#Day1
Sudah begitu lama tak pernah lagi ke sini, tempat yang bikin deg-degan hanya dengan melihat postingan teman-teman. Tempat yang selalu dibuat rindu bahkan dengan jarak 12 jam lamanya.
Aku,
dengan segala kesibukanku, kemarin malam memutuskan untuk kembali. Ah
tidak, barangkali ini bukan saja sekadar rindu kian sesak, tapi juga
temu yang tak kunjung paut.
Apa kabarnya Nobita ya?
Well,
awal Desember ini aku sedikit banyak akan menulis tentang apa saja
selama aku di Banda Aceh, negerinya para penghafal Al-Quran. Allaahumma
aamiin...
Seperti sore
ini, sepulang bertandang ke salah satu kontrakan teman yang baru saja
berganti status ( sengaja gak mau sebutin nama, takut baper pembaca) di
daerah Peuniti, aku mampir di pinggir jalan menghadap ke masjid
Baiturrahman.
Kerinduan pertama yang membuat aku susah move on ke tempat lain adalah masjidnya.
Jujur,
kemana pun kalian pergi, selama itu di Aceh, tak perlu menjaga wudu
atau bahkan menjamak salat, sebab apa? Menemukan masjid saat ini di
Aceh, seperti menemukan jamur ketika selesai hujan. Buuanyak beud.
Aku pun tak tinggal diam, segera mungkin mengabadikan pemandangan senja di Masjid ureung Aceh tersebut dengan khidmat.
Orang-orang
lalu-lalang hanya melihatku dengan penuh tanya dan aku tak peduli.
Setelah puas mengambil beberapa lembar foto tersebut, aku pun pulang
dengan perasaan puas.
Bagiku,
sendiri sampai sekarang, bukanlah sebuah masalah besar. Yang perlu
digaris bawahi adalah, di mana pun kamu berada, identitas diri sebagai
orang Aceh harus tetap dijunjung tinggi mulai dari pakaiannya, sikapnya,
tuturnya bahkan gerak-geriknya. Kita boleh saja mengikuti perkembangan
zaman, tapi mempertahankan marwah ureung Aceh adalah yang paling utama.
![]() | |||||
| Simpang Mesra; Bank Bukopin Banda Aceh |
![]() |
| Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh |
Banda Aceh, 1 Desember 2018



0 komentar:
Posting Komentar