Apa yang kamu tahu tentang sebuah perjalanan?
Pulang atau jarak? Atau mungkin keduanya.
Hemmm...
Sudah tiga hari tiga jam Amor tak kunjung pulang. Si kucing belang kekuningan itu biasanya selalu hadir disaat-saat aku lagi bosan seperti ini. Tanpa diminta ia bahkan terus mengekor kemana pun aku pergi.
Ya, persis seperti anak ayam dan induknya.
Tapi tiga hari bukan lagi waktu yang cepat untuk sebuah penantian.
Dan lagi-lagi aku merasa ada yang aneh tentang ketidakpulangannya kali ini.
Biasanya Amor paling lama itu satu hari gak pulang, itu juga karena kepincut sama kucing betina di kampung seberang.
Tapi begitu esoknya, ia akan mengeong sepanjang hari, membututiku kemana saja, dan ia juga tak mengeluh meski aku tak memberinya makan seharian. Mungkin itu bagian dari caranya mengaku salah, barang kali.
Tapi ini sudah tiga hari lho. Aku sebagai majikan mana bisa berpangkutangan. Semua sudut sudah aku cari sampai ke sudut hati paling dalam, ia tak juga di sana.
Terus, lapor polisi?
Memangnya ada polisi gila yang mau mecahin kasus penculikan kucing yang tak ada manfaat sama sekali. Uh, buang-buang waktu saja.
Kali lain, aku memberanikan diri keluar mencari Amor. Nekat kekuarnya tepat malam Jum'at, biar terkesan horor. Tapi bukan kebetulan juga waktu itu juga hujan lebat.
Cuma bermodal payung lusuh, senter tangan yang cuma bisa menerangi jarak paling jauh semeter ke depan. Aku terus berjalan menulusuri jalan setapak, melewati ilalang liar setinggi lutut, hingga memasuki hutan, tak jauh dari rumah.
Duapuluh menit berlalu, entah sudah berapa jauh aku berjalan seorang diri. Malam sudah menggelitik sum-sum sejak tadi, sedang aku masih saja berjalan memanggil Amor.
"Meong...meong..."
Tiba-tiba, aku salah mengambil langkah. Hal selanjutnya terjadi aku terguling-guling ke bawah jurang, beberapa kali badanku terkena duri. Aku sama sekali tak peduli.
Amor... Amor...
Aku berusaha berdiri, memanggil kucing kesayangan yang tak kunjung pulang.
Tapi, ada yang aneh dengan penciumanku.
Kemenyan. Ya, aku mencium bau kemenyan dua meter dari tempat kuterjatuh.
Tapi, ada yang aneh dengan penciumanku.
Kemenyan. Ya, aku mencium bau kemenyan dua meter dari tempat kuterjatuh.
Amor... Amor...
Seekor kucing belang kekuningan berdarah. Sayup-sayup aku mendengar suara rintihan.
Aku merangkak sampai di tempat si kucing tersebut, kemenyan semakin nyengat.
Kabut menutupi tempat si kucing berdarah itu pekat.
Kabut menutupi tempat si kucing berdarah itu pekat.
"Bertahanlah Amor, aku akan menolongmu."
Tiba-tiba dari tempat si kucing, muncul seorang laki-laki dengan rambut putih tergerai, wajahnya tak jelas terlihat karena gelap. Begitu lemah, ia berbisik pelan sekali.
"Tolong... tolong aku, selamatkan aku, sakit."
Laki-laki tersebut tak lagi bergeming. Ia tertidur dalam pelukan. Tidak, ia pingsan.
Bagaimana aku bisa keluar dari hutan dengan keadaan seperti ini. Lagi, langit semakin gelap saja. Dan laki-laki di pangkuan juga tak sadarkan diri.
Aghhhhh...
![]() |
| Sumber 📸 : pamangoogle |

0 komentar:
Posting Komentar