Senin, 04 Februari 2019

Tentang Biru yang Memilih Pulang, dan Senja yang Memilih Menetap

Judul : Kata
Penulis : Rintik Sedu
Terbit : Gagasmedia, 2018
Tebal : 396 hal.

Nugraha mengajarkanku bahwa cinta tak melulu tentang seseorang yang kita butuhkan. Biru juga mengajarkanku sesuatu, tentang dua pendaki yang cuma mendaki sampai puncak gunung, tapi tidak bisa pulang bersama. Cinta tak perlu memiliki, karena ujung dari rasa sayang bukan kepemilikan, tapi keikhlasan. (Binta dalam Kata, 396)

Biru dan Binta, dua anak manusia yang saling jatuh cinta namun terpisahkan oleh jarak dan waktu.
Biru di Banda Neira dan Binta di Jakarta.

Binta, anak jurusan komunikasi yang paling sulit berkomunikasi dengan orang lain. Satu-satunya yang paling dekat dengan Binta hanya Cahyo. Seorang laki-laki satu jurusan dengan Binta yang punya hobi mendaki gunung, sama seperti Biru.

Tapi, pertahanan Binta goyah, kesabarannya benar-benar diuji saat Nugraha datang menambah warna lain di hidup Binta. Tidak hanya Jingga dan Biru.

Tak ada yang lebih sabar dari cintanya Binta kepada Biru, dan tak ada yang lebih ikhlas daripada cinta Nugraha kepada Binta.

Bayangin, bagaimana mencintai seseorang begitu dalam yang cintanya telah dicuri habis oleh orang lain; Biru.Tapi Nugraha mampu. Nug bahkan bisa melakukan apa saja untuk Binta, termasuk menceritakan masa putih-abunya bersama Sinta yang sudah dikubur Nug dalam-dalam.

Laki-laki mana yang sanggup mencintai sepenuh hati tanpa berharap dicintai balik. Bagi Nug, diizinkan oleh Binta untuk dicintai olehnya itu adalah keajaiban.
Kenyataannya, jangankan untuk dicintai Binta, izin untuk menjadi bayanganya saja tidak boleh.

Tapi, Tuhan Maha Baik. Dia membolakkan hati yang tak suka menjadi takut kehilangan, hal itu yang dialami Binta saat Nug memilih pergi setelah pelukan perpisahan yang dihangatkan Binta sehari sebelum keberangkatannya ke Aussie, Australia untuk melanjutkan S-2 di sana selama dua tahun, lantaran Nug adalah salah satu mahasiswa internasional di kampusnya.

Dan Biru, dia dengan kebesaran hati seluas samudra, dengan seluruh cinta yang dia besarkan selama limabelas tahun harus berakhir di Bandara, gate 5. Pada akhirnya, Biru memilih kembali ke Banda Neira seorang diri, tanpa Jani yang dia cintai seluas langit. Biru lupa, langit juga pernah menangis. Biru harus merelakan kekasih hatinya itu untuk menemukan kebahagiannya sendiri, dan Biru bukanlah kebahagian Jani yang selama ini dicari, tapi Nugraha.

Bagi Biru, selama masih bisa menulis puisi, selama itu pula Jani akan abadi di dalam hidupnya, di dalam dunia yang dia bangun sendiri ; Planet Biru.

Senjani, cuma Biru yang boleh memanggilnya demikian.

Nugraha, Biru dan Binta. Ketiganya saling membelakangi dan saling pergi. Mereka butuh kata untuk menjelaskan perasaan masing-masing.

Akan ada satu orang, yang membuatmu jatuh cinta tanpa sebab, tanpa alasan, juga tanpa pertanyaan. Akan ada satu orang, yang membuatmu belajar bahwa cinta bisa datang di waktu yang lama, di waktu yang singkat, juga di waktu yang tepat. (Binta, 395)

Semakin membaca KATA, aku justru semakin hilang katakata. Terlalu banyak yang harus dicari, terlalu banyak pula yang harus direlakan.

Ya, dari KATA aku menemukan sebuah alasan untuk terus melahap habis KATA.
Alasan kecilnya, aku mulai jatuh cinta kepada yang nulis KATA ini dan alasan lainnya karena dari KATA, aku bebas menjadi diri sendiri tanpa perlu khawatir menyakiti.

Ya, seperti Biru yang kehilangan warnanya ketika Senja menyapa.




0 komentar:

Posting Komentar