya sampai tepat waktu lagi-lagi telat.
Kemampuan lain si Dasep adalah nyebur di got, nyenggol becak, diserempet bibir truk, nyusruk di trotoar, atau nyangkut di empang.
Jadi, setiap hari akan ada penambahan benjolan area dahi dan sekitarnya. (Hal, 20-21)
Yang terakhir ada Saleh. Tidak terlalu menonjol di cerita ini lantaran ia memilih mengibarkan bendera putih setelah dua tahun menjabat sebagai bos TIKIL dan gak maju-maju. Belum lagi empat karyawan yang tingkat kewarasannya masih diragukan. .
Alhasil, tersebutlah Pak Priyadi sebagai bos baru yang menggantikan pak Saleh.
Pertemuan mereka pun tak lepas dari sesuatu yang menghebohkan.
Sebagai bos baru, tentu saja pak Priyadi ingin memberikan kejutan kecil-kecilan berupa sebuah rantangan nasi yang disambut hangat oleh ketiga karyawan.
Waktu itu si Kusmin tidak di tempat lantaran panggilan kemanusiaan dan dibawa pergi oleh mobil pemadam kebakaran.
Jadilah makan siang paling romantis bersama pimpinan baru, pak Priyadi.
Tak lama setelah memakan gule kambing pemberian bosnya tersebut, sebuah kejadian aneh terjadi. Lilis mulai mengambil ancang-ancang giliran pertama ke toilet. Menyusul Dasep dan Mang Dirman bergantian.
Perut mereka benar-benar dikuras habis. "Itu gule apa sayur penguras perut, ya?" (Lilis, Hal, 48)
Belakangan baru terbongkar bahwa di dalam gule kambing ada tambahan penyedap yang gak sengaja nyemplung sendiri, serbet kotor. Begitu tahu cerita sebenarnya, Lilis langsung muntah di tempat
"Hoek...!"
Dari awal membaca sinopsisnya saja aku sudah ngakak guling-guling. Sampai halaman terakhir kelar aku masih belum berhenti guling-guling. Eh, ngakak maksudnya.
Gokil, lucu abissss.
Seriusan. Kalau malam minggu sendirian, hujan, terus mojok di kamar, lampu remang-remang, sambil baca TIKIL. Dijamin, malam minggumu terselamatkan.
Yaa, meski pada akhirnya TIKIL gak jadi gulung tikar, tapi setidaknya si Lili (s) akhirnya bersatu dengan Adjie Massaid-KW alias si Bowo, sopir angkot putih bersetrip pink.
------------------------------------------------
Tapaktuan, 21 November 2018

0 komentar:

Posting Komentar